
Pantau - Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko menegaskan bahwa penerapan aplikasi Interpol Global Hit Alert System (I-GHAS 24/7) yang terhubung dengan 196 negara anggota Interpol dapat mempercepat dan meningkatkan akurasi pendeteksian buronan internasional di pintu perlintasan Indonesia.
Hendarsam menyampaikan bahwa penguatan pengawasan perbatasan melalui teknologi terintegrasi menjadi langkah penting untuk mencegah masuknya pelaku kejahatan transnasional ke wilayah Indonesia.
Aplikasi I-GHAS 24/7 merupakan inisiatif Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Polri yang dikembangkan bersama Direktorat Jenderal Imigrasi untuk memperkuat sistem pengawasan perlintasan internasional.
"Inisiasi dari Divhubinter Polri untuk membuat I-GHAS 24/7, kami sambut dengan sangat baik. Bagaimana sebenarnya kolaborasi komunikasi yang telah terjalin, terutama di daerah-daerah perlintasan, akan terhubung melalui suatu sistem yang benar-benar lebih tepat, lebih cepat, lebih akurat," ujar Hendarsam dalam keterangannya di Bandung, Sabtu (7/11/2026).
Sistem I-GHAS 24/7 Percepat Identifikasi Buronan di Perbatasan
Aplikasi I-GHAS 24/7 resmi diluncurkan pada 5 November 2026 di Gedung Rupattama Mabes Polri bersama Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto dan Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri Irjen Pol Untung Widyamoko.
Sistem tersebut memungkinkan petugas imigrasi melakukan verifikasi identitas secara lebih cepat terhadap individu yang terindikasi masuk dalam daftar buronan internasional di 196 negara anggota Interpol.
Melalui integrasi teknologi tersebut, petugas di pintu perlintasan dapat terhubung langsung dengan Divhubinter Polri untuk mempercepat pertukaran informasi, pemeriksaan data, serta koordinasi penanganan buronan internasional.
Penguatan sistem peringatan dini ini juga ditujukan untuk mendeteksi individu yang menjadi perhatian aparat penegak hukum internasional sebelum memasuki atau melintasi wilayah Indonesia.
Hendarsam menilai kolaborasi antara Polri dan Ditjen Imigrasi mencerminkan kesamaan visi kedua institusi dalam memberikan pelayanan sekaligus perlindungan kepada masyarakat.
"Komitmen kami bersama, bagaimana kita mempunyai doktrin yang sama, berorientasi yang sama: Imigrasi untuk rakyat, polisi untuk masyarakat," ujar Hendarsam.
Meski pengawasan terhadap lalu lintas orang di kawasan perbatasan semakin diperketat, Hendarsam memastikan pelayanan keimigrasian tetap menjadi prioritas.
"Melalui integrasi data ini, Imigrasi dan Polri berupaya memperketat pengawasan lalu lintas orang di perbatasan tentunya tanpa mengesampingkan kelancaran pelayanan keimigrasian bagi masyarakat," katanya.
Kapolri Soroti Ancaman Perdagangan Orang dan Penyelundupan Narkotika
Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi dalam pengawasan perbatasan semakin dibutuhkan untuk menghadapi kejahatan transnasional yang melibatkan jaringan pelaku di berbagai negara.
Sejumlah tindak pidana yang menjadi perhatian dalam penguatan pengawasan tersebut antara lain tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan penyelundupan narkotika.
Menurut Suyudi, penerapan I-GHAS 24/7 menjadi terobosan dalam memperkuat koordinasi antara kepolisian dan petugas imigrasi untuk mengawasi pergerakan buronan internasional maupun pelaku kejahatan lintas negara.
"Ini adalah terobosan yang dilakukan secara kolaboratif antara Polri dan Imigrasi Indonesia. Tentunya ini untuk memperkuat pengawasan buronan internasional dan juga pelaku lintas negara di pintu perlintasan Indonesia," kata Suyudi.
Penggunaan aplikasi tersebut memungkinkan proses pertukaran informasi dan verifikasi data dilakukan secara lebih cepat sehingga koordinasi penanganan individu yang terindikasi terlibat kejahatan lintas negara dapat ditingkatkan.
Teknologi Kecerdasan Buatan dan Biometrik Ditargetkan Terintegrasi pada 2027
Polri dan Ditjen Imigrasi juga merencanakan pengembangan lanjutan aplikasi I-GHAS 24/7 melalui integrasi teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta pemaduan data biometrik pada 2027.
Pengembangan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan sistem dalam mengidentifikasi individu, mempercepat pendeteksian buronan internasional, serta memperkuat pengawasan keamanan di pintu perlintasan negara.
Pemanfaatan teknologi AI dan biometrik diharapkan dapat mendukung petugas dalam melakukan pemeriksaan identitas secara lebih akurat melalui sistem informasi yang terintegrasi.
Kerja sama Polri dan Ditjen Imigrasi melalui I-GHAS 24/7 menjadi bagian dari upaya memperkuat keamanan perbatasan, meningkatkan efektivitas penanganan kejahatan transnasional, sekaligus menjaga kelancaran pelayanan keimigrasian bagi masyarakat.
- Penulis :
- Shila Glorya




