
Pantau - Penertiban tambang timah ilegal dinilai menjadi salah satu katalis bagi PT Timah Tbk (TINS) untuk meningkatkan produksi dan kinerja keuangan setelah aktivitas pertambangan ilegal selama ini menekan rantai pasok resmi.
Pemerintah Indonesia menargetkan penutupan sekitar 1.000 tambang timah ilegal di Bangka Belitung, sementara sektor pertambangan di luar sistem resmi diperkirakan mencakup porsi besar dari produksi timah di wilayah tersebut.
Reuters sebelumnya mencatat manajemen TINS menyebut persaingan dengan penambang ilegal menjadi salah satu faktor yang menekan produksi perseroan.
Produksi bijih timah TINS pada semester I-2025 tercatat turun 32 persen secara tahunan menjadi 6.997 ton.
Produksi dan Laba TINS Melonjak
Momentum pemulihan terlihat pada semester I-2026 ketika produksi bijih timah TINS mencapai 12.232 ton Sn atau naik sekitar 75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Produksi logam timah juga meningkat menjadi 10.865 metrik ton, sementara penjualan logam timah mencapai 10.984 metrik ton atau melonjak sekitar 85 persen dari 5.933 metrik ton.
Kenaikan volume tersebut mendorong pendapatan TINS menjadi Rp10,42 triliun pada semester I-2026 atau naik 147 persen dari Rp4,22 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Laba bersih perseroan melonjak sekitar 805 persen menjadi Rp2,71 triliun dari sebelumnya Rp300 miliar.
Realisasi laba tersebut setara sekitar 169 persen dari target laba bersih TINS sepanjang 2026 sebesar Rp1,61 triliun.
Harga Timah Tinggi Perkuat Prospek TINS
Kinerja TINS juga ditopang kenaikan harga rata-rata timah di London Metal Exchange yang mencapai 50.319 dolar AS per metrik ton pada semester I-2026.
Harga tersebut naik 56,7 persen dibandingkan 32.116 dolar AS per metrik ton pada semester I-2025.
Perbaikan kinerja turut tercermin pada kapitalisasi pasar TINS yang meningkat dari sekitar Rp7,6 triliun pada Agustus 2025 menjadi sekitar Rp28,75 triliun pada Agustus 2026.
Co-Founder Pasar Dana Hans Kwee masih merekomendasikan saham TINS dengan target harga Rp4.700 hingga Rp5.000 per saham berdasarkan pertumbuhan kinerja, harga timah global, dan penertiban tambang ilegal.
Dari sisi industri, prospek harga timah dunia juga dinilai tetap positif seiring potensi kekurangan pasokan dan meningkatnya kebutuhan industri semikonduktor serta kecerdasan buatan atau artificial intelligence.
- Penulis :
- Aditya Yohan



