Pantau Flash
Kasus Positif Korona Meningkat, Rupiah Melemah Rp16.390 per Dolar
Alami Komplikasi Akibat Korona, Bintang 'Star Wars' Meninggal Dunia
Peneliti Indonesia Ikut Riset Gabungan Temuan Obat Covid-19 di Bawah WHO
Presiden Jokowi: Pemerintah dengan BI dan OJK Optimalkan Kebijakan Moneter
Kepanikan Akibat Korona Mereda, BI: Modal Asing Mulai Masuk

MUI Keluarkan Fatwa, Tenaga Medis dengan APD Boleh Tak Wudhu saat Mau Salat

Headline
MUI Keluarkan Fatwa, Tenaga Medis dengan APD Boleh Tak Wudhu saat Mau Salat Sekretaris Komisi Fatwa MUI Dr HM Asrorun Niam Sholeh MA. (Foto: Antara/Muhammad Zulfikar)

Pantau.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa soal tenaga medis dengan alat pengaman diri (APD) yang mengurusi pasien COVID-19 boleh tidak wudhu karena itu dalam keadaan mendesak.

"Dalam kondisi hadas dan tidak mungkin bersuci (wudhu atau tayamum), maka ia melaksanakan salat boleh dalam kondisi tidak suci dan tidak perlu mengulangi (i’adah)," demikian bunyi Fatwa MUI Nomor 17 Tahun 2020 yang disahkan Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin AF dan Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh di Jakarta, Kamis (26/3/2020).

Baca juga: Jika Tetap Ada Pemudik di Tengah Pandemi Korona, Wapres Bilang Begini

Hasanuddin mengatakan fatwa tersebut agar menjadi pedoman salat bagi tenaga kesehatan yang memakai APD saat menangani pasien COVID-19.

Salah satu poin penting fatwa, kata dia, tenaga kesehatan Muslim yang merawat pasien COVID-19 dengan APD tetap wajib melaksanakan salat fardhu dengan berbagai kondisinya diikuti sejumlah keringanan.

Pada kondisi tenaga medis berada dalam rentang waktu salat dan memiliki wudlu, kata dia, maka boleh melaksanakan salat dalam waktu yang ditentukan meski dengan tetap memakai APD yang ada.

Sementara dalam kondisi sulit berwudlu maka dia bertayamum kemudian melaksanakan salat, kata dia.

Saat kondisi APD yang dipakai terkena najis dan tidak memungkinkan untuk dilepas atau disucikan, kata Hasanuddin, maka yang bersangkutan melaksanakan salat boleh dalam kondisi tidak suci dan mengulangi halat (i’adah) usai bertugas.

Dia mengatakan ketika kondisi jam kerja tenaga medis sudah selesai atau sebelum mulai kerja masih mendapati waktu salat maka wajib salat fardhu sebagaimana mestinya.

Kemudian, kata dia, dalam kondisi tenaga medis bertugas mulai sebelum masuk waktu zuhur atau magrib dan berakhir masih berada di waktu salat ashar atau isya maka boleh melaksanakan salat dengan jamak ta'khir.

Baca juga: Arab Saudi Pulangkan Jemaah Umrah Indonesia yang Terlantar Secara Gratis

Sementara dalam kondisi bertugas mulai saat waktu zuhur atau magrib dan diperkirakan tidak dapat melaksanakan salat asar atau isya, lanjut dia, maka yang bersangkutan boleh melaksanakan salat dengan jamak taqdim.

"Dalam kondisi ketika jam kerjanya berada dalam rentang waktu dua salat yang bisa dijamak (zuhur dan asar serta maghrib dan isya’), maka ia boleh melaksanakan salat dengan jamak," kata dia.

Hasanuddin mengatakan bagi penanggung jawab bidang kesehatan wajib mengatur shift bagi tenaga kesehatan Muslim yang bertugas dengan mempertimbangkan waktu salat agar dapat menjalankan kewajiban ibadah dan menjaga keselamatan diri.

"Tenaga kesehatan menjadikan fatwa ini sebagai pedoman untuk melaksanakan salat dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan diri," katanya.


Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Adryan Novandia

Berita Terkait: