
Pantau - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, memetakan sebanyak 17 desa berpotensi mengalami kekeringan ekstrem pada musim kemarau 2026 dengan sekitar 15.789 kepala keluarga berisiko terdampak kekurangan air bersih.
Data tersebut diperoleh berdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan BPBD Bangkalan serta laporan dari para kepala desa di wilayah terdampak.
Sebanyak 17 desa rawan kekeringan ekstrem tersebar di tiga kecamatan, yakni lima desa di Kecamatan Konang, enam desa di Kecamatan Geger, dan enam desa di Kecamatan Kokop.
Selain itu, terdapat 10 desa lain yang juga berpotensi mengalami kekeringan selama musim kemarau tahun ini.
Namun, tingkat kekeringan di 10 desa tersebut diperkirakan tidak separah 17 desa prioritas karena masih memiliki sumber air dari sumur warga.
Berdasarkan data BPBD Bangkalan, sekitar 15.789 kepala keluarga berpotensi mengalami kekurangan air bersih akibat dampak musim kemarau.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah mengingat kebutuhan air bersih masyarakat diperkirakan meningkat seiring berkurangnya ketersediaan sumber air di sejumlah wilayah.
Kepala Pelaksana BPBD Bangkalan M Zainul Qomar mengatakan potensi kekeringan tahun ini telah dipetakan sehingga langkah antisipasi dapat dilakukan lebih awal.
Ia menegaskan pemetaan wilayah rawan menjadi dasar dalam penyusunan strategi penanganan dan distribusi bantuan air bersih kepada masyarakat.
Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, BPBD Bangkalan telah menyiapkan cadangan awal sebanyak 300.000 liter air bersih.
Air bersih tersebut akan didistribusikan secara bertahap ke desa-desa yang membutuhkan sesuai tingkat kebutuhan di lapangan.
Mekanisme penyaluran bantuan diawali dengan laporan warga kepada aparat desa terkait kondisi kekurangan air bersih.
Selanjutnya, pemerintah desa mengajukan permohonan bantuan kepada BPBD Bangkalan untuk ditindaklanjuti.
Setelah permohonan diterima, BPBD akan menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah yang terdampak kekeringan.
- Penulis :
- Gerry Eka





