
Pantau - Inovasi bahan bakar Bobibos yang dikembangkan dari jerami padi menjadi salah satu upaya pemanfaatan limbah pertanian untuk mendukung kemandirian energi Indonesia, dengan hasil pengujian mencatat angka oktan riset atau RON 98,1 untuk varian bensinnya.
Bobibos merupakan akronim dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos yang lahir dari riset mandiri M Ikhlas Thamrin selama lebih dari 10 tahun sebelum diperkenalkan kepada publik di Jonggol, Kabupaten Bogor, pada November 2025 di bawah PT Inti Sinergi Formula.
Pengembangan tersebut sejalan dengan visi kemandirian energi yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto melalui pemanfaatan berbagai sumber daya dalam negeri sebagai bahan bakar alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor.
Prabowo sebelumnya menyebut para profesor Indonesia tengah mengembangkan bensin dari kelapa sawit serta etanol dari singkong, jagung, dan sorgum dengan target Indonesia mampu menghasilkan bahan bakar dari tanaman dalam tiga hingga empat tahun ke depan.
Visi pemanfaatan sumber energi alternatif itu juga telah disampaikan Prabowo sejak pelantikannya pada Oktober 2024 dengan menyebut singkong, tebu, dan sagu sebagai sejumlah sumber energi yang dapat dikembangkan.
Jerami Padi Dipilih karena Dinilai Lebih Efisien
Tim riset Bobibos sebelumnya mencoba sejumlah bahan baku seperti tebu, singkong, dan mikroalga sebelum akhirnya memilih jerami padi karena dinilai paling efisien dari sisi biaya produksi serta tersedia melimpah di berbagai sentra pertanian Indonesia.
Hasil pengujian Lembaga Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada April 2026 mencatat varian bensin Bobibos memiliki RON 98,1 berdasarkan metode ASTM D 2699-19e1.
Hasil tersebut membuat Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM meminta pengembang Bobibos untuk terlebih dahulu memfokuskan pengembangan pada lini bensin.
Bahan bakar tersebut menggunakan bahan baku yang berasal dari zat organik tumbuhan dan diklaim memiliki pembakaran yang nyaris tidak menyisakan emisi gas buang sehingga ditawarkan sebagai alternatif bahan bakar berbasis fosil.
Pemanfaatan jerami juga berpotensi memberikan nilai ekonomi baru bagi limbah pertanian yang selama ini kerap dibakar petani setelah masa panen selesai.
Satu hektare sawah yang menghasilkan sekitar sembilan ton jerami diklaim dapat diolah menjadi sekitar 3.000 liter Bobibos sehingga limbah pertanian tersebut berpotensi berubah menjadi komoditas bernilai jual.
Bobibos Mulai Dilirik untuk Diproduksi di Timor Leste
Pengembangan Bobibos juga mulai menjangkau pasar regional setelah PT Inti Sinergi Formula menjalin kerja sama dengan Timor Agranova SA untuk mengembangkan sekaligus memproduksi massal bahan bakar tersebut di Timor Leste.
Kerja sama tersebut membuat inovasi energi nabati asal Indonesia itu mulai mendapat perhatian untuk dikembangkan di luar negeri.
Uji coba lapangan Bobibos juga telah dilakukan terhadap berbagai jenis kendaraan, mulai dari sepeda motor Honda BeAT hingga kendaraan bermesin diesel Nissan Navara.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turut mencoba bahan bakar tersebut pada traktor diesel di Lembur Pakuan dengan hasil yang disebut menunjukkan tarikan mesin lebih ringan dan asap buang lebih bersih.
Limbah Jadi Alternatif Menuju Swasembada Energi
Pengembangan bahan bakar berbasis jerami menunjukkan upaya menuju swasembada energi dapat dilakukan dengan memanfaatkan material yang selama ini menjadi limbah tanpa harus sepenuhnya bergantung pada penanaman komoditas baru.
Pemanfaatan limbah pertanian tersebut sekaligus membuka kemungkinan adanya nilai tambah bagi petani apabila jerami yang sebelumnya tidak memiliki nilai optimal dapat masuk ke dalam rantai produksi energi.
Inovasi berbasis limbah seperti Bobibos menjadi bagian dari munculnya alternatif sumber energi dalam negeri di tengah upaya pemerintah memperkuat kemandirian energi nasional.
- Penulis :
- Gerry Eka




