
Pantau - Tim peneliti Jepang menemukan 307 makhluk hidup dalam sebuah tutup botol plastik berdiameter 3,5 sentimeter yang terapung di lepas pantai Prefektur Kochi, Jepang, dan diduga terbawa arus laut dari perairan sekitar Filipina selama sedikitnya 70 hari.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa sampah plastik berukuran kecil dapat menjadi sarana perpindahan organisme laut dalam jarak jauh, termasuk spesies yang berpotensi menjadi invasif di lingkungan baru.
Penelitian yang dipimpin Universitas Nagoya itu melibatkan sejumlah lembaga, termasuk Universitas Kyoto dan Badan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kelautan dan Bumi Jepang (JAMSTEC).
Berdasarkan laporan Kyodo yang diberitakan pada Minggu (25/10/2026), beberapa spesies yang ditemukan dalam tutup botol tersebut tidak ditemukan secara alami di Jepang.
Tutup Botol Berdiameter 3,5 Sentimeter Jadi Habitat 307 Makhluk Laut
Tutup botol tersebut ditemukan di lepas pantai Prefektur Kochi pada Januari 2023.
Meskipun hanya berdiameter 3,5 sentimeter, sampah plastik itu menjadi tempat hidup bagi ratusan organisme laut.
Peneliti menemukan seekor cacing laut jenis ragworm sepanjang sembilan sentimeter yang membangun sarang dari lendir dan kerikil di dalam tutup botol tersebut.
Sarang itu juga dihuni 306 organisme lainnya, termasuk foraminifera, teritip, bryozoa, dan cacing pipih.
Keberadaan berbagai organisme tersebut memperlihatkan bahwa benda plastik kecil dapat menjadi habitat sementara bagi beragam makhluk laut.
Para peneliti juga menemukan organisme yang berasal dari lingkungan pesisir maupun laut lepas.
Temuan itu mengindikasikan bahwa tutup botol telah melewati berbagai kondisi perairan sebelum ditemukan di Jepang.
Peneliti Lacak Perjalanan Sampah dari Perairan Filipina
Tim peneliti menduga tutup botol tersebut berasal dari Filipina setelah menemukan label perusahaan minuman asal negara itu pada permukaannya.
Label tersebut menjadi salah satu petunjuk bahwa sampah kemungkinan dibuang di wilayah Filipina atau perairan sekitarnya.
Untuk memperkirakan jalur perjalanannya, peneliti menganalisis rasio isotop oksigen pada cangkang foraminifera yang ditemukan di dalam tutup botol.
Metode tersebut digunakan untuk memperkirakan suhu perairan yang pernah dilalui organisme berdasarkan komposisi kimia cangkangnya.
Hasil analisis kemudian dibandingkan dengan simulasi pergerakan arus laut.
Penelitian menunjukkan bahwa tutup botol kemungkinan melewati perairan hangat di sekitar Filipina sebelum terbawa menuju Jepang.
Perjalanan tersebut diduga berlangsung melalui Arus Kuroshio, yakni arus laut hangat yang mengalir ke utara di kawasan barat laut Samudra Pasifik.
Berdasarkan hasil penelitian, tutup botol diperkirakan telah hanyut selama sedikitnya 70 hari sebelum ditemukan di perairan Jepang.
Sampah Plastik Berpotensi Membawa Spesies Invasif
Para peneliti menilai temuan tersebut memberikan gambaran mengenai kemampuan sampah laut mengangkut organisme melintasi wilayah geografis yang jauh.
Perpindahan organisme melalui sampah plastik dapat menjadi salah satu jalur masuk spesies asing ke lingkungan baru.
Risiko tersebut menjadi perhatian karena beberapa spesies yang ditemukan pada tutup botol tidak ditemukan di Jepang.
Dengan menelusuri perjalanan sampah laut, peneliti berharap dapat memahami jalur penyebaran organisme dan mengidentifikasi kemungkinan masuknya spesies invasif.
Informasi tersebut juga dapat membantu pengembangan langkah pencegahan terhadap perpindahan spesies yang berpotensi mengganggu ekosistem setempat.
Peneliti Ingatkan Bahaya Sampah Plastik Berukuran Kecil
Naoto Jimi dari Laboratorium Biologi Kelautan Sugashima, Universitas Nagoya, di Toba, Prefektur Mie, mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh sampah plastik berukuran kecil.
Menurutnya, benda sederhana seperti tutup botol dapat menjadi sarana perpindahan berbagai organisme laut ke wilayah yang jauh dari habitat asalnya.
"Bahkan, sampah sekecil tutup botol pun tidak boleh dianggap remeh. Membuangnya dengan benar ke tempat sampah membantu melindungi ekosistem," kata Naoto Jimi.
Temuan tersebut menegaskan pentingnya pengelolaan sampah plastik untuk mengurangi pencemaran laut sekaligus membatasi risiko perpindahan organisme antarwilayah.
Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa dampak sampah plastik terhadap lingkungan tidak hanya berkaitan dengan pencemaran, tetapi juga dengan perubahan persebaran makhluk hidup di lautan.
- Penulis :
- Gerry Eka




