HOME  ⁄  Teknologi & Sains

Ilmuwan China Kembangkan Jagung Berprotein Tinggi untuk Kurangi Ketergantungan Impor Kedelai

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Ilmuwan China Kembangkan Jagung Berprotein Tinggi untuk Kurangi Ketergantungan Impor Kedelai
Foto: (Sumber : Photo: Xinhua.)

Pantau - Ilmuwan China berhasil mengembangkan varietas jagung berprotein tinggi setelah mengidentifikasi dua gen kunci yang mampu meningkatkan kandungan protein tanaman tersebut, sehingga berpotensi menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan pada impor kedelai sebagai bahan baku pakan ternak.

Pengembangan tersebut dilakukan oleh tim peneliti dari Pusat Keunggulan Ilmu Tanaman Molekuler Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).

Wakil Direktur pusat penelitian tersebut, Wu Yongrui, mengatakan kandungan protein jagung pada umumnya hanya sekitar 8 persen sehingga China masih sangat bergantung pada bungkil kedelai impor sebagai sumber protein ternak.

Pada 2025, impor kedelai China tercatat melampaui 100 juta ton.

Temukan Dua Gen Kunci Peningkat Protein

Wu menjelaskan penelitian sebelumnya menemukan bahwa jagung liar memiliki kandungan protein hingga 30 persen.

Namun, lebih dari 9.000 tahun proses domestikasi dan pemuliaan modern membuat sebagian besar gen unggul tersebut hilang karena tidak menjadi fokus seleksi.

Pada 2022, tim peneliti menemukan gen pertama bernama THP9-T yang mampu meningkatkan kandungan protein jagung.

Penelitian lanjutan kemudian berhasil mengidentifikasi gen kedua bernama THP3-T yang dapat meningkatkan kandungan protein biji jagung dari sekitar 10 persen menjadi lebih dari 13 persen tanpa mengurangi hasil panen.

Uji lapangan di berbagai lokasi juga menunjukkan tanaman tetap tumbuh baik dan mempertahankan kandungan protein tinggi meski menggunakan pupuk lebih sedikit.

Ketika THP3-T dan THP9-T digabungkan, kandungan protein jagung meningkat hingga 15 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan penggunaan masing-masing gen secara terpisah.

Berpotensi Pangkas Impor Kedelai Hingga 30 Persen

Tim peneliti kemudian menerapkan teknologi marker-assisted breeding untuk memperbaiki lebih dari 80 galur tetua jagung utama di China.

Hasilnya, kandungan protein berbagai varietas jagung meningkat hingga lebih dari 14 persen.

Salah satu varietas hibrida paling banyak dibudidayakan di China, Zhengdan958, berhasil ditingkatkan kandungan proteinnya dari 8,5 persen menjadi lebih dari 12 persen.

Wu mengungkapkan China memproduksi sekitar 300 juta ton jagung setiap tahun.

Menurutnya, jika kandungan protein jagung pakan ternak secara nasional dapat ditingkatkan menjadi lebih dari 12 persen, tambahan protein yang dihasilkan setara dengan lebih dari 30 juta ton kedelai impor atau sekitar 30 persen dari total impor kedelai saat ini.

Direktur CEMPS sekaligus akademisi CAS Han Bin mengatakan pencapaian tersebut memiliki nilai ekonomi dan sosial yang besar karena mampu menekan biaya pakan ternak, meningkatkan keuntungan industri peternakan, serta mendongkrak pendapatan petani.

Temuan ilmiah tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature pada 3 Juni 2026.

Penulis :
Aditya Yohan