Pantau Flash
Sean Connery, Pemeran James Bond Meninggal di Usia 90
Milenial Jangan Dimanja Tuai Pro dan Kontra, Megawati Santai
Jakarta sebagai Kota Terbaik Dunia dalam STA 2021, Anies: Alhamdulillah
Presiden Jokowi Kecam Pernyataan Emmanuel Macron yang Hina Islam
1 Tahun Pengabdian, Mendes PDTT Peroleh Penghargaan IPB

Risma Tegaskan Surabaya Hentikan Penggunaan Hotel untuk Isolasi Mandiri

Risma Tegaskan Surabaya Hentikan Penggunaan Hotel untuk Isolasi Mandiri Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyapa warga yang antre untuk menjalani pemeriksaan menggunakan alat tes diagnostik. (Foto: Antara/Didik Suhartono)

Pantau.com - Pemerintah Kota Surabaya menghentikan penggunaan empat hotel untuk isolasi pasien terkonfirmasi positif COVID-19 menyusul saat ini tidak ada pasien yang dirawat karena banyak yang sudah sembuh.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, biasanya sampai empat hotel di Surabaya yang digunakan sebagai tempat isolasi pasien.

"Tapi kemarin, hanya tinggal empat pasien yang masih menjalani perawatan isolasi di hotel. Empat orang itu kita percepat hasil swab-nya agar bisa keluar sehingga hotel saat ini kosong sudah dua hari ini kita tidak manfaatkan," ujarnya, Jumat (18/9/2020).

Sementara di Asrama Haji, kata dia, dari sekitar 101 pasien yang sedang menjalani perawatan, ada sekitar 75 orang dinyatakan sembuh dan boleh pulang. Namun, apabila Asrama Haji tak lagi menerima pasien, maka pemkot juga akan menghentikan isolasi di tempat tersebut. "Karena kemungkinan yang 25 itu kita dorong untuk bisa keluar secepatnya," katanya.

Baca juga: Kronologi Arief Budiman Dinyatakan Positif COVID-19, Jarak Sehari Rapid Tes

Bahkan, Risma menyebut Pemkot Surabaya akan terus berupaya mempercepat pemeriksaan swab kepada pasien yang menjalani isolasi mandiri di rumah. Artinya, pasien itu sebelumnya melakukan isolasi mandiri di rumah akan didorong untuk menjalani perawatan di Asrama Haji.

"Jadi kita masih dorong warga-warga itu untuk masuk Asrama Haji, tapi kalau mereka tidak mau ya kita akan tutup Asrama Haji, karena posisinya pasien yang mau (menjalani isolasi) di situ sudah habis," katanya.

Meski demikian, Wali Kota Risma berharap kepada seluruh masyarakat agar tetap disiplin menjaga protokol kesehatan. Sebab, kalau masih ada penularan maka hal itu akan menjadi berat. Karenanya disiplin menjaga protokol kesehatan itu sangatlah penting dalam memutus mata rantai COVID-19.

"Artinya bahwa kita rajin cuci tangan untuk kesehatan kita, pakai masker dan jaga jarak untuk kesehatan kita itu semua bagus. Ada atau tidak ada COVID-19 ini sebetulnya perilaku yang bagus ini harus tetap kita lanjutkan," ujarnya.

Baca juga: Titah Menko Luhut kepada Doni Monardo dan 8 Gubernur

Menurutnya, saat ini tingkat kesembuhan pasien COVID-19 di Surabaya tinggi, sedangkan penularannya rendah sehingga jumlah pasien yang menjalani perawatan di hotel maupun Asrama Haji banyak yang sembuh.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya, tren kesembuhan pasien dalam satu bulan ini rata-rata per hari 80 ke atas. "Untuk menjaga tren membaik kita tidak boleh lengah, justru kita malah turun dan agak keras. Kita turun lebih sistemik dibanding kemarin-kemarinnya," katanya.

Risma menyatakan bahwa pihaknya bersama jajaran TNI dan Polri akan terus berupaya memutus mata rantai COVID-19. Untuk itu, dengan adanya penerapan sanksi denda bagi pelanggar protokol kesehatan diharapkan efektif mendisiplinkan masyarakat.

"Kita harapkan denda-denda ini efektif dan bisa memberikan efek jera. Justru kita sekarang sering razia. Turun terus kita pantau terus daerah-daerah yang rawan," katanya.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: