
Pantau - Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dinilai membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui prediksi risiko dan deteksi dini sebelum kebakaran meluas.
Pemanfaatan teknologi tersebut menjadi relevan karena karhutla masih terjadi di berbagai wilayah meskipun Indonesia telah menjalankan pemantauan titik panas dan berbagai upaya pencegahan serta pemadaman.
Analisis yang dipublikasikan sejumlah lembaga pemantau menunjukkan sedikitnya 218 ribu hektare hutan dan lahan terindikasi terbakar sepanjang Januari hingga Agustus 2025.
Hampir separuh area yang terindikasi terbakar tersebut berada di kawasan konsesi perkebunan, pertambangan, dan energi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga menyatakan banyak kasus karhutla di Indonesia berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan dan kelalaian manusia.
AI Bisa Memprediksi Risiko Kebakaran
Indonesia selama ini telah memanfaatkan teknologi satelit melalui platform seperti SiPongi dan pemantauan titik panas BMKG dengan data satelit MODIS dan VIIRS untuk mendeteksi titik panas secara hampir real-time.
Teknologi AI dapat membawa sistem pemantauan tersebut lebih jauh dengan menganalisis kombinasi data cuaca, suhu udara, kelembapan tanah, kecepatan angin, kondisi vegetasi, riwayat kebakaran, hingga aktivitas manusia untuk memperkirakan kemungkinan terjadinya kebakaran.
Pendekatan tersebut memungkinkan penanganan karhutla tidak hanya dilakukan ketika api sudah muncul, tetapi juga melalui identifikasi wilayah berisiko sehingga langkah pencegahan dapat dipersiapkan lebih dini.
Penggunaan AI untuk deteksi dini kebakaran telah dikembangkan di sejumlah negara yang menghadapi ancaman kebakaran hutan, termasuk Kanada setelah mengalami musim kebakaran besar pada 2023.
Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah SenseNet yang menggabungkan kamera pintar, sensor gas, data satelit, dan analisis prediktif untuk mendeteksi potensi kebakaran.
Teknologi Perkuat Mitigasi Karhutla
Karhutla selama ini tidak hanya mengakibatkan kerusakan hutan dan lingkungan, tetapi juga memicu kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga penerbangan.
Kemampuan mengolah data dalam jumlah besar membuat AI berpotensi membantu pemerintah dan petugas lapangan menentukan daerah dengan tingkat risiko tinggi serta mendukung pengambilan keputusan secara real-time.
Pemanfaatan teknologi tersebut dapat melengkapi sistem satelit dan pemantauan lapangan yang telah digunakan dalam penanganan karhutla di Indonesia.
Penerapan AI secara tepat membuka peluang bagi Indonesia untuk menggeser pola penanganan karhutla dari dominan memadamkan kebakaran menuju pencegahan sebelum api berkembang dan menyebar luas.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




