
Pantau - Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS) Ali Ahmudi Achyak mengingatkan bahwa pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), termasuk proyek di Gunung Ungaran, Jawa Tengah, harus memperhatikan kelestarian sumber air, ekosistem, lahan masyarakat, serta warisan budaya di sekitar kawasan.
Ali mengatakan pembangunan pembangkit panas bumi perlu dilakukan secara bertahap berdasarkan kajian teknis, lingkungan, sosial, tata ruang, dan ketentuan hukum yang berlaku.
Menurutnya, keberhasilan proyek energi terbarukan tidak hanya diukur dari kapasitas listrik yang dihasilkan, tetapi juga dari kemampuan menjaga fungsi lingkungan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Apabila target sekitar 55 megawatt (MW) dapat tercapai, keberhasilan yang lebih utuh adalah ketika kapasitas listrik tersebut berjalan seiring dengan terjaganya sumber air, keanekaragaman hayati, nilai cagar budaya, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” kata Ali dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (11/10/2026).
Pengembangan PLTP Gunung Ungaran Perlu Kajian Lingkungan Menyeluruh
Ali menjelaskan bahwa pengembangan panas bumi perlu mempertimbangkan berbagai aspek lingkungan sejak tahap perencanaan.
Salah satu perhatian utama adalah keberlanjutan sumber air yang digunakan masyarakat di sekitar wilayah pengembangan proyek.
Kajian awal perlu mencakup debit mata air dan sungai, kualitas air, muka air tanah, curah hujan, kondisi hidrogeologi, serta pola pemanfaatan air oleh masyarakat.
Selain sumber air, kondisi hutan dan habitat satwa juga harus menjadi pertimbangan dalam menentukan lokasi pembangunan fasilitas pembangkit.
Fasilitas tersebut meliputi jalan akses, lokasi pengeboran sumur, jaringan pipa, serta infrastruktur pendukung lainnya.
Ali menilai pemulihan vegetasi dan rehabilitasi kawasan terdampak pembangunan perlu menjadi bagian dari pengelolaan lingkungan proyek.
Ia memperkenalkan konsep “55 MW+0” sebagai pendekatan pengembangan energi yang menargetkan kapasitas listrik sekitar 55 megawatt dengan tetap menjaga sumber air, keanekaragaman hayati, cagar budaya, dan manfaat ekonomi masyarakat.
Kawasan Candi Gedong Songo Harus Mendapat Perlindungan
Pengembangan PLTP Gunung Ungaran juga perlu mempertimbangkan keberadaan kawasan bersejarah, termasuk Candi Gedong Songo.
Menurut Ali, Gunung Ungaran memiliki karakter kawasan yang mencakup potensi energi panas bumi sekaligus fungsi ekologis, sosial, ekonomi, sejarah, dan budaya.
Karena itu, perencanaan proyek perlu disertai pemetaan zona kawasan serta kajian arkeologi untuk melindungi warisan budaya.
Kajian tambahan juga diperlukan terhadap potensi getaran, perubahan lanskap, kondisi hidrologi, dan risiko tanah longsor.
Dalam pengoperasiannya, pembangkit panas bumi memanfaatkan reservoir bawah permukaan melalui sumur produksi dan injeksi, dengan fluida yang telah digunakan dikembalikan ke reservoir.
“Hal tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan pengembangan energi dan perlindungan ekosistem dapat dirancang secara bersamaan. Dukungan teknologi pengeboran, perencanaan fasilitas yang adaptif, serta pemulihan kawasan memberikan ruang bagi pengembangan panas bumi yang semakin efisien sekaligus memperhatikan keberlanjutan lingkungan,” katanya.
Masyarakat Diminta Dilibatkan Sejak Awal Proyek
Ali menegaskan keterlibatan masyarakat merupakan bagian penting dalam pembangunan proyek panas bumi.
Menurutnya, komunikasi terbuka sejak tahap awal dapat membantu membangun kepercayaan masyarakat terhadap proses pengembangan energi.
Ia mendorong pembentukan forum komunikasi yang melibatkan pemerintah pusat, pengembang, pemerintah daerah, akademisi, masyarakat, pemerhati lingkungan, serta pemangku kepentingan cagar budaya.
Forum tersebut dapat digunakan untuk menyampaikan perkembangan kajian, membahas rencana pembangunan, dan menerima masukan dari berbagai pihak.
“Memanfaatkan panas bumi dengan tetap menjaga fungsi sumber air, menghasilkan listrik sekaligus mempertahankan keanekaragaman hayati, membangun infrastruktur dengan tetap menghormati warisan budaya, serta mengembangkan energi melalui komunikasi yang terbuka merupakan bagian dari pendekatan pembangunan energi yang lebih utuh," ujar Ali.
PLTP Berpotensi Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Ali menilai pengembangan PLTP Gunung Ungaran berpeluang menjadi contoh pembangunan energi terbarukan yang berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan.
Potensi tersebut dapat diwujudkan apabila pembangunan didasarkan pada hasil kajian yang memadai, pemanfaatan teknologi yang tepat, serta pengawasan secara terbuka dan konsisten.
Menurutnya, pengembangan energi panas bumi dapat mendukung transisi energi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional tanpa mengabaikan keberlanjutan kawasan.
Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan penyediaan listrik, perlindungan ekosistem, pelestarian warisan budaya, dan kepentingan ekonomi masyarakat sekitar.
- Penulis :
- Gerry Eka




