
Pantau - Tim Satuan Komando Penyelam dan Penyelamatan Bawah Air Koarmada I (Satkoppeba Koarmada I) TNI Angkatan Laut berhasil menemukan kotak hitam atau Flight Data Recorder (FDR) serta bagian ekor helikopter Mi-17V5 milik Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Puspenerbad) yang jatuh di Kalimantan Tengah.
Penemuan tersebut dilakukan melalui operasi pencarian bawah air di perairan Kuala Pembuang, Desa Sungai Perlu, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah.
Berdasarkan keterangan resmi Penerangan Koarmada I yang diterima di Jakarta pada Sabtu, penemuan kotak hitam menjadi bagian penting dalam upaya mengungkap penyebab kecelakaan helikopter yang menewaskan tiga prajurit TNI Angkatan Darat tersebut.
Kotak hitam yang ditemukan tim penyelam selanjutnya diserahkan kepada Tim Investigasi Puspenerbad untuk menjalani pemeriksaan dan analisis data penerbangan.
"Selanjutnya, FDR diserahkan kepada Tim Investigasi Puspenerbad untuk mendukung proses penyelidikan lebih lanjut terkait kecelakaan helikopter tersebut," demikian keterangan resmi Penerangan Koarmada I.
Tim Penyelam TNI AL Temukan Kotak Hitam dan Ekor Helikopter
Operasi pencarian yang dilaksanakan Satkoppeba Koarmada I difokuskan pada penemuan perangkat perekam data penerbangan helikopter Mi-17V5 yang mengalami kecelakaan saat menjalankan tugas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Tim penyelam TNI Angkatan Laut melakukan pencarian bawah air di sekitar lokasi jatuhnya helikopter di perairan Desa Sungai Perlu, Kabupaten Seruyan.
Dalam operasi tersebut, petugas berhasil menemukan FDR beserta bagian ekor helikopter yang berada di lokasi kecelakaan.
FDR merupakan perangkat yang berfungsi merekam berbagai parameter penerbangan sehingga dapat membantu penyidik menganalisis kondisi pesawat sebelum kecelakaan terjadi.
Data yang tersimpan dalam perangkat tersebut diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kondisi penerbangan serta kemungkinan faktor yang menyebabkan helikopter jatuh.
Selain kotak hitam, bagian ekor helikopter yang ditemukan juga menjadi salah satu hasil penting dalam operasi pencarian bawah air.
Keterlibatan Satkoppeba Koarmada I merupakan bentuk dukungan lintas matra TNI dalam penanganan kecelakaan pesawat milik TNI Angkatan Darat.
Helikopter Jatuh Saat Mengambil Air untuk Pemadaman Karhutla
Helikopter Mi-17V5 milik Puspenerbad mengalami kecelakaan pada Rabu, 4 November 2026, ketika menjalankan misi penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah.
Helikopter tersebut sebelumnya lepas landas dari Kuala Pembuang sekitar pukul 09.55 WIB untuk mendukung operasi pemadaman kebakaran di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).
Dalam misi tersebut, helikopter digunakan untuk melakukan pemadaman kebakaran dari udara melalui metode water bombing atau pengeboman air.
Saat menjalankan operasi, helikopter melakukan pengambilan air di perairan Desa Sungai Perlu, Kabupaten Seruyan, untuk digunakan dalam pemadaman kebakaran hutan dan lahan.
Namun, ketika sedang mengambil air, helikopter dilaporkan mengalami kendala penerbangan hingga akhirnya jatuh ke perairan.
Kecelakaan tersebut melibatkan delapan personel TNI Angkatan Darat yang berada di dalam helikopter.
Sesaat setelah kejadian, TNI Angkatan Darat segera mengerahkan personel untuk melaksanakan operasi penyelamatan dan evakuasi terhadap seluruh kru.
Proses evakuasi dilakukan melalui jalur udara dengan mengutamakan kecepatan penanganan agar para korban dapat segera memperoleh pertolongan.
"Upaya penyelamatan tersebut diprioritaskan untuk memastikan seluruh personel mendapatkan pertolongan secepatnya," demikian pernyataan resmi TNI Angkatan Darat.
Tiga Prajurit TNI AD Gugur, Lima Kru Selamat
Kecelakaan helikopter Mi-17V5 tersebut mengakibatkan tiga prajurit TNI Angkatan Darat gugur ketika menjalankan tugas penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Ketiga prajurit yang gugur adalah Letkol Cpn (Anumerta) Dudi Firmansyah, Kapten Cpn (Anumerta) Nurhafiz Akbar, dan Sertu (Anumerta) Heri Prasetyo.
Sementara itu, lima personel lainnya berhasil selamat dari kecelakaan tersebut.
Kelima personel yang selamat adalah Kapten Cpn Febri, Letda Cpn Fercis, Pratu Gilang, Serka Kadiya, dan Kapten Cpn Suganda.
Dengan demikian, dari delapan personel yang berada di dalam helikopter saat kecelakaan terjadi, tiga orang dinyatakan gugur dan lima lainnya selamat.
Kecelakaan tersebut terjadi ketika para prajurit tengah menjalankan misi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan yang membutuhkan dukungan penerbangan untuk pemadaman dari udara.
Kotak Hitam Diserahkan ke Tim Investigasi Puspenerbad
Setelah berhasil ditemukan oleh tim penyelam TNI Angkatan Laut, kotak hitam helikopter Mi-17V5 diserahkan kepada Tim Investigasi Puspenerbad untuk diperiksa lebih lanjut.
Pemeriksaan FDR akan difokuskan pada analisis data penerbangan yang terekam sebelum helikopter mengalami kecelakaan.
Informasi tersebut diharapkan dapat membantu tim investigasi menelusuri faktor-faktor yang menyebabkan helikopter kehilangan kendali hingga jatuh ke perairan.
Hingga keterangan resmi disampaikan, penyebab pasti kecelakaan helikopter Mi-17V5 belum diumumkan.
Oleh karena itu, hasil pemeriksaan kotak hitam masih diperlukan untuk mendukung proses penyelidikan dan penentuan penyebab kecelakaan.
Penemuan FDR dan bagian ekor helikopter oleh Satkoppeba Koarmada I menjadi perkembangan dalam investigasi kecelakaan yang menewaskan tiga prajurit TNI Angkatan Darat tersebut.
Proses penyelidikan selanjutnya dilakukan oleh Tim Investigasi Puspenerbad untuk memastikan penyebab jatuhnya helikopter saat menjalankan misi penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah.
- Penulis :
- Shila Glorya




