
Pantau - Ketua Umum Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) Yenny Wahid mengaku belum menerima laporan resmi terkait isu pemotongan bonus atlet berprestasi dalam multievent olahraga internasional.
"Sampai saat ini belum ada laporan resmi yang saya atau pengurus PP FPTI terima dari para atlet," ungkap Yenny saat berada di tempat pemusatan latihan nasional tim panjat tebing Indonesia di Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu, 4 Maret malam.
Ia mengaku terkejut mendengar kabar dugaan pemotongan bonus yang juga menyeret nama mantan pelatih kepala tim panjat tebing Indonesia, Hendra Basir.
Yenny menjelaskan informasi yang diterimanya sejauh ini hanya berasal dari percakapan informal di internal organisasi.
Berdasarkan informasi tersebut, terdapat kesepakatan antara atlet bersangkutan dengan pelatih terkait pembagian bonus dari Pemerintah Indonesia.
Yenny menegaskan bahwa hal tersebut berada di luar kewenangan organisasi.
"Yang jelas PP FPTI tidak melakukan itu (pemotongan bonus), justru kami yang berjuang untuk para atlet agar dapat bonus dari Pemerintah," tegasnya.
Karena belum ada laporan resmi dari atlet, ia menyebut belum dapat memberikan keterangan lebih jauh.
Ia menekankan komitmen PP FPTI untuk melindungi hak atlet dan memastikan setiap penghargaan dari pemerintah diterima sesuai ketentuan.
Yenny diketahui merupakan anak dari Presiden keempat RI almarhum Abdurrahman Wahid.
Di tengah isu tersebut, PP FPTI juga menghadapi dugaan kekerasan fisik dan pelecehan seksual yang dituduhkan kepada Hendra Basir.
Pada Selasa, 24 Februari, Hendra membantah tuduhan tersebut.
"Silakan ditanyakan kepada delapan atlet terkait, bagian yang mana saya melakukan pelecehan seksual dan kekerasan fisik," ujarnya sebagai klarifikasi atas dugaan yang beredar.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Aditya Yohan








