
Pantau - Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) mengakui naskah kuno Bo' Sangaji Kai milik Kesultanan Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang memuat catatan sejarah letusan Gunung Tambora pada 1815, melalui penetapan dalam Register Regional Memory of the World Asia-Pacific (MoWCAP).
Pengakuan tersebut menempatkan naskah sejarah Kesultanan Bima sebagai bagian dari warisan dokumenter yang mendapat pengakuan di tingkat Asia-Pasifik.
Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan mengatakan Bo' Sangaji Kai merupakan kronik penting yang merekam berbagai peristiwa sejarah sejak abad ke-17 hingga abad ke-19.
"Naskah itu memuat pengetahuan mengenai pemerintahan hubungan antarkerajaan diplomasi perdagangan dan kehidupan sosial masyarakat. Salah satu nilai pentingnya adalah kesaksian mengenai letusan Gunung Tambora tahun 1815," ujar Ihwan dalam keterangannya di Mataram, Jumat (6/11/2026).
Naskah Bo' Sangaji Kai Rekam Letusan Gunung Tambora 1815
Bo' Sangaji Kai merupakan naskah kronik Kesultanan Bima yang menyimpan catatan mengenai kehidupan masyarakat dan perkembangan pemerintahan selama sekitar tiga abad.
Salah satu bagian penting dalam naskah tersebut adalah kesaksian mengenai letusan Gunung Tambora pada 1815 yang berdampak terhadap perubahan iklim dalam skala global.
Menurut Ihwan, catatan tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana masyarakat setempat mengalami dan memahami peristiwa letusan gunung berapi tersebut.
Kesaksian dalam naskah itu menjadi sumber sejarah yang dapat digunakan untuk mempelajari dampak letusan Tambora dari sudut pandang masyarakat Bima.
Selain merekam bencana alam, Bo' Sangaji Kai juga mencatat hubungan Kesultanan Bima dengan berbagai kerajaan dan jaringan perdagangan di kawasan Asia Tenggara.
Catatan Kesultanan Bima Memuat Sejarah Politik hingga Hak Perempuan
Ihwan menjelaskan bahwa nilai sejarah Bo' Sangaji Kai tidak terbatas pada catatan letusan Gunung Tambora.
Naskah tersebut juga menyimpan informasi mengenai pemerintahan, diplomasi, perdagangan, hukum, dan kehidupan sosial masyarakat Kesultanan Bima.
Sejumlah bagian naskah memuat catatan mengenai penguasa perempuan serta perlindungan hukum bagi perempuan pada masa kerajaan.
Kandungan informasi tersebut menjadikan Bo' Sangaji Kai sebagai sumber primer untuk penelitian sejarah sosial, politik, hukum, dan kebudayaan.
"Melalui naskah itu, sejarah NTB dapat dipelajari sebagai bagian dari hubungan antarmasyarakat dan perkembangan pengetahuan yang melampaui batas wilayah," kata Ihwan.
Pengakuan UNESCO diharapkan memperluas perhatian terhadap pentingnya pelestarian naskah agar kandungan pengetahuannya tetap dapat dipelajari generasi mendatang.
Pengakuan UNESCO Melibatkan Perpustakaan Nasional dan Museum Sampa Radja
Pengajuan Bo' Sangaji Kai ke daftar warisan dokumenter regional UNESCO dilakukan melalui kerja sama sejumlah lembaga.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Yayasan Museum Sampa Radja, dan Pemerintah Provinsi NTB terlibat dalam proses pengusulan tersebut.
Kolaborasi ini menghubungkan koleksi sejarah daerah dengan mekanisme penilaian warisan dokumenter di tingkat internasional.
Ihwan menegaskan bahwa pengajuan naskah daerah ke forum internasional memerlukan koordinasi dan kerja sama lintas lembaga.
Dinas Kebudayaan NTB berharap pengakuan tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga naskah sejarah.
Keterlibatan generasi muda juga diharapkan semakin meningkat dalam upaya mengenali, mempelajari, dan melestarikan warisan budaya daerah.
Gubernur NTB Dorong Pengembangan Wisata Edukasi Sejarah Tambora
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan pengakuan UNESCO membuka peluang untuk memperluas kerja sama dengan berbagai lembaga pendidikan dan kebudayaan.
Kerja sama tersebut dapat melibatkan perpustakaan, museum, pusat kajian, dan perguruan tinggi di kawasan Asia-Pasifik maupun wilayah lainnya.
Menurut Iqbal, pengakuan internasional terhadap Bo' Sangaji Kai juga dapat mendukung pengembangan wisata edukasi berbasis sejarah Kesultanan Bima dan Gunung Tambora.
Pengembangan tersebut dapat menghubungkan Museum Sampa Radja dengan berbagai sumber pengetahuan mengenai sejarah Bima dan peristiwa letusan Tambora.
Iqbal juga mendorong pemanfaatan kandungan naskah sebagai materi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan.
"Dari Bima, warisan pengetahuan Bo' Sangaji Kai menjangkau masyarakat yang lebih luas dan membawa pesan bahwa NTB memiliki akar sejarah serta tradisi intelektual yang bernilai bagi Indonesia dan dunia," pungkas Iqbal.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




