HOME  ⁄  News

Trump Akui Kesulitan Tentukan Lawan Negosiasi dengan Iran setelah Serangan AS Tewaskan Sejumlah Pemimpin

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Trump Akui Kesulitan Tentukan Lawan Negosiasi dengan Iran setelah Serangan AS Tewaskan Sejumlah Pemimpin
Foto: Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat konferensi pers KTT ke-36 NATO di Ankara, Turkiye, (8/7/2026).

Pantau - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku perlu mengetahui siapa yang dapat menjadi mitra negosiasi Washington dengan Iran setelah serangkaian serangan militer AS yang menurutnya telah menewaskan sejumlah pemimpin negara tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Trump dalam rapat umum kampanye di Georgia, Amerika Serikat, Sabtu (24/10/2026), sebagaimana dilaporkan kantor berita Anadolu.

Trump menyatakan bahwa serangan terhadap jajaran kepemimpinan Iran membuat Amerika Serikat menghadapi kesulitan dalam menentukan pihak yang dapat diajak berunding.

"Saya harus berhenti (membunuh para pemimpin Iran), karena saya harus mencari tahu dengan siapa sebenarnya kami sedang bernegosiasi," kata Trump.

Di tengah pembahasan mengenai kemungkinan negosiasi, Trump kembali menegaskan sikap pemerintahannya yang menolak pengembangan senjata nuklir oleh Iran.

Trump Klaim Serangan AS Lumpuhkan Kepemimpinan dan Militer Iran

Dalam pidatonya, Trump mengklaim bahwa kemampuan militer Iran telah mengalami kerusakan besar akibat operasi militer Amerika Serikat.

Ia menyebut Iran tidak lagi memiliki pesawat maupun kapal serta kehilangan sejumlah tokoh penting dalam struktur kepemimpinannya.

"Tidak punya apa-apa, tidak punya pemimpin. Pemimpin tingkat satu sudah tewas, pemimpin tingkat dua juga sudah tewas," kata Trump.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump untuk menggambarkan dampak serangan Amerika Serikat terhadap kekuatan militer dan jajaran pemimpin Iran.

Namun, dalam pernyataan yang dilaporkan itu, Trump tidak merinci identitas pemimpin Iran yang dimaksud maupun pihak yang sedang menjadi calon mitra perundingan Washington.

Trump Kembali Bela Keputusan Keluar dari Kesepakatan Nuklir Iran

Trump juga menyinggung keputusannya pada 2018 untuk menarik Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir Iran yang disepakati pada 2015.

Kesepakatan tersebut dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama atau JCPOA dan dicapai pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama.

Trump kembali membela keputusan tersebut dengan alasan bahwa kesepakatan itu dinilainya tidak mampu mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

"Saya membatalkan salah satu kesepakatan terburuk yang pernah dibuat, yaitu Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) yang dicapai di masa Barack Hussein Obama, atau yang oleh sebagian orang disebut kesepakatan nuklir Iran yang menjadi jalan bagi Iran untuk memperoleh senjata nuklir. Saya membatalkannya, untungnya, tepat pada waktunya," kata Trump.

Menurut Trump, penarikan Amerika Serikat dari kesepakatan tersebut merupakan langkah penting dalam kebijakan Washington terhadap program nuklir Teheran.

Trump Sebut Operasi Militer AS Hancurkan Kapasitas Pengayaan Nuklir Iran

Selain membahas kesepakatan nuklir, Trump kembali menyoroti operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran yang berlangsung pada 2025 serta Februari hingga Mei 2026.

Ia menyebut dua operasi militer, yakni Operation Midnight Hammer dan Operation Epic Fury, sebagai bagian dari tindakan Washington terhadap kemampuan nuklir Iran.

Trump mengklaim operasi tersebut telah menghancurkan kapasitas pengayaan nuklir Iran sekaligus melemahkan kekuatan militer dan finansial negara itu.

"Kami menghancurkan kapasitas pengayaan nuklir Iran melalui Operasi Midnight Hammer dan Operasi Epic Fury. Kami telah mengalahkan mereka secara militer, finansial, dan dalam hal-hal lainnya. Kami harus memastikan bahwa mereka tidak akan pernah, sekali pun, tidak pernah memiliki senjata nuklir," ujar Trump.

Pernyataan tersebut merupakan klaim Trump mengenai hasil operasi militer Amerika Serikat, sementara laporan itu tidak menyertakan penilaian independen mengenai tingkat kerusakan fasilitas nuklir Iran.

Negosiasi AS dan Iran Masih Menghadapi Ketidakpastian

Pernyataan Trump mengenai perlunya mengidentifikasi pihak yang dapat diajak bernegosiasi memperlihatkan persoalan yang menurutnya dihadapi Washington setelah serangan terhadap kepemimpinan Iran.

Trump tidak mengumumkan jadwal perundingan baru maupun menyebutkan nama pejabat Iran yang akan menjadi mitra pembicaraan Amerika Serikat.

Ia justru kembali menekankan bahwa kebijakan Washington terhadap Teheran tetap berfokus pada pencegahan pengembangan senjata nuklir.

Dengan demikian, kemungkinan kelanjutan negosiasi Amerika Serikat dan Iran masih belum memiliki kepastian berdasarkan pernyataan Trump dalam rapat umum tersebut.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026