
Pantau - Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana, mengapresiasi pengakuan UNESCO terhadap Kidung Bhuwana Winasa, karya kawi-wiku Ida Pedanda Ngurah, sebagai bagian dari Memory of the World Committee for Asia and the Pacific (MoWCAP).
Pengakuan tersebut ditetapkan dalam Pertemuan Umum Ke-11 MoWCAP yang berlangsung di Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Kidung Bhuwana Winasa menjadi salah satu dari dua naskah Nusantara yang memperoleh pengakuan tersebut bersama Bo’ Sangaji Kai, catatan sejarah Kerajaan Bima yang antara lain merekam erupsi Gunung Tambora pada 1815.
Ari Dwipayana menyampaikan rasa bangga sekaligus penghargaan kepada seluruh pihak yang telah memperjuangkan pengakuan internasional terhadap warisan sastra Nusantara tersebut.
“Pengakuan UNESCO bukan sekadar penghargaan terhadap sebuah manuskrip kuno, melainkan pengakuan dunia terhadap ingatan sejarah, kedalaman intelektual, dan kejujuran para leluhur kita dalam merekam perjalanan peradaban,” ujar Ari Dwipayana.
Kidung Bhuwana Winasa Rekam Sejarah Kelam Bali dan Lombok
Ari Dwipayana menilai keistimewaan Kidung Bhuwana Winasa terletak pada keberanian pengarangnya dalam merekam perjalanan sejarah tanpa selalu menonjolkan kisah kepahlawanan dan kejayaan.
Menurut dia, karya sastra tersebut justru menggambarkan kenyataan pahit, kelam, dan suram yang pernah dialami kerajaan-kerajaan Bali dan Lombok.
Catatan mengenai kehancuran dan konflik masa lalu dinilainya memiliki nilai penting sebagai sumber pembelajaran bagi generasi berikutnya.
“Barangkali kepada kehancuran kita justru lebih banyak berguru dibandingkan kepada kejayaan. Sebab, kejayaan sering membuat manusia lupa diri, sedangkan kehancuran mengingatkan manusia pada keterbatasan, kesalahan, dan akibat dari pilihan-pilihan yang diambilnya,” ungkap Ari Dwipayana.
Ia juga menekankan bahwa pengakuan UNESCO terhadap Kidung Bhuwana Winasa memiliki makna kemanusiaan yang melampaui kepentingan sejarah lokal Bali.
Peperangan yang melibatkan kerajaan-kerajaan Bali, Lombok, dan kekuatan kolonial Belanda telah meninggalkan penderitaan mendalam dalam perjalanan sejarah kawasan tersebut.
Ari menilai tragedi itu perlu terus dikenang bukan untuk mewariskan kebencian, melainkan untuk membangun kesadaran mengenai pentingnya perdamaian.
Yayasan Puri Kauhan Ubud Dorong Pelestarian Naskah
Ari Dwipayana berharap pengakuan UNESCO tidak menjadikan Kidung Bhuwana Winasa sekadar manuskrip berstatus internasional tanpa upaya pelestarian lanjutan.
Ia mendorong agar naskah tersebut terus dihidupkan melalui penelitian, transliterasi, penerjemahan, pendidikan sejarah, serta pengembangan karya seni dan kebudayaan.
Menurut dia, tradisi sastra perlu dijaga sebagai sumber pengetahuan dan kebijaksanaan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
“Tanpa Kidung Bhuwana Winasa karya kawi-wiku Ida Pedanda Ngurah, kita mungkin akan mengalami amnesia sejarah. Kita bisa saja terus membanggakan kejayaan masa lalu, tetapi melupakan kesalahan, perpecahan, dan kehancuran yang pernah dialami para leluhur,” katanya.
Sebelum memperoleh pengakuan UNESCO, Yayasan Puri Kauhan Ubud telah memberikan penghormatan kepada Ida Pedanda Ngurah melalui penganugerahan Sastra Saraswati Sewana Nugraha pada 2024.
Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi yayasan terhadap karya sastra yang dihasilkan Ida Pedanda Ngurah.
Pengakuan UNESCO Jadi Momentum Merawat Ingatan Sejarah
Ari Dwipayana menyampaikan terima kasih kepada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Badung, Grya Agung Mandara Pemaron, serta Grya Gede Belayu.
Ia juga mengapresiasi seluruh pihak yang telah bekerja keras memperjuangkan pengakuan internasional terhadap Kidung Bhuwana Winasa.
Menurut Ari, pengakuan UNESCO harus menjadi momentum untuk membangun kesadaran bahwa Bali tidak hanya perlu menjaga keindahan alam dan keluhuran budayanya.
Bali juga perlu merawat ingatan sejarah agar kesalahan dan perpecahan yang pernah terjadi pada masa lalu tidak kembali terulang.
Ia menegaskan bahwa pengalaman sejarah mengenai kehancuran dapat menjadi pelajaran penting untuk memperkuat persatuan dan kemanusiaan.
“Dari Bhuwana Winasa, dari dunia yang pernah mengalami kehancuran, kita belajar tentang pentingnya persatuan, kemanusiaan, dan perdamaian. Itulah warisan kebijaksanaan yang harus kita teruskan kepada generasi mendatang,” kata Ari Dwipayana.
- Penulis :
- Gerry Eka




