Pantau Flash
Vonis Kiagus diwarnai Isak tangis sang istri
Sah, RUU Ibu Kota Negara Jadi Undang-Undang
Lexus Boyong LX600 Off Road ke Tokyo Auto Salon 2022
Corona Belum Selesai, Muncul Lagi Virus Baru Bernama Flurona
Ade jadi Korban Begal Saat Tunggu Ibu Belanja di Pasar Cakung

Pesawat N-250 BJ Habibie Dimuseumkan, Ada Keprihatinan dari Gedung Parlemen

Pesawat N-250 BJ Habibie Dimuseumkan, Ada Keprihatinan dari Gedung Parlemen Pesawat N250 Gatotkaca karya Presiden ke-3 Republik Indonesia B.J. Habibie tersebut menambah koleksi museum tersebut. (Foto: Antara/Hendra Nurdiyansyah)

Pantau.com - Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto prihatin PT. Dirgantara Indonesia (PTDI) menghibahkan pesawat N250 karya Presiden BJ Habibie kepada TNI-AU, dan akan dimuseumkan di Pusat Dirgantara Mandala (Pusdirla) Yogyakarta.

Padahal 10 Agustus lalu, insan Iptek bersama Presiden Joko Widodo baru saja memperingati 25 Tahun Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas), yakni hari dimana pertama kali N-250 Gatot Kaca yang seratus persen buatan Indonesia diterbangkan.

“Secara resmi acara serah terima akan dilakukan esok hari, 25 Agustus 2020. Ini tentu sangat memprihatinkan buat saya. Padahal 10 Agustus lalu insan Iptek bersama Presiden Jokowi baru saja memperingati 25 Tahun Hakteknas. Harteknas yang diperingati setiap tanggal 10 Agustus itu diambil dari hari pertama kali diterbangkannya pesawat N-250 Gatot Kaca yang seratus persen buatan Indonesia. Cukup memilukan hati,” ujar Mulyanto dalam siaran pers yang diterima Parlementaria, yang dilansir dari laman dpr.go.id, Senin (24/8/2020).

Baca juga: Pesawat N250 Karya BJ Habibie Tersangkut di Gardu Tol, Bagaimana Bisa?

Ia menilai keputusan memuseumkan pesawat N250 adalah sebuah ironi dalam pencapaian iptek dan inovasi nasional. Pesawat N250 digadang-gadang sebagai produk unggulan inovasi Indonesia kini ternyata berakhir tragis menjadi barang koleksi semata. Menurutnya, pemuseuman tersebut dapat dipandang sebagai ujung gelap dunia Iptek dan inovasi. Seperti isyarat kepada masyarakat ilmiah, bahwa iptek dan inovasi itu bukanlah sesuatu yang penting.

Dengan kata lain, produk yang dihasilkannya kelak akan mengisi museum, yang indah dipandang mata. Bukan produk yang secara ekonomi, hankam dan sosial kemasyarakatan bermanfaat secara luas.

“Penilaian itu tentu bukan tanpa alasan. Sekarang coba tengok, apakah program pengembangan produksi pesawat sejenis ini masuk ke dalam Proyek Strategis Nasional (PSN)? Tidak kan? Pesawat R-80 dan pesawat N-245 dicoret dari program PSN. Kemudian bandingkan antara anggaran riset vaksin Corona dengan biaya jasa para buzzer dan influencer, tidak ada apa-apanya.  Apalagi kalau dibandingkan dengan APBN 2021 yang disiapkan untuk membeli vaksin impor yang sebesar Rp 25 triliun. Sangat jomplang. Kita masih senang menjadi bangsa pembeli, ketimbang menjadi bangsa pembuat,” kritiknya. 

Baca juga: DPR Harapkan Penyebab Kebakaran Kantor Kejagung Segera Diungkap

Oleh karena itu, politisi F-PKS ini menyayangkan sikap Pemerintah yang tidak fokus dalam pengembangan Iptek dan inovasi nasional, baik dari aspek kelembagaan maupun pendanaan. Ia menilai Pemerintah lebih senang pada program-program populis meskipun tidak strategis. Soal ESEMKA misalnya, sampai sekarang belum pernah terlihat wujudnya.

Padahal awalnya produk ini digadang-gadang akan menjadi mobil nasional. Tak heran jika kemudian ia mendesak Pemerintah untuk membangun ekosistem pengembangan iptek dan inovasi nasional secara lebih serius, agar pembangunan iptek terintegrasi dengan pembangunan ekonomi.

“Bikin pesawat itu susah. Tapi nyatanya kita mampu dan bisa. Sudah banyak tenaga-tenaga ahli yang kita miliki. Jadi soalnya bukan pada kemampuan SDM secara teknologis. N-250 Gatot Kaca, kita buat sendiri dan bisa terbang. Persoalan utamanya terletak pada ekosistem inovasi kita yang belum terintegrasi dan utuh dari hulu ke hilir, dari ide, invensi, inovasi, sampai produk unggul yang diserap pasar secara bekelanjutan. Ekosistem pembangunan inovasi ini sangat penting, agar iptek yang dikembangkan di dalamnya tumbuh subur dan berbuah bagi kemanfaatan ekonomi, sosial kemasyarakatan dan hankam,” pungkasnya.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: