
Pantau - Kepala Sekolah Partai DPP PDI Perjuangan (PDIP), Komarudin Watubun, mengajak generasi Z (Gen Z) mewarisi semangat Sumpah Pemuda untuk menjaga persatuan bangsa sekaligus mempersiapkan diri sebagai penerus kepemimpinan nasional.
Ajakan tersebut disampaikan Komarudin saat membuka kegiatan Muda-Mudi Sekolah Partai PDI Perjuangan yang dihadiri ratusan generasi muda dari berbagai daerah di Jakarta, Rabu.
Komarudin menegaskan bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab besar untuk merawat keberagaman dan melanjutkan perjuangan para pendiri bangsa dalam menjaga keutuhan Indonesia.
Komarudin Ingatkan Gen Z tentang Perjuangan Pendiri Bangsa
Dalam kegiatan tersebut, Komarudin menyoroti potret sejumlah tokoh bangsa yang terpampang di pintu masuk Sekolah Partai DPP PDIP sebagai simbol perjuangan bersama dalam membangun Indonesia.
Potret itu menampilkan Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, Bung Karno dan Bung Hatta, berdampingan dengan tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, serta tokoh agama Katolik, Protestan, Hindu, dan Buddha.
Menurut Komarudin, keberadaan potret tersebut bukan sekadar dekorasi, melainkan pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia lahir melalui perjuangan bersama masyarakat dari berbagai latar belakang.
"Pajangan sejarah itu bukan sekadar hiasan dinding. Itu adalah pengingat abadi bagi kita semua. Tanpa cucuran keringat, air mata, dan perjuangan bersama dari para pendahulu yang luhur itu, kita tidak akan pernah mungkin, kita yang berbeda latar belakang, berbeda suku, berbeda agama, bisa duduk bersama-sama di tempat ini hari ini," kata Komarudin.
Ia menekankan bahwa perbedaan suku, agama, dan latar belakang tidak boleh menjadi penghalang bagi masyarakat Indonesia untuk membangun kebersamaan.
Komarudin juga mengingatkan bahwa masa depan bangsa berada di tangan generasi muda yang kelak akan melanjutkan estafet kepemimpinan nasional.
Menurutnya, pertemuan generasi muda dalam kegiatan Sekolah Partai PDIP memiliki keterkaitan dengan nilai-nilai sejarah bangsa, khususnya semangat persatuan yang diwariskan melalui Sumpah Pemuda.
"Jiwa persatuan yang melintasi zaman tersebut harus dirawat oleh generasi z Indonesia saat ini," ujarnya.
Komarudin menilai antusiasme peserta dalam kegiatan tersebut sekaligus membantah anggapan bahwa seluruh Gen Z tidak tertarik terhadap politik atau cenderung bersikap apolitis.
Kehadiran anak muda dari berbagai daerah menunjukkan adanya minat untuk memahami persoalan kebangsaan sekaligus mengenal aktivitas partai politik secara langsung.
Sekolah Partai PDIP Perkuat Logika, Etika, dan Estetika
Komarudin menjelaskan bahwa Sekolah Partai DPP PDIP dirancang untuk menghidupkan kembali warisan sejarah bangsa melalui tiga pilar utama, yakni logika, etika, dan estetika.
Ketiga pilar tersebut menjadi landasan dalam membentuk generasi muda yang mampu berpikir kritis, memiliki integritas moral, dan menghasilkan karya kreatif.
Pilar logika dikembangkan melalui ruang dialektika atau diskusi yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengasah kemampuan berpikir kritis dan mencari solusi atas berbagai persoalan.
Melalui pendekatan tersebut, generasi muda diharapkan mampu memahami perkembangan sosial, politik, dan ekonomi, baik yang berlangsung saat ini maupun tantangan yang berpotensi muncul pada masa mendatang.
Sementara itu, pilar etika diwujudkan melalui penanaman nilai kebersamaan, tanggung jawab, dan komitmen jangka panjang dalam menjaga ruang dialog.
Penguatan etika juga diarahkan agar peserta tidak hanya mengandalkan kemampuan intelektual, tetapi turut menjunjung moralitas dalam kehidupan bermasyarakat.
Adapun pilar estetika dikembangkan melalui pelatihan pembuatan konten kreatif yang mengandung nilai ideologis serta kegiatan apresiasi terhadap kekayaan budaya Indonesia.
Salah satu penerapan pilar estetika dalam kegiatan tersebut ditampilkan melalui pertunjukan seni Angklung Revolution.
Komarudin berharap perpaduan ketiga pilar tersebut dapat melahirkan generasi muda yang kritis, bermoral, kreatif, dan memiliki kesadaran kebangsaan.
Gen Z Didorong Produksi Konten Digital Bernilai Nasionalisme
Selain memperkuat pemahaman sejarah dan kebangsaan, Komarudin mendorong generasi muda memanfaatkan perkembangan teknologi digital dan media sosial secara produktif.
Menurutnya, kreativitas anak muda dalam menghasilkan konten digital seharusnya tidak hanya diarahkan untuk mengejar popularitas.
Konten yang diproduksi diharapkan memiliki nilai ideologis, menjunjung moralitas, serta menyampaikan pesan nasionalisme yang mampu mempererat persatuan masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, Sekolah Partai PDIP berupaya menggabungkan pendidikan politik dengan pengembangan kreativitas generasi muda di tengah perkembangan teknologi.
Ribuan Anak Muda Mendaftar, Ratusan Peserta Lolos Seleksi
Sementara itu, Sekretaris Sekolah Partai PDI Perjuangan, Nida, mengungkapkan bahwa kegiatan Muda-Mudi Sekolah Partai PDIP mendapat perhatian besar dari generasi muda.
Menurut Nida, ribuan calon peserta sebelumnya telah mengisi formulir pendaftaran secara daring untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Panitia kemudian melakukan proses verifikasi terhadap sejumlah dokumen dan informasi pendaftar, mulai dari kartu tanda mahasiswa (KTM), kartu tanda penduduk (KTP), hingga rekam jejak media sosial.
Setelah melalui proses seleksi ketat, panitia menetapkan ratusan peserta terpilih untuk mengikuti kegiatan Muda-Mudi Sekolah Partai PDI Perjuangan.
Nida turut mengapresiasi kesungguhan para peserta yang bersedia mengeluarkan biaya pribadi demi menghadiri kegiatan tersebut.
Salah satu peserta yang mendapat perhatiannya berasal dari Bandung dan menggunakan kereta cepat Whoosh dengan biaya mandiri untuk mengikuti Sekolah Partai PDIP di Jakarta.
Menurut Nida, antusiasme tersebut menunjukkan adanya keinginan generasi muda untuk mengenal dunia politik secara lebih dekat.
PDIP Tekankan Politik Bukan Sekadar Menang Pemilu
Nida menjelaskan bahwa salah satu tujuan penyelenggaraan Muda-Mudi Sekolah Partai adalah memperkenalkan PDI Perjuangan kepada generasi muda sekaligus memberikan pemahaman mengenai tanggung jawab partai politik.
Ia menekankan bahwa aktivitas politik tidak hanya berkaitan dengan persaingan elektoral maupun upaya memenangkan pemilihan umum.
Partai politik, menurutnya, juga memiliki kewajiban memberikan pendidikan politik kepada masyarakat serta menjaga kualitas kehidupan demokrasi.
"Bahwa ketika kita berbicara politik, kita enggak hanya cuman sekadar cerita soal elektoral, cerita soal kemenangan pemilu, tetapi juga ada amanah untuk menyampaikan edukasi ke masyarakat dan menjaga kewarasan demokrasi," ujar Nida.
Melalui kegiatan tersebut, PDIP berupaya membuka ruang bagi generasi muda untuk memahami politik sebagai bagian dari tanggung jawab kebangsaan.
Program Muda-Mudi Sekolah Partai juga diarahkan untuk menanamkan nilai persatuan, pemikiran kritis, moralitas, kreativitas, dan nasionalisme yang berakar pada semangat Sumpah Pemuda.
Dengan melibatkan peserta dari berbagai daerah, kegiatan ini menjadi salah satu upaya PDIP memperkenalkan pendidikan politik sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam kehidupan demokrasi Indonesia.
- Penulis :
- Shila Glorya




