HOME  ⁄  News

Cuaca Ekstrem Dorong Penguatan Kerja Sama Iklim antara China dan Uni Eropa

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Cuaca Ekstrem Dorong Penguatan Kerja Sama Iklim antara China dan Uni Eropa
Foto: Eropa Barat pada tahun ini mengalami bulan Juni terpanas yang pernah tercatat, seiring gelombang panas yang menyengat merenggut nyawa, mengganggu pasokan listrik, serta meningkatkan permintaan terhadap produk pendingin di seluruh kawasan tersebut, menegaskan urgensi bagi Eropa untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim yang ditandai dengan semakin sering dan parahnya kejadian cuaca ekstrem.

Pantau - Cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi dinilai mempertegas pentingnya penguatan kerja sama iklim antara China dan Uni Eropa (UE) untuk mendorong tata kelola iklim global, mempercepat transisi hijau, dan menghadapi dampak perubahan iklim secara bersama.

Pakar Soroti Pentingnya Kolaborasi Global

Gelombang panas yang melanda sejumlah wilayah Eropa dengan suhu melampaui 40 derajat Celsius telah memicu peningkatan angka kematian terkait panas serta mendorong permintaan terhadap berbagai solusi adaptasi iklim, termasuk pendingin udara buatan China.

Para ilmuwan menyebut fenomena tersebut dipengaruhi sistem tekanan tinggi heat dome, sementara perubahan iklim membuat cuaca ekstrem menjadi lebih sering dan semakin intens.

Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) juga memperingatkan penguatan El Niño berpotensi meningkatkan gelombang panas, kekeringan, hujan lebat, dan berbagai cuaca ekstrem di banyak wilayah dunia dalam beberapa bulan mendatang.

"Meningkatnya jumlah korban akibat cuaca ekstrem memberikan pesan yang jelas: ketika bencana melanda, perbatasan negara tidak memberikan perlindungan," ungkap Profesor Fakultas Pemerintahan Beijing Normal University, Wang Lei.

Wang menilai China dan Uni Eropa kini berperan sebagai kekuatan penstabil dalam tata kelola iklim global, terutama di tengah tantangan terhadap komitmen iklim multilateral.

Transisi Hijau Jadi Fokus Bersama

Ketua Grantham Research Institute on Climate Change and the Environment di London School of Economics, Nicholas Stern, mengatakan China dan Uni Eropa perlu memperkuat kepemimpinan dalam tata kelola iklim global melalui peningkatan investasi menuju ekonomi rendah emisi dan tangguh terhadap perubahan iklim.

Ia juga menekankan pentingnya memperluas kapasitas pembiayaan bank pembangunan multilateral agar negara berkembang dapat memanfaatkan peluang investasi dalam transisi hijau.

"Mendorong lebih lanjut Kemitraan Hijau China-UE akan sejalan dengan kepentingan masyarakat di kedua belah pihak sekaligus menawarkan harapan baru bagi pembangunan berkelanjutan global," ujar Wakil Direktur Institut Netralitas Karbon Universitas Peking, Zhang Haibin.

Zhang menambahkan tantangan berikutnya adalah menghilangkan hambatan kebijakan dan teknologi agar komitmen kedua pihak dapat diwujudkan dalam proyek-proyek konkret.

Lektor Kepala Institut Perubahan Iklim dan Pembangunan Berkelanjutan Universitas Tsinghua, Hu Bin, menyebut China dan Uni Eropa memiliki pendekatan berbeda dalam pembangunan rendah karbon, namun keduanya memiliki peluang besar untuk memperkuat kerja sama di bidang standar rendah karbon, energi hidrogen, dan penyimpanan energi.

Penulis :
Gerry Eka