HOME  ⁄  Nasional

PMI Manufaktur Indonesia Tembus 54 pada Oktober 2026, Menperin Sebut Ekspansi Terkuat dalam 31 Bulan

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

PMI Manufaktur Indonesia Tembus 54 pada Oktober 2026, Menperin Sebut Ekspansi Terkuat dalam 31 Bulan
Foto: Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji memberi keterangan kepada awak media, usai kegiatan Sago Business Forum 2026, di Jakarta, Kamis 5/11/2026 (sumber: ANTARA/Harianto)

Pantau - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mengungkapkan bahwa Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia mencapai level 54 pada Oktober 2026, sekaligus mencatatkan ekspansi terkuat dalam 31 bulan terakhir.

Pernyataan tersebut disampaikan Sarmuji di sela-sela pembukaan Sago Business Forum 2026 yang berlangsung di Jakarta, Kamis (5/11/2026).

Menurut Sarmuji, capaian tersebut menunjukkan bahwa sektor industri manufaktur nasional berada dalam kondisi positif dan mencerminkan tingginya kepercayaan investor serta pelaku usaha terhadap prospek industri Indonesia.

"Kepercayaan investor, pelaku usaha khususnya industrialis kepada Indonesia saat ini sedang sangat baik. Jadi, narasi-narasi yang berkembang selama ini seolah-olah kita mengalami kemerosotan di sektor industri terbantahkan dengan data-data yang terakhir," ujar Sarmuji.

Berdasarkan data Standard & Poor's yang dipaparkannya, PMI manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 mencapai angka 54 dan menjadi ekspansi terkuat sejak Maret 2024.

Sarmuji menjelaskan bahwa PMI di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi, sedangkan angka di bawah 50 menandakan terjadinya kontraksi.

PMI Manufaktur Indonesia Lampaui Malaysia, Vietnam, dan China

Sarmuji menyebutkan bahwa capaian PMI manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 berada di atas sejumlah negara pembanding, termasuk Brasil, Malaysia, Vietnam, China, dan Australia.

Berdasarkan data yang dipaparkan, Malaysia mencatatkan PMI manufaktur sebesar 51, Vietnam 52,3, dan China 52, sementara Australia berada dalam fase kontraksi dengan angka 49.

Dengan capaian PMI sebesar 54, Indonesia menunjukkan aktivitas manufaktur yang lebih kuat dibandingkan sejumlah negara tersebut pada periode yang sama.

Menurut Sarmuji, perkembangan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa industri nasional masih memiliki daya saing dan prospek pertumbuhan yang positif.

Selain PMI manufaktur, pemerintah juga mencatat penguatan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang mencapai level 53,77.

"Selain itu ada juga data yang kita kumpulkan dalam bentuk indeks kepercayaan industri juga turut menguat, angkanya 53,77. Jadi mirip-mirip," kata Sarmuji.

Ia menilai penguatan PMI manufaktur dan IKI menjadi dua indikator yang saling mendukung dalam menggambarkan kondisi sektor industri nasional.

Penguatan kedua indikator tersebut juga mencerminkan optimisme pelaku usaha terhadap aktivitas produksi dan perkembangan industri Indonesia di tengah dinamika perekonomian global.

Pesanan Baru Industri Manufaktur Tumbuh Tercepat dalam Lima Tahun

Sarmuji menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas manufaktur nasional turut didorong oleh pertumbuhan pesanan baru yang mencapai laju tercepat dalam lima tahun terakhir.

Selain meningkatnya permintaan domestik, pesanan ekspor baru juga mengalami pertumbuhan dan disebut mencatatkan rekor tertinggi sepanjang pencatatan indikator tersebut.

Peningkatan pesanan baru menunjukkan adanya penguatan permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia, baik dari pasar dalam negeri maupun pasar internasional.

Menurut Sarmuji, perkembangan tersebut menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional sekaligus memperlihatkan bahwa kepercayaan investor dan pelaku industri terhadap Indonesia tetap terjaga.

Ia menegaskan bahwa berbagai indikator terbaru tersebut membantah pandangan yang menyebut sektor industri Indonesia sedang mengalami kemerosotan.

Sarmuji juga menyampaikan bahwa pertumbuhan sektor industri saat ini telah melampaui laju pertumbuhan ekonomi nasional.

Kinerja tersebut disebut menjadi salah satu pencapaian positif sektor industri dalam kurun waktu lebih dari sepuluh tahun terakhir.

Menperin mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memanfaatkan momentum penguatan industri guna meningkatkan kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian Indonesia.

Momentum tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, memperluas penciptaan lapangan kerja, serta meningkatkan kontribusi industri terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional secara berkelanjutan.

Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 6,77 Persen

Selain membahas kinerja manufaktur secara keseluruhan, Sarmuji menyoroti pertumbuhan industri makanan dan minuman yang mencapai 6,77 persen.

Pertumbuhan tersebut meningkat sebesar 0,8 poin persentase dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan penguatan kinerja industri makanan dan minuman sebagai salah satu subsektor penting dalam industri pengolahan nasional.

Industri makanan dan minuman juga memberikan kontribusi sebesar 41,80 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas pada 2026.

Besarnya kontribusi tersebut memperlihatkan peran strategis subsektor makanan dan minuman dalam menopang aktivitas industri pengolahan serta perekonomian nasional.

Selain pertumbuhan produksi dan kontribusi terhadap PDB, industri makanan dan minuman juga mencatatkan realisasi investasi yang cukup besar sepanjang semester pertama 2026.

Sarmuji mengungkapkan bahwa realisasi investasi pada subsektor tersebut mencapai Rp47,74 triliun selama enam bulan pertama 2026.

Dari total investasi tersebut, sebanyak 59 persen berasal dari penanaman modal dalam negeri.

Dominasi investasi domestik tersebut menunjukkan besarnya peran investor nasional dalam mendukung pengembangan industri makanan dan minuman Indonesia.

Sarmuji menilai pertumbuhan industri makanan dan minuman, kontribusinya terhadap PDB, serta realisasi investasi menjadi bagian dari indikator positif yang memperkuat prospek industri nasional.

Menperin Tegaskan Industri Indonesia dalam Kondisi Positif

Sarmuji menegaskan bahwa kondisi industri Indonesia perlu dinilai berdasarkan data ekonomi dan indikator kinerja terbaru, bukan semata-mata berdasarkan pandangan negatif mengenai perkembangan sektor manufaktur.

Menurutnya, penguatan PMI manufaktur, meningkatnya kepercayaan industri, serta pertumbuhan pesanan baru menjadi bukti bahwa aktivitas industri nasional terus menunjukkan perkembangan positif.

"Banyak hal lain yang bisa kita lihat sisi-sisi positif bahwa Indonesia sebenarnya lagi baik-baik saja. Kita dalam kondisi terang, tidak dalam kondisi gelap sebagaimana dinarasikan oleh sebagian orang," tegas Sarmuji.

Ia berharap momentum pertumbuhan tersebut dapat terus dijaga melalui penguatan aktivitas industri, peningkatan investasi, dan perluasan pasar bagi produk manufaktur Indonesia.

Dengan PMI manufaktur mencapai 54, IKI sebesar 53,77, pertumbuhan pesanan baru, serta penguatan industri makanan dan minuman, pemerintah optimistis sektor industri nasional memiliki peluang untuk terus meningkatkan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026