HOME  ⁄  Olahraga

Aksi Spanduk Malvinas Pemain Argentina Memicu Desakan Inggris agar FIFA Bertindak Tegas

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Aksi Spanduk Malvinas Pemain Argentina Memicu Desakan Inggris agar FIFA Bertindak Tegas
Foto: (Sumber :Suporter tim nasional Argentina membentangkan bendera negara mereka di depan Stadion Atlanta, Amerika Serikat, Rabu (15/7/2026). ANTARA/Michael Siahaan..)

Pantau - Aksi sejumlah pemain Argentina membentangkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" setelah semifinal Piala Dunia 2026 memicu desakan pemerintah Inggris agar FIFA menyelidiki dugaan pelanggaran terhadap prinsip apolitik sepak bola.

Inggris Desak FIFA Selidiki Pemain Argentina

Spanduk yang berarti "Malvinas adalah milik Argentina" itu dibentangkan setelah Argentina mengalahkan Inggris pada semifinal Piala Dunia 2026.

Sejumlah pemain yang disebut terlibat dalam aksi tersebut antara lain Lisandro Martinez, Cristian Romero, Giovani Lo Celso, dan Leandro Paredes.

Menteri Perdagangan Inggris Peter Kyle kemudian meminta FIFA menyelidiki aksi tersebut karena dinilai membawa isu politik ke dalam turnamen sepak bola.

Warganet juga menyoroti Lionel Messi yang terlihat mengikuti seremoni di belakang rekan-rekannya saat spanduk dibentangkan.

Downing Street 10 merespons polemik tersebut dengan menyatakan, "Piala Dunia mungkin bukan milik kita (Inggris), tapi Kepulauan Falkland sudah jelas milik kita."

Sengketa Malvinas Kembali Mencuat

Inggris menegaskan status Kepulauan Falkland tidak berubah karena penduduk wilayah tersebut memilih tetap menjadi bagian dari Inggris.

Argentina menyebut wilayah itu sebagai Malvinas dan masih mengklaim kepemilikannya hingga kini.

Konflik terbuka pernah terjadi setelah pasukan Argentina menginvasi kepulauan tersebut pada 2 April 1982.

Pemerintah Inggris di bawah Perdana Menteri Margaret Thatcher kemudian mengerahkan kekuatan militer sebelum perang berlangsung selama 74 hari.

Angkatan bersenjata Argentina menyerah pada 14 Juni 1982 dan Kepulauan Falkland kembali berada di bawah kendali Inggris.

Polemik terbaru itu kembali menguji konsistensi FIFA dalam menjaga sepak bola dari pesan politik serta memastikan aturan diterapkan secara setara kepada seluruh peserta.

Penulis :
Ahmad Yusuf