HOME  ⁄  Pertambangan

Laba Bersih Antam Melonjak 36 Persen Jadi Rp6,4 Triliun pada Semester I 2026, Bisnis Nikel dan Bauksit Jadi Penopang

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Laba Bersih Antam Melonjak 36 Persen Jadi Rp6,4 Triliun pada Semester I 2026, Bisnis Nikel dan Bauksit Jadi Penopang
Foto: Ilustrasi - Kantor Pusat PT Aneka Tambang Tbk (sumber: Antam)

Pantau - PT Aneka Tambang Tbk (Antam) membukukan laba bersih sebesar Rp6,4 triliun sepanjang semester I 2026 atau meningkat 36 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, didukung pertumbuhan bisnis nikel serta bauksit dan alumina.

Berdasarkan hasil riset BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), pendapatan Antam selama enam bulan pertama 2026 mencapai Rp62,7 triliun atau tumbuh 6,3 persen secara tahunan.

Pertumbuhan kinerja tersebut terutama ditopang oleh peningkatan pendapatan bisnis nikel sebesar 32,4 persen serta bisnis bauksit dan alumina sebesar 28,3 persen.

Sementara itu, bisnis emas tetap mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 1,4 persen pada periode yang sama.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam, Arini Kasmira, menyatakan bahwa capaian tersebut mencerminkan fundamental perseroan yang tetap kuat di tengah upaya pengembangan bisnis berbasis hilirisasi.

Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin, Arini menjelaskan bahwa Antam terus mengoptimalkan kegiatan operasional, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat pengelolaan risiko untuk menjaga pertumbuhan usaha.

"Antam terus menjaga momentum pertumbuhan melalui optimalisasi kinerja operasional, peningkatan efisiensi, serta penguatan portofolio bisnis pada komoditas emas, nikel, serta bauksit dan alumina. Pada saat yang sama, kami tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan keuangan dan risiko," ujar Arini.

Pendapatan Nikel Antam Tumbuh 32,4 Persen, Bauksit dan Alumina Naik 28,3 Persen

Kinerja keuangan Antam pada semester I 2026 menunjukkan pertumbuhan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan pendapatan perseroan.

Laba bersih meningkat 36 persen menjadi Rp6,4 triliun, sedangkan pendapatan tumbuh 6,3 persen menjadi Rp62,7 triliun.

Menurut riset BRIDS, pertumbuhan tersebut terutama didukung oleh peningkatan kinerja dua kelompok komoditas utama, yakni nikel serta bauksit dan alumina.

Pendapatan bisnis nikel Antam tercatat meningkat 32,4 persen dibandingkan semester I tahun sebelumnya.

Kenaikan tersebut menjadikan nikel sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan pendapatan perseroan.

Selain nikel, pendapatan bisnis bauksit dan alumina mengalami peningkatan sebesar 28,3 persen secara tahunan.

Sementara itu, bisnis emas mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 1,4 persen.

Perbedaan pertumbuhan pada masing-masing komoditas menunjukkan kontribusi yang beragam terhadap kinerja keuangan Antam sepanjang semester I 2026.

Perseroan terus memperkuat portofolio bisnis pada ketiga kelompok komoditas tersebut untuk menjaga keseimbangan pertumbuhan usaha.

Harga Jual Nikel Naik 44 Persen Secara Tahunan, Margin Laba Capai 54,5 Persen

BRIDS mencatat bahwa perbaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan laba bersih Antam.

Kenaikan harga jual terutama terjadi pada komoditas nikel selama kuartal II 2026.

Pada periode tersebut, ASP nikel Antam meningkat sebesar 18,7 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025, harga jual rata-rata nikel tercatat naik sebesar 44 persen.

Setelah mengalami peningkatan, ASP nikel Antam pada kuartal II 2026 mencapai 80 dolar AS per ton.

Kenaikan harga jual tersebut didorong oleh peningkatan harga patokan mineral (HPM).

Perbaikan HPM menjadi salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas bisnis nikel Antam.

Dari sisi volume, penjualan bijih nikel Antam pada kuartal II 2026 mencapai 3,4 juta ton.

Selain mencatatkan peningkatan harga jual, bisnis nikel juga mengalami perbaikan margin laba bersih atau net profit margin (NPM).

Margin laba bersih bisnis nikel meningkat sebesar 410 basis poin atau setara 4,10 poin persentase dibandingkan kuartal sebelumnya.

Setelah kenaikan tersebut, NPM bisnis nikel Antam mencapai 54,5 persen pada kuartal II 2026.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan margin laba bersih bisnis bauksit yang tercatat sebesar 24,1 persen.

Sementara itu, bisnis emas mencatatkan margin laba bersih sebesar 4,4 persen.

Berdasarkan data BRIDS, perbedaan margin tersebut menunjukkan bahwa bisnis nikel memberikan tingkat profitabilitas lebih tinggi dibandingkan dua kelompok komoditas utama Antam lainnya pada periode tersebut.

Penjualan Emas Antam Capai 9,6 Ton meski Harga Turun Secara Kuartalan

Pada bisnis emas, Antam membukukan volume penjualan sebesar 9,6 ton sepanjang kuartal II 2026.

Volume tersebut meningkat 13,6 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.

Peningkatan penjualan menunjukkan bertambahnya jumlah emas yang berhasil dipasarkan perseroan selama periode tersebut.

Meski demikian, BRIDS mencatat bahwa harga emas mengalami penurunan secara kuartalan.

Harga emas pada kuartal II 2026 tercatat turun sebesar 9,2 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.

Penurunan tersebut terjadi seiring proses normalisasi harga emas setelah pergerakan pada periode sebelumnya.

Namun, secara tahunan harga emas masih mencatatkan kenaikan sebesar 38 persen.

Dengan demikian, meskipun mengalami penurunan dalam perbandingan kuartalan, harga emas masih berada di atas tingkat harga pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut menjadi bagian dari dinamika bisnis emas Antam yang tetap mencatatkan pertumbuhan volume penjualan.

Laba Semester I Sudah Capai Hampir 70 Persen Target Tahunan

BRIDS mencatat bahwa realisasi laba bersih Antam sepanjang semester I 2026 telah mencapai sebagian besar proyeksi laba setahun penuh.

Laba bersih sebesar Rp6,4 triliun pada enam bulan pertama tahun ini setara dengan 69,7 persen dari estimasi laba tahunan BRIDS.

Jika dibandingkan dengan konsensus analis, realisasi laba bersih tersebut juga telah mencapai sekitar 70 persen dari perkiraan sepanjang 2026.

Sementara itu, pendapatan Antam sebesar Rp62,7 triliun pada semester I 2026 telah mencapai 52,9 persen dari estimasi pendapatan tahunan BRIDS.

Dengan capaian tersebut, realisasi pendapatan perseroan pada paruh pertama 2026 telah melampaui separuh proyeksi setahun penuh.

Berdasarkan evaluasi kinerja perusahaan, BRIDS tetap mempertahankan estimasi pendapatan Antam sepanjang 2026 sebesar Rp118,7 triliun.

BRIDS juga mempertahankan proyeksi laba bersih perseroan untuk tahun 2026 sebesar Rp9,2 triliun.

Proyeksi tersebut masih bergantung pada perkembangan kinerja operasional, penjualan, dan kondisi bisnis Antam sepanjang sisa tahun berjalan.

Antam Perkuat Hilirisasi Emas, Nikel, Bauksit, dan Alumina

Sejalan dengan capaian keuangan tersebut, Antam terus memperkuat strategi pengembangan bisnis berbasis hilirisasi.

Strategi tersebut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas mineral yang dikelola perseroan.

Pengembangan hilirisasi menjadi salah satu langkah Antam dalam memperkuat fundamental perusahaan dan menjaga kesinambungan pertumbuhan bisnis jangka panjang.

Arini menjelaskan bahwa perusahaan terus mengoptimalkan kegiatan operasional pada komoditas emas, nikel, serta bauksit dan alumina.

Selain memperkuat kegiatan operasional, perseroan menempatkan efisiensi biaya dan pengelolaan risiko sebagai bagian penting dari strategi bisnis.

Antam juga berupaya menjaga keseimbangan antara ekspansi usaha, peningkatan efisiensi, dan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan keuangan.

Diversifikasi portofolio komoditas dinilai menjadi salah satu faktor yang dapat mendukung ketahanan bisnis perusahaan dalam menghadapi perubahan kondisi pasar.

Arini menyampaikan optimisme bahwa penguatan fundamental dan pengembangan portofolio bisnis dapat membantu Antam mempertahankan pertumbuhan yang sehat.

"Dengan fundamental yang semakin kuat dan portofolio komoditas yang terdiversifikasi, kami optimistis Antam dapat menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan serta memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan," katanya lagi.

Melalui strategi hilirisasi, Antam berupaya meningkatkan manfaat ekonomi dari komoditas mineral sekaligus memperkuat kontribusi kegiatan usaha terhadap pemangku kepentingan.

Perseroan juga terus mendorong efisiensi operasional serta pengelolaan keuangan dan risiko secara disiplin untuk menjaga stabilitas usaha.

Dengan pendapatan semester I 2026 sebesar Rp62,7 triliun dan laba bersih Rp6,4 triliun, Antam melanjutkan penguatan bisnis pada komoditas emas, nikel, serta bauksit dan alumina.

Sementara itu, BRIDS tetap mempertahankan proyeksi pendapatan Antam sepanjang 2026 sebesar Rp118,7 triliun dan laba bersih Rp9,2 triliun seiring perkembangan kinerja perusahaan pada paruh pertama tahun ini.

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026