Forgot Password Register

Berenang Jadi Cara Anak Palestina Korban Perang Sembuhkan Traumanya

Penduduk Palestina di Gaza. (Foto: Reuters/Ibraheem Abu Mustafa) Penduduk Palestina di Gaza. (Foto: Reuters/Ibraheem Abu Mustafa)

Pantau.com - Anak perempuan Palestina dari jalur Gaza bernama Fatima Abu Shadak, berkesempatan untuk mengembangkan kemampuan berenangnya. Pasalnya, berenang menjadi salah satu terapi untuk anak korban serangan Israel di jalur Gaza sejak 2014.

Fatima (13) mengalami trauma akibat meninggalnya sang ayah, yang tewas akibat rudal Israel yang mendarat di dekat rumah. Bergabungnya Fatima ke terapi itu merupakan titik balik bagi dirinya. Fatima bergabung dengan tim renang khusus perempuan.

Seperti dilansir Antara, Kamis (11/10/2018), sejak awal tahun dibentuk tim khusus putri, mereka telah diajari dasar-dasar berenang dan keterampilan yang diperlukan.

Baca juga: Kerap Dibombardir Israel, Warga Palestina di Gaza Alami Krisis Kesehatan Mental

Fatima ikut dalam tim putri yang berusia sekitar sembilan hingga 15 tahun dan memenuhi syarat untuk bertanding di dalam kompetensi renang lokal.

"Keterlibatan saya di dalam tim memungkinkan saya belajar dan menjadi perenang profesional. Ini meningkatkan keyakinan dan moral saya," katanya.

Fatima menambahkan ia memiliki keinginan dan tekad untuk berusaha mewujudkan impiannya mewakili Palestina di Olimpiade Tokyo pada 2020.

"Saya juga ingin menjadi penjaga pantai pada masa depan," kata Fatima sambil tersenyum.

Tim putri tersebut dibentuk di bawah asuhan pelatih Amjad Tantish, yang mengelola satu pusat kebudayaan buat anak-anak yang memusatkan perhatian pada anak-anak dan pemuda yang menjadi korban serangan Israel.

Baca juga: Palestina Minta Jerman Tekan Israel Soal Penghancuran Desa Khan-al Ahmar

"Gagasan saya ialah menggunakan berenang sebagai sarana meredakan tekanan kejiwaan yang diderita anak-anak dan pemuda, sebab berenang memiliki banyak manfaat fisik dan moral," kata Tanish.

Ia menjelaskan bahwa tim itu saat ini terdiri atas 15 anak perempuan yang telah memperlihatkan kemajuan besar dalam keterampilan berenang mereka. Ia menyampaikan harapan bahwa tim tersebut akan memiliki kesempatan untuk ikut dalam pertandingan luar ruangan.

Anggota tim renang semuanya berasal dari kota kecil Beit Lahiya di bagian utara Jalur Gaza, bertemu tiga kali sepekan selama dua jam setiap kali pertemuan. Tim tersebut telah didukung oleh satu lembaga Jerman yang membantu biaya operasionalnya.

Tapi tim itu masih memerlukan banyak dukungan.

"Kami menderita kekurangan peralatan, kekurangan kolam renang ukuran Olimpiade di Jalur Gaza atau kolam air panas," kata Hassan Moussa, perenang terkenal Palestina yang melatih tim itu.

Baca juga: Israel akan Akui Otonomi Palestina dengan Satu Syarat Mutlak

Share :
Komentar :

Terkait

Read More