
Pantau - Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyampaikan apresiasi Indonesia terhadap kepemimpinan Antonio Guterres menjelang berakhirnya masa jabatan sebagai Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 31 Desember 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan Sugiono dalam pernyataan nasional Indonesia pada Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, Sabtu (26/9/2026) waktu setempat, yang disiarkan secara langsung melalui UN Web TV.
“Sekjen Antonio Guterres telah memimpin organisasi melalui masa yang sangat menantang: Perang dan ketegangan geopolitik, pandemi global, darurat kemanusiaan, dan transformasi teknologi yang cepat,” kata Sugiono.
“Indonesia menyatakan apresiasi atas kepemimpinan dan bakti beliau sepanjang satu dekade terakhir,” tambahnya.
Sugiono mengatakan sistem multilateral yang efektif memerlukan kepemimpinan yang efektif untuk menjalankan fungsinya.
Indonesia Soroti Filosofi Kepemimpinan
Sugiono kemudian menyampaikan filosofi kepemimpinan Indonesia yang diwariskan leluhur, yakni kemampuan memimpin dengan teladan dari depan, membangun kepercayaan ketika berada di tengah, dan memberdayakan dari belakang.
“Kepemimpinan bukan berarti memberi perintah semata, tetapi juga menjaga kebijaksanaan dan memberi kekuatan bagi semua untuk maju,” ujarnya.
Indonesia menilai Guterres telah menjaga PBB sebagai wadah penting bagi dialog dan penyelesaian masalah secara kolektif di tengah berbagai tantangan global.
Sugiono mengatakan Sekjen PBB berikutnya memiliki tanggung jawab untuk menegakkan Piagam PBB, memperkuat organisasi, serta memastikan multilateralisme memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kepemimpinan yang efektif juga harus diiringi dengan komitmen penuh negara-negara anggotanya untuk membuat multilateralisme berjalan baik,” tuturnya.
Pemilihan Sekjen PBB Baru Berjalan
Masa jabatan Guterres sebagai Sekjen PBB dijadwalkan berakhir pada 31 Desember 2026, sementara penggantinya akan mulai menjabat pada 1 Januari 2027.
Proses pemilihan Sekjen PBB berikutnya telah berjalan di Dewan Keamanan PBB, dengan jajak pendapat informal ketiga terhadap para kandidat digelar pada 18 September 2026.
Berdasarkan Pasal 97 Piagam PBB, Sekretaris Jenderal diangkat oleh Majelis Umum berdasarkan rekomendasi Dewan Keamanan.
Tujuh kandidat yang disebut masih mengikuti proses tersebut adalah Carolyn Rodrigues Birkett yang dinominasikan Guyana, Rebeca Grynspan Mayufis oleh Kosta Rika, María Fernanda Espinosa Garcés oleh Antigua dan Barbuda, Ivonne A-Baki oleh Tonga, Rafael Mariano Grossi oleh Argentina, Macky Sall oleh Burundi, serta Olara Otunnu oleh Uganda.
- Penulis :
- Gerry Eka




