HOME  ⁄  Teknologi & Sains

Krakatau Steel Sebut Energi Bersih Terjangkau Jadi Kunci Transisi Baja Hijau

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Krakatau Steel Sebut Energi Bersih Terjangkau Jadi Kunci Transisi Baja Hijau
Foto: (Sumber: COO PT Krakatau Steel Tbk Sidik Darusulistyo (kiri) bersama Dosen Besar ITB Prof. Zulfiadi Zulhan (tengah) memberikan paparan dalam diskusi “Bridging the Landscape: Readiness Viability in Indonesia’s Net-Zero Steel Ecosystem” di SBM ITB Kampus Jakarta, Kamis (7/5/2026). (ANTARA/Aria Ananda).)

Pantau - COO PT Krakatau Steel Tbk Sidik Darusulistyo menilai ketersediaan energi bersih yang aman dan terjangkau menjadi faktor utama dalam mendukung transisi industri baja menuju produksi baja hijau rendah emisi.

Sidik mengatakan industri baja tidak hanya membutuhkan energi ramah lingkungan, tetapi juga pasokan yang stabil dan harga yang kompetitif agar tetap mampu bersaing di pasar global.

“Pada akhirnya ada tiga yang mesti dipertimbangkan. Energi itu mesti secure (aman), kemudian affordable (terjangkau), kemudian baru green,” kata Sidik dalam diskusi di SBM ITB Kampus Jakarta, Kamis.

Industri Baja Dinilai Harus Tetap Kompetitif

Menurut Sidik, transisi menuju industri baja hijau tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa karena margin keuntungan industri baja relatif tipis.

Ia menyebut laba operasional industri baja hanya berkisar 5-7 persen EBITDA, sedangkan laba bersih sekitar 3-5 persen sehingga perusahaan harus berhati-hati dalam memilih teknologi dekarbonisasi.

“Karena margin-nya tipis, kita tidak akan mengambil risiko yang terlalu besar. Kita harus menggunakan teknologi yang memang sudah mature dan proven,” ujarnya.

Sidik menjelaskan biaya energi dan bahan baku menjadi faktor utama yang memengaruhi harga produksi baja.

Ia menilai harga gas alam di Indonesia masih lebih mahal dibanding negara pesaing seperti China yang memiliki harga gas di bawah 2 dolar AS per MMBTU.

“Bahan baku dan energi ini driving steel cost. Kita harus stay competitive,” ucapnya.

Krakatau Steel Siapkan Strategi Dekarbonisasi

Krakatau Steel mulai menyiapkan langkah dekarbonisasi untuk menghadapi kebijakan perdagangan karbon global seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) yang mulai diterapkan di sejumlah negara tujuan ekspor.

Perseroan telah menyusun peta jalan dekarbonisasi hingga 2050 melalui efisiensi energi, digitalisasi industri, pemanfaatan energi terbarukan, hingga pengembangan teknologi rendah karbon seperti carbon capture utilization and storage (CCUS) dan hidrogen.

“CBAM sudah diberlakukan mulai Januari kemarin, dan penalti untuk (jumlah produksi) CO2 (karbon dioksida) ini akan berkembang. Jadi ini salah satu pertimbangan kita agar bisa tetap ekspor,” kata Sidik.

Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar ITB Prof. Zulfiadi Zulhan menyebut pengembangan baja hijau membutuhkan dukungan energi bersih dalam jumlah besar, terutama untuk produksi hidrogen hijau.

“Kalau itu (masalah pasokan energi) belum selesai, jangan bicara green steel dulu. Energi itu yang paling utama,” ujar Zulfiadi.

Penulis :
Ahmad Yusuf