Pantau Flash
Satu Tahun Pandemi di RI, Kasus Positif COVID-19 Sudah Mencapai 1.347.026
Menristek Sebut Harga Vaksin Merah Putih Sekitar Rp70 Ribuan
Proses Identifikasi Korban SJ-182 Resmi Ditutup, 3 Penumpang Belum Teridentifikasi
Jokowi Akhirnya Cabut Perpres Izin Investasi Miras
Genap Satu Tahun Pandemi, 2 Kasus Mutasi COVID-19 Inggris Ditemukan di Indonesia

Uji Klinis Fase 1 Vaksin Merah Putih Pertengahan 2021

Uji Klinis Fase 1 Vaksin Merah Putih Pertengahan 2021 Ilustrasi vaksin Merah Putih. (Pantau.com/Amin H. Al Bakki)

Pantau.com - Menteri Riset dan Teknologi Bambang PS Brodjonegoro mengatakan uji klinis fase 1 vaksin Merah Putih diperkirakan paling cepat mulai pertengahan 2021.

"Kalau melihat perkembangan dari beberapa platform vaksin Merah Putih yang relatif paling cepat di tahapan laboratorium sampai pengembangan bibit vaksin, paling cepat uji klinis tahap satu itu mungkin sesudah atau sekitar pertengahan tahun 2021 ini," katanya dalam Rapat Koordinasi Riset dan Inovasi Nasional 2021 di Serpong, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Rabu (27/1/2021).

Menristek menyatakan kendali untuk tahapan uji klinis vaksin ada di tangan pabrik vaksin karena Kementerian Riset dan Teknologi hanya bertugas memastikan bibit vaksin Merah putih sampai kepada PT Bio farma atau pabrik vaksin.

Baca juga: COVID-19 RI Tembus 1 Juta, Pemerintah Siapkan Opsi Karantina Wilayah Terbatas

"Sesudah itu kendali memang ada di pabriknya, di Bio Farmanya karena mereka pertama harus tentunya melakukan purifikasi melakukan scalling up dari bibit vaksin tersebut," tutur Menteri Bambang.

Ia mengatakan, pihak pabrik vaksin juga melakukan uji praklinis vaksin yang dibutuhkan. Setelah itu, mereka melakukan uji klinis, dan tentunya ada persyaratan yang harus dipenuhi untuk melakukan uji klinis seperti dari ethical clearance, pemilihan sukarelawan sampai izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk uji klinis. "Jadi memang kendali waktu setelah kami menyerahkan bibit vaksin katakan sekitar bulan Maret 2021 itu akan lebih banyak di sisi manufacturing," katanya.

Menristek berharap pada Maret 2021, bibit vaksin Merah Putih diserahkan kepada PT Bio Farma, untuk kemudian dapat diproses selanjutnya hingga uji klinis. "Harapan kita semua agar Vaksin Merah-Putih dapat digunakan dalam vaksinasi pada tahun 2022," katanya.

Menristek menyatakan dari enam institusi yang melakukan pengembangan vaksin Merah Putih, ada tiga yang kemungkinan bisa segera menyelesaikan bibit vaksin untuk diserahkan kepada pabrik vaksin PT Bio Farma, yaitu dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Universitas Indonesia dan Universitas Airlangga.

Baca juga: Fadjroel: Vaksinasi Kedua Bergulir di Seluruh Indonesia

Untuk memroduksi vaksin, Kemenristek juga akan mengajak perusahaan-perusahaan swasta untuk menambah kapasitas produksi dari PT Bio Farma yang saat ini memiliki kapasitas 250 juta dosis pada 2021.

Menristek juga mendorong perusahaan-perusahaan swasta yang berinvestasi dalam produksi vaksin untuk mengembangkan produksi vaksin dengan platform berbeda selain yang dikerjakan PT Bio Farma.

PT Bio Farma saat ini baru baru fokus di dua platform vaksin yakni vaksin terinaktivasi (inactivated vaccine) dan sub unit ptotein rekombinan. Untuk vaksin DNA dan mRNA dan platform lain tentunya membutuhkan investasi baru yang diharapkan bisa dikerjakan oleh pihak swasta.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Noor Pratiwi
Penulis
Noor Pratiwi

Berita Terkait: