
Pantau - Sebuah studi dari Brown University mengungkap chatbot berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang digunakan untuk terapi kesehatan mental berpotensi melanggar kode etik profesi psikologi.
Penelitian yang dilaporkan Psychology Today pada Kamis (28/5) itu menemukan model bahasa besar atau large language models (LLM) kerap gagal mematuhi standar etika kesehatan mental, termasuk pedoman American Psychological Association (APA).
Penulis utama studi, Zainab Iftikhar, menegaskan psikoterapi tidak bisa diperlakukan sebagai tugas komputasi sederhana karena membutuhkan kepatuhan ketat terhadap etika dan perilaku profesional.
Penelitian dilakukan selama 18 bulan dengan melibatkan tujuh konselor sebaya terlatih dan tiga psikolog klinis berlisensi untuk mengevaluasi perilaku chatbot AI dalam sesi konseling.
Studi tersebut menguji sejumlah model AI seperti GPT-4, GPT-3.5, GPT-3.0, Llama 3.1, Llama 3.2, Claude 3 Haiku, hingga Claude 3 Sonnet.
Ditemukan 15 Bentuk Pelanggaran Etik
Dari 137 sesi yang dianalisis, peneliti menemukan 15 bentuk pelanggaran etik yang dibagi dalam lima kategori utama.
Kategori tersebut meliputi kurang memahami konteks, buruk dalam kolaborasi terapeutik, empati yang menyesatkan, diskriminasi tidak adil, serta lemahnya penanganan keamanan dan krisis.
Peneliti menyebut chatbot AI kerap menyederhanakan pengalaman hidup pengguna, mendominasi percakapan terapi, hingga menunjukkan empati yang dianggap manipulatif.
Selain itu, AI dinilai masih memiliki keterbatasan dalam menangani isu sensitif seperti trauma, kekerasan, dan keinginan bunuh diri.
Penggunaan AI untuk Kesehatan Mental Terus Meningkat
Penelitian ini muncul di tengah meningkatnya penggunaan AI sebagai layanan dukungan kesehatan mental di berbagai negara.
Studi lain yang diterbitkan dalam jurnal AI & Society pada Februari 2026 menunjukkan masyarakat mulai terbuka menggunakan AI sebagai penasihat kesehatan mental.
Survei terhadap 31 ribu responden dari 35 negara menunjukkan 42 persen responden di Amerika Serikat dan 41 persen di Inggris bersedia menggunakan AI untuk dukungan kesehatan mental.
Angka tersebut bahkan mencapai 86 persen di China.
Firma riset Grand View Research memperkirakan pasar AI di bidang kesehatan mental akan mencapai 9,12 miliar dolar AS pada 2033.
Meski menawarkan kemudahan akses dan dukungan real-time, peneliti mengingatkan penggunaan AI sebagai terapis memiliki risiko serius jika tidak diatur secara ketat.
Peneliti juga mendorong pemerintah dan regulator menyusun pedoman hukum yang lebih jelas untuk meminimalkan potensi bahaya bagi pengguna layanan terapi berbasis AI.
- Penulis :
- Aditya Yohan





