
Pantau - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mengajak anak-anak memperbanyak aktivitas fisik sebagai alternatif bermain gawai melalui program Tunggu Anak Siap (Tunas) Jakarta untuk mendorong interaksi di dunia nyata sekaligus mengurangi dampak negatif paparan digital.
Program Tunas Jakarta Dorong Keseimbangan Dunia Digital dan Fisik
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemkomdigi Bonifasius Wahyu Pudjianto mengatakan anak-anak saat ini menghabiskan waktu sekitar 7,5 jam per hari di ruang digital sehingga perlu didorong kembali berinteraksi secara langsung.
Ia mengungkapkan, “Mereka (anak-anak) telah sangat aktif di ruang digital, bahkan sampai sekitar 7,5 jam per hari. Kita terus dukung kembalinya mereka berinteraksi dalam kondisi physical. Ini penting, bagaimana anak-anak bisa belajar bermain, berteman, dan mengenal dunia fisik.”
Menurut Bonifasius, program Tunas Jakarta sejalan dengan implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP Tunas yang bertujuan memastikan anak memasuki ruang digital saat benar-benar siap.
Ia menegaskan, “Tunggu Anak Siap bukan berarti menghambat anak, bukan berarti membuat anak tertinggal, namun justru sebaliknya, kita ingin memastikan anak-anak masuk ke ruang digital saat mereka benar-benar siap baik secara usia, emosi, siap secara pemahaman.”
Libatkan Berbagai Pihak dan Buka Peluang Kolaborasi Daerah
Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital Bidang Kepemudaan dan Start Up Alfreno Kautsar Ramadhan mengatakan Tunas Jakarta menjadi jawaban atas kebutuhan aktivitas alternatif bagi anak setelah adanya pembatasan akses terhadap platform digital berisiko.
Ia menyampaikan, “Kita ingin memberikan sebuah alternatif. Jadi kita selama ini selalu mendorong bahwasanya dunia digital ini ada beberapa risiko, namun kita juga harus dorong alternatifnya.”
Program yang digelar di Taman Bendera Pusaka, Jakarta Selatan, menghadirkan berbagai kegiatan seperti permainan dan olahraga dengan melibatkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, komunitas, operator seluler, hingga platform digital.
Alfreno menambahkan, “Kita ingin memberitahukan kepada publik bahwa ruang digital itu bagus, kita harus tetap memiliki pengawasan dari orang tua, namun kita juga tetap membutuhkan koneksi di ruang publik dan ruang fisik.”
Kemkomdigi juga membuka peluang kerja sama dengan pemerintah daerah lain untuk menyelenggarakan program serupa di berbagai wilayah Indonesia.
- Penulis :
- Aditya Yohan
- Editor :
- Ahmad Yusuf





