HOME  ⁄  News

Serangan Houthi ke Bandara Riyadh Tewaskan 12 Orang dan Lukai 309, Arab Saudi Siapkan Balasan Militer

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Serangan Houthi ke Bandara Riyadh Tewaskan 12 Orang dan Lukai 309, Arab Saudi Siapkan Balasan Militer
Foto: Asap tebal naik di dekat Bandara Internasional King Khalid di timur laut Riyadh, Arab Saudi, Sabtu (19/9/2026).

Pantau - Serangan kelompok Houthi terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu (10/10/2026) menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai 309 lainnya, sementara koalisi militer pimpinan Arab Saudi menyatakan akan memberikan respons atas serangan tersebut.

Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi melaporkan bahwa serangan itu merupakan serangan ketiga Houthi terhadap bandara internasional Riyadh dalam sepekan terakhir.

Insiden tersebut menyebabkan operasional bandara dihentikan sementara dan seluruh penerbangan dari Riyadh dialihkan.

Sejumlah korban dilaporkan berada dalam kondisi kritis, sedangkan rumah sakit di Riyadh menerima banyak pasien yang dievakuasi menggunakan ambulans dan helikopter.

Korban Serangan Houthi Berasal dari Delapan Negara

Berdasarkan keterangan otoritas penerbangan sipil Arab Saudi, sebanyak 12 orang meninggal dunia akibat serangan tersebut.

Korban tewas terdiri atas empat warga negara Arab Saudi dan dua warga Bangladesh.

Enam korban lainnya masing-masing merupakan warga Amerika Serikat, Yordania, Palestina, Suriah, Sudan, dan Mesir.

Selain korban meninggal, sebanyak 309 orang dilaporkan mengalami luka-luka.

Rumah sakit di Riyadh dipenuhi korban yang dibawa menggunakan ambulans dan helikopter setelah serangan terjadi.

Menurut sumber yang mengetahui situasi tersebut, sejumlah korban mengalami luka serius dan berada dalam kondisi kritis.

Serangan itu disebut sebagai insiden paling mematikan di Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade.

Saksi Mata Ungkap Ledakan dan Plafon Bandara Runtuh

Serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid dilaporkan terjadi tanpa peringatan sebelumnya.

Sistem peringatan ancaman Arab Saudi disebut tidak mengeluarkan peringatan menjelang insiden tersebut.

Seorang saksi mata di bandara mengatakan melihat ledakan sebelum menemukan sejumlah orang tergeletak dalam kondisi terluka di dalam fasilitas penerbangan.

Puluhan ambulans kemudian terlihat bergerak menuju lokasi untuk mengevakuasi korban.

Seorang penumpang yang terluka juga mengaku melihat sesuatu melintas di langit sebelum sebagian plafon di dekat gerbang keberangkatan runtuh.

Dua serangan Houthi sebelumnya terhadap bandara yang sama dilaporkan telah menewaskan empat orang dan menyebabkan kerusakan parah pada sebuah pesawat komersial Arab Saudi.

Dengan demikian, serangan terbaru menjadi insiden ketiga yang menyasar bandara tersebut dalam kurun waktu satu pekan.

Seluruh Penerbangan Riyadh Dialihkan dan Bandara Ditutup Sementara

Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi menyatakan operasional Bandara Internasional King Khalid dihentikan sementara setelah serangan.

Seluruh penerbangan dari Riyadh dialihkan sebagai langkah penanganan gangguan operasional.

Data situs pelacak penerbangan Flightradar24 juga menunjukkan penerbangan menuju Riyadh dialihkan atau dibatalkan.

Sejumlah maskapai sebelumnya telah menangguhkan maupun membatalkan penerbangan ke ibu kota Arab Saudi setelah serangan Houthi pada Kamis dan awal pekan.

Kepala kantor media Houthi melalui unggahan di platform X menyatakan kelompoknya telah “menutup bandara internasional Riyadh”.

Sebelumnya, Houthi meminta maskapai penerbangan menghindari wilayah udara Arab Saudi yang dinyatakan sebagai zona operasi militer.

Peringatan tersebut disampaikan setelah pemerintah Yaman melancarkan serangan terhadap kelompok Houthi pada Senin.

Arab Saudi Janjikan Respons, Trump Pertimbangkan Keterlibatan AS

Koalisi militer pimpinan Arab Saudi menyatakan akan merespons serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid.

Arab Saudi sebelumnya telah melancarkan sejumlah operasi militer yang menargetkan Houthi sebagai bentuk dukungan terhadap pasukan pemerintah Yaman.

Kelompok Houthi diketahui mendapat dukungan Iran dalam konflik yang berlangsung di Yaman.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Washington sedang mempertimbangkan kemungkinan bergabung dalam operasi militer Arab Saudi terhadap Houthi.

“Kami mungkin melakukannya. Kami akan melihatnya. Kami baru mengetahui serangan terbaru ini, jadi kami akan mengambil keputusan. Kami bergerak sangat cepat,” kata Trump kepada wartawan di luar Gedung Putih.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Amerika Serikat belum menetapkan keputusan mengenai keterlibatan langsung dalam serangan terhadap Houthi.

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh juga menyampaikan peringatan keamanan kepada warga negaranya.

Dalam keterangannya, kedutaan menyatakan mengetahui adanya serangan dan “sangat merekomendasikan seluruh warga AS menghindari bandara dan area sekitarnya”.

Konflik Arab Saudi dan Houthi Kembali Memanas

Peningkatan serangan terhadap Arab Saudi terjadi di tengah memburuknya situasi keamanan akibat konflik di Yaman.

Gencatan senjata antara Arab Saudi dan Houthi yang disepakati pada 2022 dilaporkan mulai runtuh pada musim panas 2026.

Pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi kemudian melancarkan operasi militer untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi.

Perkembangan tersebut diikuti meningkatnya serangan terhadap wilayah Arab Saudi, termasuk fasilitas penerbangan di Riyadh.

Gangguan keamanan juga terjadi menjelang penyelenggaraan sejumlah konferensi besar di bidang energi dan investasi di ibu kota Arab Saudi.

Meski serangan mematikan menyebabkan penghentian sementara operasional bandara, penyelenggara menyatakan kegiatan konferensi tersebut tetap akan berlangsung sesuai jadwal.

Hingga laporan ini disampaikan, otoritas Arab Saudi belum mengumumkan kapan operasional Bandara Internasional King Khalid akan kembali berjalan normal.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026