Pantau Flash
Update COVID-19 2 April: 1.790 Positif, 112 Sembuh, 170 Meninggal
Total Pasien Positif COVID-19 di RS Darurat Wisma Atlet Jadi 125
Seorang Warga Ciomas Positif, Total Pasien COVID-19 Kab Bogor Jadi 14 Orang
Rapid Test di Stadion GBLA Bandung Batal Setelah Ditolak Warga Setempat
Investor Menjauh, Rupiah Melemah 16.528 per Dolar AS

Keinginanmu Harus 0 Persen untuk Lawan Virus Korona

Keinginanmu Harus 0 Persen untuk Lawan Virus Korona Ilustrasi virus Korona. (Pixabay)

Pantau.com - Pandemi virus korona yang mengubah kehidupan sebagian besar masyarakat di Indonesia turut berdampak pada kondisi ekonomi. Ada orang-orang yang masih mendapatkan gaji dengan besaran normal di tengah krisis, tapi ada pula yang pemasukannya berkurang drastis karena pekerjaan tertunda akibat pembatasan sosial yang membuat pola hidup akhir-akhir ini berubah.

Perencana keuangan Prita Hapsari Ghozie dalam video live di Instagram bersama psikolog Analisa Widyaningrum, Selasa 24 Maret 2020, memberikan kiat-kiat mengatur keuangan di tengah pandemi COVID-19.

Menurut Prita, pandemi COVID-19 berdampak besar bagi mereka yang penghasilannya terhalang akibat pembatasan sosial, misalnya dokter yang mengandalkan pemasukan dari praktik atau pemilik restoran yang sepi pengunjung karena orang berdiam diri di rumah. Hal penting yang harus dilakukan adalah mengevaluasi penghasilan yang didapat selama wabah virus korona masih tersebar. Catatlah besaran penghasilan yang didapat secara rapi.

Baca juga: Anak Marissa Nasution Sempat Demam dan Batuk-batuk, tapi Ternyata...

Pekerja lepas bisa mengevaluasi aset yang mereka punya dalam bentuk uang hingga perhiasan emas. Hitung juga pemasukan dari proyek-proyek yang sudah dikerjakan. Kemudian, buat hitung pengeluaran apa saja selama tiga bulan ke depan. "Ada pengeluaran wajib, ada pengeluaran kebutuhan," kata Prita.

Pengeluaran wajib yang dia maksudkan adalah cicilan, uang sekolah anak hingga gaji untuk asisten rumah tangga. Sementara pengeluaran kebutuhan bisa disesuaikan dengan kondisi, seperti uang untuk makan. Dalam situasi sulit, setiap orang bisa menyesuaikan menu agar pengeluaran lebih irit.

Yang patut diingat adalah mengetahui mana prioritas. Aturlah pengeluaran sesuai dengan kesanggupan. Jangan berfoya-foya saat pemasukan terbatas.

"Selama tiga bulan, yang sifatnya keinginan tunda dulu karena kita tidak punya kemewahan untuk membeli keinginan. Fokusnya kewajiban dan kebutuhan," ia menegaskan.

Jika besaran pengeluaran lebih besar dari penghasilan, selisihnya bisa diatasi dari tabungan atau dana darurat. "Kalau tidak yakin bagaimana penghasilan kita, mau tidak mau harus ada penyesuaian gaya hidup," ujar dia.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: