
Pantau - National Paralympic Committee of Indonesia (NPC Indonesia) menegaskan sinergi dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) diperlukan agar pembinaan olahraga prestasi penyandang disabilitas berjalan akuntabel, terencana, dan tepat sasaran.
Pernyataan tersebut disampaikan NPC Indonesia menyusul perbincangan di media sosial mengenai penggalangan dana yang dilakukan sejumlah atlet disabilitas rungu atau tuli untuk mengikuti kejuaraan internasional.
NPC Indonesia menyatakan dukungan pemerintah pusat melalui Kemenpora terhadap pembinaan atlet disabilitas selama ini telah berjalan maksimal, termasuk memberikan fasilitas kepada atlet berprestasi maupun atlet muda potensial untuk mengikuti kejuaraan internasional.
Kepala Departemen Hukum NPC Indonesia Satriawan Sulaksono mengatakan pengiriman atlet ke kompetisi tingkat Asia maupun dunia dilakukan melalui perencanaan jangka panjang dan konsolidasi bersama Kemenpora.
“Keikutsertaan atlet NPC Indonesia dalam kejuaraan internasional merupakan bagian dari rangkaian uji coba pemusatan latihan nasional menuju Paralimpiade yang bertujuan mengumpulkan poin demi memenuhi syarat kualifikasi, melalui proses perencanaan dan review dengan Kemenpora sebelumnya,” kata Satriawan dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Senin, 31 Agustus 2026.
Keberangkatan Atlet Harus Melalui Evaluasi
Satriawan menjelaskan penentuan kejuaraan internasional yang akan diikuti atlet maupun kontingen NPC Indonesia harus melalui konsolidasi antara organisasi pembina dan Kemenpora.
Menurut dia, keberangkatan atlet tidak dapat ditentukan secara sepihak karena harus mempertimbangkan perencanaan dan evaluasi prestasi.
Terkait pembinaan atlet disabilitas rungu atau tuli, Satriawan mengatakan keanggotaan International Committee of Sports for the Deaf (ICSD) menjadi syarat bagi suatu negara untuk mengirim kontingen ke ajang olahraga tuli internasional, Deaflympics.
“Sebagaimana NPC Indonesia bernaung di bawah IPC, APC, dan APSF, maka pembinaan olahraga prestasi tuna rungu di Indonesia seharusnya bernaung pada organisasi yang diakui oleh ICSD sebagai lembaga tertinggi olahraga tuna rungu,” ujar Satriawan.
Satriawan menegaskan atlet tuli yang ingin berprestasi di tingkat internasional tidak perlu khawatir terhadap dukungan dari pemerintah.
“Pemerintah melalui Kemenpora sangat berkomitmen mendukung kemajuan dan prestasi olahraga disabilitas, baik di tingkat nasional maupun internasional,” tutur Satriawan.
Ia meminta langkah administratif dan konsolidasi segera diselesaikan agar persoalan mengenai pembinaan serta keberangkatan atlet tidak menimbulkan kesimpangsiuran di ruang publik.
NPC Arahkan Atlet Tuli Berkomunikasi dengan Patrin
NPC Indonesia menyebut Perkumpulan Atlet Tunarungu Indonesia (Patrin) sebagai organisasi di Indonesia yang memiliki keanggotaan yang diakui ICSD.
“Kami berharap seluruh atlet tunarungu yang saat ini aktif bisa bergabung atau berkomunikasi dengan Patrin, sehingga bisa mengikuti event-event internasional yang diselenggarakan,” kata Satriawan.
Wakil Sekretaris Jenderal NPC Indonesia Rima Ferdianto mengatakan NPC Indonesia tidak dapat mengintervensi persoalan tersebut karena NPC Indonesia dan Patrin berada di bawah organisasi internasional yang berbeda.
“Kemenpora juga sudah mengundang, siapa organisasi yang berhak menangani atlet tunarungu dengan membawa semua legalitas dan dokumen, mereka yang menunjukkan bahwa mereka adalah member dari federasi internasional. Jadi sebenarnya masalah ini sudah clear bahwa atlet tuna rungu bukan dari NPC Indonesia yang memberangkatkan, tetapi dari federasi nasional tuna rungu yang bernama Patrin,” kata Rima.
Rima menambahkan setiap pengiriman atlet ke luar negeri harus melalui proses evaluasi untuk memastikan atlet memenuhi dasar prestasi atau catatan waktu yang dipersyaratkan.
“Jadi tidak bisa ditetapkan hanya satu pihak saja, karena selama ini antara kami dengan Kemenpora selalu seperti itu. Siapa pun yang kami berangkatkan selalu berdasarkan prestasi atau catatan waktu atlet-atlet tersebut,” ujar dia.
NPC Indonesia saat ini fokus mempersiapkan atlet menuju Asian Para Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang, yang dijadwalkan berlangsung pada 18–24 Oktober 2026.
Kemenpora juga telah memastikan atlet, pelatih, dan ofisial Indonesia akan berangkat menuju Jepang menggunakan pesawat yang disewa khusus untuk penerbangan langsung ke Nagoya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




