HOME  ⁄  Ekonomi

Produksi Mangga NTB Melimpah, Balai Karantina Menilai Berpeluang Menjadi Komoditas Ekspor Baru

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Produksi Mangga NTB Melimpah, Balai Karantina Menilai Berpeluang Menjadi Komoditas Ekspor Baru
Foto: Kepala Karantina NTB Ina Soelistyani memaparkan berbagai inovasi layanan karantina dalam kegiatan Forum Konsultasi Publik yang digelar di Kantor Karantina NTB, Kecamatan Lembar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Senin 20/7/2026 (sumber: ANTARA/Sugiharto Purnama)

Pantau - Balai Karantina Nusa Tenggara Barat (NTB) menilai buah mangga berpeluang menjadi komoditas ekspor baru yang dapat memberikan kontribusi terhadap perputaran roda ekonomi daerah.

Kepala Karantina NTB Ina Soelistyani menyampaikan hal tersebut usai kegiatan Forum Konsultasi Publik di Lembar, Kabupaten Lombok Barat, Senin (20/7/2026).

Ina mengungkapkan, "Di sini mangga sangat banyak dan potensi itu belum digali untuk tujuan ekspor."

Sebagian besar hasil panen mangga dari berbagai wilayah di NTB saat ini masih dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Menurut Ina, mangga memiliki peluang untuk meningkatkan nilai ekspor non-tambang NTB apabila kualitas produk dan persyaratan teknis dapat dipenuhi secara konsisten.

Potensi Produksi Mangga dan Peluang Ekspor

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi mangga di NTB sepanjang 2025 mencapai 1,30 juta kuintal atau setara 130.552 ton.

Kabupaten Sumbawa menjadi daerah penghasil mangga terbesar di NTB dengan produksi mencapai 352.035 kuintal.

Kabupaten Lombok Tengah berada di posisi kedua dengan produksi mangga sebanyak 298.827 kuintal.

Kabupaten Lombok Utara menghasilkan mangga sebanyak 113.369 kuintal.

Mangga menjadi komoditas buah dengan produksi tertinggi di NTB.

Setelah mangga, komoditas buah dengan produksi terbesar berikutnya adalah pisang sebanyak 875.040 kuintal.

Produksi durian di NTB tercatat mencapai 252.866 kuintal.

Kontinuitas Pasokan Menjadi Syarat Utama

Ina menuturkan salah satu faktor terpenting dalam ekspor komoditas pertanian adalah kemampuan menjaga kontinuitas pasokan.

Ketersediaan produk secara berkelanjutan menjadi syarat utama untuk memenuhi permintaan pasar luar negeri.

Ina menegaskan, "Hal terpenting untuk ekspor adalah kontinuitas."

Selain mangga, Balai Karantina NTB juga melihat potensi ekspor dari komoditas kopi.

Balai Karantina NTB juga menilai kakao memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai komoditas ekspor.

Menurut Ina, kopi dan kakao memiliki karakteristik khas, namun potensinya belum dimanfaatkan secara maksimal untuk menembus pasar internasional.

Ina menjelaskan proses penerbitan sertifikat karantina sebagai paspor ekspor komoditas tidak membutuhkan waktu lama apabila seluruh persyaratan teknis telah dipenuhi.

Ina mengatakan, “Tidak sampai satu hari, hitungan jam, jika persyaratan teknis sudah terpenuhi di depan.”

Penulis :
Arian Mesa