
Pantau - Para pakar menyoroti pentingnya pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara bijak untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan daya tarik peradaban China dalam Forum Pertama tentang Kekuatan Komunikasi dan Pengaruh Peradaban China yang digelar di Beijing.
AI Dinilai Mampu Memperluas Promosi Budaya
Forum yang berlangsung bertepatan dengan Hari Internasional untuk Dialog Antarperadaban itu menjadi wadah pertukaran pandangan mengenai komunikasi internasional dan promosi peradaban China.
Wakil Presiden International Confucian Association, Niu Xiping, mengatakan, “AI dapat membantu kita menembus hambatan besar bahasa dan budaya, memungkinkan nilai inti peradaban China dikenal secara global dengan cepat.”
Menurutnya, perkembangan AI menghadirkan peluang besar untuk memperkenalkan budaya China kepada masyarakat dunia melalui pendekatan yang lebih mudah diakses.
Salah satu contoh penerapannya terlihat di Dunhuang melalui platform Digital Library Cave yang memungkinkan pengguna menerjemahkan teks klasik ke berbagai bahasa dan memperoleh penjelasan dari asisten AI mengenai warisan budaya di Gua Mogao.
Pakar Ingatkan Risiko Bias Algoritma
Selain peluang, para akademisi juga mengingatkan adanya tantangan dalam penggunaan AI untuk promosi budaya.
Ahli dari sekolah Partai Komite Liga Hinggan Partai Komunis China, Xu Chang’an, menyatakan, “Bias algoritma AI dapat menyebabkan kesalahan penafsiran budaya dan mengikis keaslian budaya kita.”
Senada dengan itu, Kepala Fakultas Sinologi dan Studi China Universitas Bahasa dan Budaya Beijing, Xu Baofeng, menilai alat AI masih dapat menghasilkan analisis yang kurang akurat akibat keterbatasan penyelarasan lintas bahasa.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Xu Baofeng bersama tim penelitinya bekerja sama dengan para sinolog internasional dalam mengembangkan model AI yang lebih mampu menafsirkan pengetahuan dan sistem nilai peradaban China dalam berbagai bahasa.
Menutup pandangannya, Niu Xiping menegaskan, “Kita tidak boleh merasa optimistis yang berlebihan terhadap AI, tetapi juga tidak boleh menghindari teknologi tersebut.”
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





