HOME  ⁄  News

Demokrat Israel Peringatkan Netanyahu Bisa Serang Iran demi Pertahankan Kekuasaan

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Demokrat Israel Peringatkan Netanyahu Bisa Serang Iran demi Pertahankan Kekuasaan
Foto: Pemimpin Partai Demokrat Israel Yair Golan.

Pantau - Pemimpin Partai Demokrat Israel Yair Golan memperingatkan bahwa Benjamin Netanyahu berpotensi memanfaatkan serangan militer baru terhadap Iran untuk mempertahankan kekuasaannya di tengah ketidakpastian politik setelah pemilihan parlemen Israel pekan lalu.

Peringatan tersebut disampaikan Golan melalui akun media sosial X pada Minggu (1/11/2026), menyusul meningkatnya pembicaraan mengenai kemungkinan konflik baru antara Israel dan Iran.

“Potensi terjadinya putaran baru pertempuran dengan Iran semakin meningkat,” tulis Golan, sebagaimana dilaporkan Anadolu.

Golan menilai kemungkinan berulangnya konflik dengan Iran mencerminkan kegagalan kepemimpinan Netanyahu dalam menangani persoalan keamanan.

“Kita (Israel) telah sampai pada titik terjadinya pertempuran berulang kali dengan Iran. Hal ini menunjukkan betapa besarnya kegagalan Netanyahu,” tambah Golan.

Pernyataan itu muncul di tengah laporan media Israel dan Amerika Serikat yang menyebutkan kemungkinan serangan baru terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS pada Selasa (3/11/2026).

Golan Ragukan Kepemimpinan Netanyahu Hadapi Konflik Iran

Yair Golan menyampaikan kritik terhadap kemampuan Netanyahu dalam menangani kemungkinan pecahnya konflik militer baru dengan Iran.

Menurut Golan, Netanyahu “tidak memiliki legitimasi moral, bahkan kemampuan dasar” untuk menangani konflik baru dengan Iran.

Ia memperingatkan bahwa keamanan Israel dapat menghadapi ancaman apabila pemerintahan Netanyahu tetap berkuasa dalam situasi tersebut.

Golan kemudian menyerukan pembentukan pemerintahan alternatif untuk menghadapi tantangan keamanan yang berkembang.

Ia menilai pergantian pemerintahan harus segera dilakukan demi menjamin keselamatan masyarakat Israel.

Menurut Golan, pembentukan pemerintahan baru sesegera mungkin merupakan “hal yang sangat penting karena keamanan Israel dan keselamatan warganya dipertaruhkan”.

Peringatan tersebut disampaikan ketika situasi politik Israel masih belum menemukan kepastian setelah pemilihan parlemen.

Pemilu Israel Belum Hasilkan Mayoritas Parlemen

Pemilihan parlemen Israel yang berlangsung pada Selasa pekan lalu belum menghasilkan blok politik dengan dukungan mayoritas.

Berdasarkan hasil sementara, blok pendukung Netanyahu memperoleh 53 kursi di parlemen Israel atau Knesset.

Sementara itu, partai-partai oposisi Yahudi mendapatkan 48 kursi dan partai-partai Palestina memperoleh 19 kursi.

Knesset memiliki total 120 anggota sehingga diperlukan sedikitnya 61 kursi untuk membentuk mayoritas parlemen.

Perolehan kursi tersebut menunjukkan bahwa baik blok Netanyahu maupun kelompok oposisi belum mampu membentuk pemerintahan dengan kekuatan sendiri.

Kondisi tersebut membuka sejumlah kemungkinan dalam pembentukan pemerintahan Israel berikutnya.

Salah satu kemungkinan adalah pembentukan pemerintahan dengan dukungan partai-partai Palestina.

Pilihan lainnya mencakup pembentukan pemerintahan persatuan yang melibatkan sejumlah kekuatan politik.

Apabila kesepakatan politik tidak tercapai, penyelenggaraan pemilihan umum kembali juga menjadi salah satu kemungkinan.

Netanyahu Masih Hadapi Persidangan Korupsi

Di tengah ketidakpastian politik tersebut, Netanyahu yang berusia 76 tahun masih menjalani proses persidangan terkait kasus korupsi.

Perkara yang dihadapinya mencakup tuduhan penyuapan, penipuan, serta penyalahgunaan kepercayaan.

Apabila dinyatakan bersalah dalam perkara tersebut, Netanyahu berpotensi menghadapi hukuman penjara.

Selain proses hukum di dalam negeri, Netanyahu juga menghadapi persoalan hukum internasional terkait perang Israel di Jalur Gaza.

Mahkamah Pidana Internasional atau International Criminal Court (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu sejak 2024.

Surat perintah tersebut berkaitan dengan dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan terhadap warga Palestina.

Dugaan pelanggaran tersebut berkaitan dengan perang Israel di Jalur Gaza yang dimulai pada Oktober 2023.

Potensi Serangan Iran Muncul di Tengah Ketidakpastian Politik

Kemungkinan terjadinya serangan baru terhadap Iran menjadi perhatian di tengah belum terbentuknya pemerintahan Israel yang memiliki dukungan mayoritas parlemen.

Laporan media Israel dan AS menyebutkan bahwa Israel bersama Washington dapat melancarkan serangan setelah pemilihan paruh waktu AS pada 3 November 2026.

Namun, laporan tersebut masih berupa kemungkinan dan belum memastikan bahwa operasi militer baru akan dilaksanakan.

Golan mengaitkan potensi konflik tersebut dengan situasi politik dalam negeri Israel yang masih belum stabil.

Ia menegaskan perlunya pembentukan pemerintahan alternatif untuk menghadapi persoalan keamanan dan keselamatan warga Israel.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026