HOME  ⁄  Teknologi & Sains

Akademisi ITB Lihat Peluang Penguatan Kerja Sama Maritim Indonesia-China dari Teknologi Pelabuhan Pintar Tianjin

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Akademisi ITB Lihat Peluang Penguatan Kerja Sama Maritim Indonesia-China dari Teknologi Pelabuhan Pintar Tianjin
Foto: (Sumber: Foto yang diabadikan menggunakan drone pada 2 Januari 2026 ini menunjukkan sebuah kapal kargo bertolak dari terminal anak perusahaan Tianjin Port Holdings Co., Ltd. di Pelabuhan Tianjin, Tianjin, China utara. ANTARA/Xinhua/Zhao Zishuo.)

Pantau - Akademisi Indonesia melihat peluang baru untuk memperkuat kerja sama Indonesia-China di sektor pelabuhan dan maritim setelah dosen ilmu kemaritiman Institut Teknologi Bandung (ITB), Iwan Pramesti Anwar, mengunjungi Pelabuhan Tianjin seksi Beijiang yang dikenal sebagai terminal pintar nol karbon pertama di dunia.

Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka mengikuti Lokakarya Teknis Internasional untuk Konstruksi Pelabuhan dan Jalur Air di Negara-negara Sabuk dan Jalur Sutra yang diikuti lebih dari 30 peserta dari 10 negara dan kawasan.

Pelabuhan Tianjin menggunakan teknologi otonomos dan sistem cerdas dalam operasionalnya.

Iwan mengaku terkesan dengan banyaknya kendaraan otonomos yang beroperasi di kawasan pelabuhan tersebut.

Ia mengatakan, "Sungguh luar biasa! Saya belum pernah melihat begitu banyak kendaraan otonomos beroperasi di sebuah pelabuhan!. Inilah perpaduan kecerdasan buatan, sistem otonomos dan sistem operasional nirawak, hebat sekali!"

Teknologi Tianjin Dinilai Relevan untuk Indonesia

Dalam lokakarya tersebut, peserta membahas berbagai isu mulai dari struktur pelabuhan, pemantauan keamanan, pengiriman cerdas, proyek pendukung pelabuhan, hingga pengembangan laboratorium dan riset maritim.

Iwan berharap kerja sama antara ITB dan lembaga riset di Tianjin dapat semakin diperkuat.

Menurutnya, praktik teknologi pelabuhan yang diterapkan di Tianjin masih belum banyak digunakan di Indonesia.

Ia menilai pengalaman tersebut dapat membantu optimalisasi jalur pelayaran dan pengelolaan pelabuhan nasional.

Kerja sama antara ITB dan lembaga riset Tianjin sendiri telah berlangsung sejak 2006.

Kolaborasi tersebut mencakup pertukaran personel, pengembangan platform penelitian bersama, pembangunan kolam eksperimen teknik pelabuhan, hingga pembentukan pusat penelitian bersama.

Kerja sama itu juga telah memberikan dukungan teknis bagi sejumlah proyek maritim di Indonesia.

Transfer Teknologi dan Pengembangan SDM Jadi Fokus

Dalam kerangka Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra atau Belt and Road Initiative (BRI), ITB terlibat dalam dukungan ilmiah, penelitian multidisiplin, dan pelibatan mahasiswa dalam berbagai proyek kerja sama.

Beberapa hasil nyata kolaborasi Indonesia-China di sektor pelabuhan antara lain pembangunan tahap pertama terminal Kawasan Industri Terpadu Indonesia-China (Jinjiang Park) dan terminal berkapasitas 70.000 ton di Kawasan Industri Nanshan, Bintan.

Kerja sama kedua negara juga diperluas ke bidang pelatihan sumber daya manusia dan pengembangan teknologi maritim.

Peserta lokakarya turut mengunjungi Pusat Layanan Lalu Lintas Kapal Administrasi Keselamatan Maritim Tianjin (Tianjin Vessel Traffic Service/VTS).

Sistem tersebut memungkinkan berbagi informasi secara real-time, pengaturan jadwal kapal secara dinamis, serta penyusunan rencana kedatangan dan keberangkatan yang presisi.

Penerapan sistem pelayaran cerdas itu disebut berhasil menurunkan insiden kompleks di jalur utama lebih dari 30 persen, mengurangi fluktuasi jadwal kapal dari 27 persen menjadi 13 persen, serta meningkatkan tingkat ketepatan waktu kapal utama hingga 100 persen.

Iwan menilai teknologi kecerdasan buatan, automasi, dan operasi otonomos tengah mengubah pengelolaan pelabuhan modern melalui peningkatan efisiensi operasional, keselamatan kerja, dan pengurangan kesalahan manusia.

Ia mengatakan, “BRI bukan hanya tentang pembangunan infrastruktur. Ini juga tentang berbagi pengetahuan, pengembangan bakat, dan kerja sama teknologi.”

Penulis :
Gerry Eka