Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Pertambangan

Kementerian ESDM Tegaskan Data RKAB Batu Bara yang Beredar adalah Hoaks, Persetujuan Masih Diproses

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Kementerian ESDM Tegaskan Data RKAB Batu Bara yang Beredar adalah Hoaks, Persetujuan Masih Diproses
Foto: Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia memberi keterangan ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat 5/12/2025 (sumber: ANTARA/Putu Indah Savitri)

Pantau - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa data Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) Batu Bara yang beredar di media sosial merupakan informasi palsu.

"Yang beredar itu hoaks, tidak benar," ungkap Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, dalam pernyataannya di Jakarta pada Jumat (6/2/2026).

Menurut Dwi, hingga saat ini proses persetujuan RKAB masih berlangsung dan belum ada data resmi yang menunjukkan kuota produksi batu bara untuk masing-masing perusahaan tambang.

Pemerintah tengah berupaya mempercepat proses persetujuan tersebut agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran yang dapat berdampak negatif terhadap performa perusahaan.

"Yang pasti secepatnya (disetujui), untuk menghindari kesimpangsiuran," ia menegaskan.

Tabel Produksi yang Beredar Disebut Menyesatkan

Sebelumnya, beredar sebuah tabel di media sosial yang diklaim sebagai daftar persetujuan RKAB Batu Bara tahun 2026, menampilkan kuota produksi dari berbagai perusahaan tambang.

Dalam tabel tersebut disebutkan bahwa sebagian perusahaan mendapatkan persetujuan penuh (100 persen), sedangkan perusahaan lain mengalami pemangkasan hingga 70 persen.

Menanggapi hal itu, Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menekankan bahwa RKAB masih dapat mengalami perubahan, terutama jika ada peningkatan permintaan dalam negeri.

Pernyataan ini disampaikan untuk merespons kekhawatiran para pelaku usaha atas ketidakpastian kuota produksi yang berbeda-beda antar perusahaan.

Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI-ICMA) sebelumnya menyebut bahwa pemangkasan kuota produksi dalam RKAB 2026 berkisar antara 40 hingga 70 persen dari yang diajukan.

Produksi Berlebih dan Dampaknya terhadap Harga

Yuliot juga menjelaskan bahwa pada tahun 2025, pemerintah telah menyetujui kuota produksi batu bara sebesar 1,2 miliar ton.

Namun realisasinya hanya sekitar 800 juta ton.

Produksi berlebih tersebut menyebabkan harga batu bara di pasar dunia mengalami penurunan.

Penurunan itu terlihat dari Harga Batu Bara Acuan (HBA) yang tercatat sebesar 106,11 dolar AS per ton pada Februari 2026.

Angka ini lebih rendah dibandingkan HBA Februari 2025 yang mencapai 124,24 dolar AS per ton.

"Karena harga turun signifikan, kami evaluasi kebutuhan industri di dalam negeri itu kira-kira berapa," ujar Yuliot.

Penulis :
Leon Weldrick