Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Politik

Pengamat Menyesalkan Mahasiswa Memaki Polisi saat Demo di Mabes Polri

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Pengamat Menyesalkan Mahasiswa Memaki Polisi saat Demo di Mabes Polri
Foto: (Sumber: Survei Indikator Menyebut Sulit Cari Kerja Jadi Keluhan Utama Warga Kabupaten Bogor.)

Pantau - Direktur Rumah Politik Indonesia Fernando Emas menyesalkan aksi seorang mahasiswa yang memaki aparat saat demonstrasi di Mabes Polri, Jakarta, Jumat 27 Februari 2026, yang videonya viral di media sosial.

Mahasiswa tersebut sempat mencatut nama almamater Universitas Indonesia dalam narasi yang beredar di publik.

Fernando menilai tindakan itu mencederai etika akademik dan merugikan institusi pendidikan yang namanya dibawa tanpa hak.

Ia menyatakan, “Kebebasan berpendapat memang dijamin konstitusi. Namun, kebebasan itu bukan ruang untuk menghina, memprovokasi atau merendahkan aparat negara. Apalagi sampai mencatut nama kampus yang tidak ada kaitannya,”.

Berdasarkan informasi yang beredar, mahasiswa tersebut diketahui berasal dari Politeknik Negeri Jakarta dan bukan mahasiswa Universitas Indonesia sebagaimana narasi awal.

Fernando mengapresiasi langkah cepat Universitas Indonesia yang melakukan klarifikasi melalui Direktorat Humas dengan memverifikasi identitas melalui Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI).

Ia menyebut klarifikasi tersebut penting agar publik tidak terjebak pada informasi yang keliru.

Klarifikasi UI dan Seruan Etika Berdemonstrasi

Fernando juga menyoroti penggunaan atribut kampus secara sepihak dalam aksi demonstrasi karena dinilai tidak etis dan berpotensi mencemarkan nama baik lembaga pendidikan.

Ia menegaskan mahasiswa sebagai kelompok intelektual seharusnya menyampaikan kritik secara argumentatif, bukan emosional.

Fernando menyatakan, “Mahasiswa adalah agen perubahan. Kritik harus disampaikan dengan gagasan dan data, bukan dengan makian. Kalau mahasiswa sendiri kehilangan etika, bagaimana publik mau percaya pada moral force yang mereka klaim?”.

Ia menambahkan, “Demokrasi membutuhkan ruang kritik, tetapi juga membutuhkan kedewasaan sikap. Kita tidak boleh membiarkan ruang demokrasi berubah menjadi ruang caci maki,”.

Meski demikian, ia menekankan hak untuk berdemonstrasi tetap harus dihormati selama dilakukan secara damai dan bertanggung jawab serta meminta aparat kepolisian tetap mengedepankan pendekatan humanis.

Pihak Universitas Indonesia melalui rilis resmi Direktorat Hubungan Masyarakat, Media, Pemerintah, dan Internasional menegaskan bahwa individu dalam video tersebut tidak berafiliasi dengan kampusnya.

UI menyatakan, “Bukan mahasiswa Universitas Indonesia,”.

Hasil verifikasi menunjukkan individu tersebut merupakan mahasiswa dari perguruan tinggi lain dan penggunaan atribut kampus secara sepihak disayangkan karena berpotensi menimbulkan kesalahpahaman publik serta mencemarkan nama baik lembaga.

UI menegaskan tetap menghormati hak mahasiswa untuk berunjuk rasa selama dilakukan secara damai dan bertanggung jawab.

Penulis :
Gerry Eka