
Pantau - Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid bertemu President Urusan Global Microsoft Lisa Monaco di New York, Amerika Serikat, Rabu (23/9/2026), untuk membahas strategi investasi berkelanjutan serta penguatan kapasitas teknologi Indonesia.
Pertemuan tersebut membahas kelanjutan komitmen investasi Microsoft sebesar 1,7 miliar dolar AS atau setara Rp27,6 triliun yang diumumkan pada 2024.
Meutya menegaskan investasi tersebut diharapkan memberikan manfaat jangka panjang bagi pengembangan kapasitas teknologi nasional.
"Kami berharap Indonesia dapat semakin menjadi bukan hanya pasar penting bagi Microsoft, tetapi juga pusat strategis infrastruktur digital dan inovasi di kawasan," kata Meutya dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Jumat (25/9/2026).
Pemerintah Dorong Transfer Teknologi dan Pengembangan Talenta
Menurut Meutya, pertumbuhan ekonomi digital Indonesia membutuhkan infrastruktur yang semakin tangguh, inklusif, serta mampu mendukung kebutuhan masyarakat dan industri.
Pemerintah berharap investasi teknologi tidak hanya berbentuk pembangunan infrastruktur, tetapi juga berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas nasional.
Kolaborasi dengan Microsoft diharapkan membuka lebih banyak ruang bagi institusi, pelaku usaha, pengembang, dan perusahaan teknologi Indonesia untuk meningkatkan kemampuan serta memanfaatkan keahlian teknologi global.
Kerja sama tersebut mencakup kecerdasan buatan atau AI, teknologi cloud, keamanan siber, serta tata kelola teknologi yang bertanggung jawab.
Pemerintah juga mendorong keterkaitan antara pengembangan keterampilan digital dan kebutuhan industri agar talenta Indonesia memiliki akses terhadap peluang kerja serta pengembangan karier di sektor digital.
"Tujuan kami bukan hanya meningkatkan jumlah masyarakat yang memiliki keterampilan digital, tetapi juga mengembangkan lebih banyak pengembang, inovator, insinyur, dan pemimpin digital Indonesia," tutur Meutya.
Tata Kelola AI dan Pelindungan Anak Jadi Pembahasan
Dalam pengembangan AI, pemerintah tengah menyiapkan kerangka tata kelola nasional melalui rancangan Peraturan Presiden tentang Peta Jalan dan Etika AI.
Kerangka tersebut diarahkan untuk memberikan kepastian dalam pengembangan AI yang etis, aman, inklusif, dan bertanggung jawab.
"Kami ingin memastikan bahwa regulasi tidak menghambat inovasi, tetapi, justru memberikan perlindungan dan kepastian yang tepat agar AI dapat berkembang secara bertanggung jawab," kata Meutya menjelaskan.
Pertemuan juga membahas pelindungan anak di ruang digital dan implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS.
Meutya mengajak Microsoft memperkuat kolaborasi melalui penerapan prinsip keamanan sejak tahap perancangan teknologi serta pengembangan teknologi secara bertanggung jawab.
"Ke depan, kami ingin memperdalam komitmen Microsoft terhadap Indonesia melalui investasi infrastruktur digital, transfer teknologi dan pengetahuan, pengembangan talenta digital, serta kolaborasi yang lebih kuat untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih aman bagi anak-anak Indonesia," ujar Meutya.
Kemitraan pemerintah dengan Microsoft diharapkan berkontribusi terhadap agenda Indonesia Emas 2045 melalui peningkatan kapabilitas dan daya saing digital nasional.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




