HOME  ⁄  Nasional

BBMKG Peringatkan Potensi Air Laut Pasang di Enam Wilayah Pesisir Bali pada 8–11 November 2026

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

BBMKG Peringatkan Potensi Air Laut Pasang di Enam Wilayah Pesisir Bali pada 8–11 November 2026
Foto: (Sumber :Arsip foto - Warga memancing di Pantai Purnama, Kabupaten Gianyar, Bali. ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna.)

Pantau - Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar mengeluarkan peringatan dini potensi air laut pasang maksimum di enam wilayah pesisir Bali pada 8–11 November 2026 akibat fenomena fase bulan baru.

Kepala BBMKG Wilayah III Denpasar Cahyo Nugroho meminta masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di kawasan pesisir meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan kenaikan permukaan air laut.

Fenomena tersebut diprakirakan terjadi seiring fase bulan baru pada Senin, 9 November 2026, yang dapat memengaruhi ketinggian pasang air laut.

“Potensi pasang air laut maksimum berbeda waktu hari dan jam di tiap wilayah,” kata Cahyo di Denpasar, Bali, Jumat (6/11/2026).

Enam Wilayah Pesisir Bali Berpotensi Terdampak Air Laut Pasang

Berdasarkan pemantauan data ketinggian air laut dan prediksi pasang surut, BBMKG mengidentifikasi enam kawasan pesisir Bali yang berpotensi mengalami pasang maksimum.

Wilayah tersebut meliputi pesisir selatan Kabupaten Jembrana dan pesisir selatan Kabupaten Tabanan.

Potensi serupa juga diprakirakan terjadi di pesisir Kabupaten Badung dan pesisir Kota Denpasar.

Selain itu, pesisir Kabupaten Gianyar dan pesisir selatan Kabupaten Klungkung termasuk dalam wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan.

BBMKG memperkirakan potensi pasang air laut berlangsung selama empat hari, mulai Minggu (8/11/2026) hingga Rabu (11/11/2026).

Namun, waktu terjadinya pasang maksimum tidak selalu bersamaan di seluruh wilayah tersebut.

Perbedaan kondisi pasang surut membuat masyarakat perlu memperhatikan informasi prakiraan sesuai lokasi masing-masing.

Fase Bulan Baru 9 November Picu Potensi Pasang Maksimum

BBMKG menjelaskan bahwa peningkatan potensi pasang air laut berkaitan dengan fenomena astronomis berupa fase bulan baru.

Fase bulan baru dijadwalkan berlangsung pada Senin (9/11/2026).

Pada fase tersebut, posisi relatif Matahari, Bulan, dan Bumi dapat memperkuat pengaruh gravitasi terhadap pasang surut air laut.

Kondisi itu berpotensi menyebabkan ketinggian pasang maksimum meningkat di sejumlah kawasan pesisir.

Meski demikian, besarnya kenaikan air laut dan waktu puncaknya dapat berbeda berdasarkan karakteristik masing-masing wilayah.

BBMKG menggunakan data pemantauan ketinggian air laut serta prediksi pasang surut untuk menentukan periode dan lokasi yang berpotensi terdampak.

Aktivitas Pelabuhan dan Permukiman Pesisir Berpotensi Terganggu

Cahyo menyampaikan bahwa peningkatan pasang air laut dapat memengaruhi sejumlah aktivitas masyarakat di wilayah pesisir Bali.

Salah satu sektor yang berpotensi terdampak adalah kegiatan bongkar muat barang di pelabuhan.

Kenaikan permukaan air laut juga dapat memengaruhi aktivitas masyarakat yang tinggal di kawasan permukiman pesisir.

Selain itu, kegiatan produksi garam di tambak berpotensi mengalami gangguan apabila terjadi peningkatan air laut.

Aktivitas perikanan darat juga termasuk sektor yang perlu mewaspadai perubahan kondisi perairan selama periode pasang maksimum.

Dampak yang terjadi dapat berbeda di setiap lokasi, bergantung pada ketinggian pasang dan kondisi kawasan pesisir.

Masyarakat Pesisir Bali Diminta Meningkatkan Kewaspadaan

BBMKG Wilayah III Denpasar mengimbau masyarakat agar memperhatikan potensi pasang air laut selama periode 8–11 November 2026.

Warga yang tinggal di kawasan pesisir perlu mewaspadai kemungkinan kenaikan permukaan air laut, terutama di wilayah yang telah disebutkan dalam prakiraan.

Pelaku kegiatan pelabuhan, perikanan, dan tambak garam juga perlu memperhatikan perubahan kondisi pasang surut saat menjalankan aktivitas.

Masyarakat dapat mengikuti pembaruan informasi cuaca maritim dan pasang surut dari BMKG untuk mengetahui perkembangan kondisi di wilayah masing-masing.

Peringatan tersebut merupakan langkah antisipasi terhadap potensi air laut pasang, bukan laporan bahwa seluruh wilayah pesisir Bali telah mengalami banjir rob.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026