
Pantau - Ancaman serangan siber menjadi perhatian serius bagi dunia usaha seiring pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang berpotensi mengganggu layanan hingga melumpuhkan operasional perusahaan.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Bali Tech Week (BTW) 2026 yang berlangsung di Denpasar, Bali, Rabu, 21 Oktober 2026.
President Director ITSEC Asia, Patrick Dannacher, menegaskan bahwa perkembangan AI dan meningkatnya ancaman siber telah mengubah cara perusahaan menjalankan bisnis sekaligus mengelola risiko keamanan digital.
Menurut Patrick, keputusan strategis yang diambil para pemimpin perusahaan saat ini akan menentukan kemampuan organisasi dalam menghadapi perubahan teknologi pada beberapa tahun mendatang.
"Keputusan yang dibuat oleh para pemimpin hari ini akan menentukan posisi organisasi mereka dalam beberapa tahun ke depan. AI mengubah cara bisnis beroperasi, sementara ancaman siber dan perkembangan teknologi baru turut mengubah risiko yang harus mereka hadapi," kata Patrick dalam Bali Tech Week 2026.
Perkembangan AI Tingkatkan Tantangan Keamanan Siber bagi Perusahaan
Patrick menjelaskan bahwa pemanfaatan AI dalam kegiatan bisnis tidak hanya menghadirkan perubahan pada proses operasional, tetapi juga memunculkan tantangan baru dalam pengelolaan risiko.
Perusahaan dituntut memahami berbagai ancaman digital yang berkembang seiring meningkatnya penggunaan teknologi dalam aktivitas bisnis.
Menurutnya, pemimpin organisasi tidak cukup hanya berfokus pada penerapan teknologi baru tanpa mempertimbangkan kesiapan sistem keamanan perusahaan.
Ancaman serangan siber dapat menyebabkan gangguan layanan, menghambat aktivitas operasional, hingga memengaruhi keberlangsungan bisnis apabila tidak diantisipasi secara memadai.
Patrick menekankan bahwa perkembangan teknologi dan perubahan risiko keamanan digital harus direspons melalui keputusan yang jelas dan terarah.
Salah satu langkah penting adalah menetapkan prioritas organisasi dalam menghadapi perkembangan AI dan ancaman keamanan siber.
Selain menentukan prioritas, perusahaan juga perlu mempertimbangkan investasi yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan teknologi dan perlindungan sistem digital.
Penguatan kemampuan organisasi menjadi aspek lain yang harus diperhatikan agar perusahaan mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi.
Dengan demikian, keputusan mengenai prioritas, investasi, dan peningkatan kapasitas organisasi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bisnis di era AI.
Kemkomdigi Tegaskan Keamanan Siber Harus Jadi Fondasi Pengembangan AI
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Edwin Hidayat Abdullah, menegaskan bahwa keamanan siber harus menjadi dasar dalam pengembangan inovasi dan penerapan teknologi AI.
Menurut Edwin, transformasi digital tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan untuk membangun sistem keamanan yang mampu menghadapi berbagai ancaman.
Ia menilai penguatan keamanan siber harus didukung investasi berkelanjutan agar ekosistem digital Indonesia memiliki kesiapan menghadapi perkembangan teknologi.
Investasi tersebut mencakup pengembangan sumber daya manusia, penyediaan infrastruktur, serta pemanfaatan teknologi keamanan digital.
"Keamanan siber harus menjadi fondasi bagi inovasi dan adopsi AI, yang didukung oleh investasi berkelanjutan dalam sumber daya manusia, infrastruktur dan teknologi," kata Edwin.
Edwin menjelaskan bahwa pengembangan talenta digital menjadi salah satu kebutuhan penting dalam menghadapi perkembangan AI dan meningkatnya risiko serangan siber.
Kemajuan teknologi membutuhkan sumber daya manusia yang mampu memahami, mengembangkan, serta mengelola sistem digital dengan memperhatikan aspek keamanan.
Penguatan kemampuan tenaga kerja digital juga diperlukan agar organisasi dapat mengantisipasi ancaman yang muncul seiring semakin luasnya pemanfaatan teknologi.
Selain peningkatan kualitas sumber daya manusia, Edwin menekankan pentingnya penguatan infrastruktur sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan ekosistem digital.
Kesiapan infrastruktur dan teknologi keamanan menjadi faktor pendukung agar proses transformasi digital dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Pemerintah Dorong Kolaborasi Industri, Akademisi, dan Masyarakat
Edwin turut menyoroti pentingnya kerja sama lintas sektor dalam membangun ekosistem digital yang aman dan tangguh.
Menurutnya, penguatan keamanan siber dan kesiapan menghadapi perkembangan AI tidak dapat dilakukan pemerintah secara sendiri.
Upaya tersebut memerlukan keterlibatan pelaku industri, kalangan akademisi, serta masyarakat sipil.
Pemerintah memiliki peran dalam mendukung pengembangan ekosistem digital, sementara industri berkontribusi melalui penerapan teknologi dan peningkatan kapasitas keamanan.
Kalangan akademisi juga memiliki peran dalam pengembangan pengetahuan dan sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk menghadapi perubahan teknologi.
Sementara itu, keterlibatan masyarakat sipil menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan pengguna teknologi digital dalam menghadapi risiko keamanan.
Kolaborasi berbagai pihak tersebut diperlukan agar pengembangan AI dan transformasi digital berjalan seiring dengan peningkatan kemampuan perlindungan sistem.
Pendekatan lintas sektor juga menjadi salah satu langkah untuk memastikan penguatan keamanan siber tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi mencakup kesiapan seluruh pihak yang terlibat.
BSSN Ingatkan Transformasi Digital Tidak Bisa Berjalan Tanpa Keamanan Siber
Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Slamet Aji Pamungkas, menegaskan bahwa keamanan siber merupakan unsur mendasar dalam menjaga keberlanjutan transformasi digital.
Menurut Slamet, pengembangan AI dan berbagai inovasi teknologi tidak akan berjalan secara berkelanjutan apabila tidak disertai sistem perlindungan yang memadai.
Ia menilai kemajuan teknologi harus diimbangi kemampuan organisasi dalam melindungi sistem digital dari ancaman yang berpotensi mengganggu layanan dan operasional.
"Kita dapat berbicara tentang AI, transformasi digital, inovasi dan masa depan teknologi. Namun, semua ambisi tersebut tidak akan dapat berjalan secara berkelanjutan tanpa keamanan siber," ujar Slamet.
Slamet menjelaskan bahwa keamanan siber harus menjadi bagian dari keseluruhan proses pengembangan teknologi digital.
Perlindungan sistem tidak seharusnya hanya dilakukan setelah teknologi selesai dikembangkan atau mulai digunakan.
Sebaliknya, pertimbangan keamanan perlu diterapkan sejak tahap awal perancangan sistem agar risiko dapat diperhitungkan dalam proses pengembangan.
Pendekatan tersebut memungkinkan organisasi menjadikan keamanan sebagai bagian dari fondasi teknologi yang dibangun.
Slamet juga menekankan bahwa aspek keamanan harus terus diperhatikan hingga tahap penerapan dan penggunaan teknologi dalam kegiatan organisasi maupun masyarakat.
Dengan demikian, perlindungan sistem digital perlu diterapkan secara menyeluruh mulai dari perencanaan, pengembangan, hingga pemanfaatan teknologi.
Ketahanan Siber Jadi Tanggung Jawab Bersama
Selain menekankan pentingnya keamanan sejak tahap perancangan, Slamet mengingatkan bahwa penguatan ketahanan siber tidak dapat dibebankan hanya kepada satu lembaga.
Menurutnya, perlindungan terhadap sistem digital merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat.
Keterlibatan berbagai pihak diperlukan karena pemanfaatan teknologi digital semakin luas dalam kegiatan ekonomi dan kehidupan sehari-hari.
Ancaman serangan siber juga dapat memengaruhi berbagai sektor, termasuk perusahaan yang mengandalkan sistem digital untuk menjalankan layanan dan aktivitas operasional.
Dalam dunia usaha, gangguan keamanan digital berpotensi menyebabkan terhentinya layanan serta menghambat kelangsungan kegiatan bisnis.
Perkembangan AI turut menuntut organisasi untuk memperhitungkan perubahan risiko teknologi dalam menyusun strategi dan menentukan kebutuhan investasi jangka panjang.
Karena itu, penguatan ketahanan siber menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung pemanfaatan teknologi secara aman dan berkelanjutan.
Bali Tech Week 2026 Soroti Kesiapan Bisnis Menghadapi Ancaman Digital
Pembahasan dalam Bali Tech Week 2026 memperlihatkan sejumlah aspek yang perlu diperhatikan dalam menghadapi perkembangan AI dan meningkatnya ancaman keamanan siber.
Patrick Dannacher menekankan pentingnya keputusan strategis para pemimpin perusahaan dalam menentukan prioritas, investasi, dan kemampuan organisasi.
Sementara itu, Edwin Hidayat Abdullah menyoroti kebutuhan investasi berkelanjutan dalam pengembangan talenta digital, infrastruktur, dan teknologi keamanan.
Adapun Slamet Aji Pamungkas menegaskan bahwa perlindungan sistem harus diterapkan sejak tahap perancangan hingga penggunaan teknologi.
Ketiga narasumber tersebut sama-sama menempatkan keamanan siber sebagai bagian penting dalam menjaga keberlangsungan transformasi digital.
Melalui penyelenggaraan Bali Tech Week 2026, penguatan keamanan digital, kesiapan organisasi, dan kolaborasi lintas sektor menjadi perhatian dalam menghadapi perkembangan AI.
Langkah tersebut diperlukan untuk mendukung inovasi teknologi sekaligus mengurangi risiko serangan siber yang dapat mengganggu layanan dan operasional bisnis.
- Penulis :
- Arian Mesa




