Pantau Flash
Firli Bahuri: Pencegahan Korupsi Tak Bisa Dilakukan KPK Sendiri
Ismed Sofyan Terbang ke Spanyol Perdalam Ilmu Kepelatihan
Pengamat: Omnibus Law Jadi Upaya Membangun Ekosistem Mendukung Investasi
Kawanan Monyet Serang Rumah dan Lawan Warga di Kuningan Jabar
Yasonna Laoly Minta Maaf Terkait Pidatonya Tentang Warga Tanjung Priok

Deretan Blok Migas yang Akhirnya Kembali ke Pangkuan Tanah Air

Headline
Deretan Blok Migas yang Akhirnya Kembali ke Pangkuan Tanah Air Menteri ESDM Ignasiun Jonan dan Wakilnya Arcandra Tahar (Foto: Kementerian ESDM)

Pantau.com - Optimis! kata itu mungkin paling tepat menggambarkan kondisi minyak dan gas Tanah Air saat ini. Jika sebelumya banyak yang tak percaya bahwa anak bangsa bisa mengelola blok migas sendiri, kali ini mereka berupaya membuktikan.

Dua tahun silam, tepat di Hari Pertambangan dan Energi 28 September 2017, Menteri ESDM, Ignasius Jonan dan Wakilnya Arcandra Tahar mengumumkan pengelolaan Blok Mahakam yang sebelumnya dikelola hampir 50 tahun oleh Total E&P Indonesia.

Blok Mahakam, yang saat itu merupakan blok penghasil gas bumi terbesar di Indonesia, akhirnya dialihkelolakan ke PT Pertamina (Persero).  

BUMN tersebut akan mengelola mayoritas saham Blok Mahakam, dengan minimal 10 persen kepemilikan Pemerintah Daerah sesuai dengan aturan yang ada. Sepenggal cerita yang mengawali milestone kebijakan Pemerintah untuk mengalihkelolakan blok migas kepada anak negeri.

Baca juga: Harga Batubara dan Gas Turun, Jonan Pastikan Tak Ada Kenaikan Tarif Listrik

Setahun setelah itu, Pemerintah kembali mempercayakan blok minyak terbesar Indonesia, Blok Rokan untuk dialihkelolakan kepada Pertamina pada tahun 2021 nanti. Tentu melalui pertimbangan bisnis. Sebuah kisah serupa, setelah hampir 50 tahun dikelola PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI). Saat ini Blok Rokan menyumbang 26 persen dari total produksi nasional. Dengan tambahan ini kontribusi Pertamina dalam produksi minyak nasional nantinya akan menjadi 60 persen dari yang saat ini sekitar 40 persen.

Komitmen tersebut menunjukkan keseriusan Pemerintah menjadikan Pertamina tuan rumah di negeri sendiri. Sebagai BUMN, Pertamina diharapkan menjadi semakin besar dan berdaya saing sehingga mampu berkompetisi secara global, selain tetap optimal dalam melaksanakan fungsi pelayanan menyediakan energi secara merata di tanah air.

"Komitmen Pemerintah akan menjadikan operator dalam negeri sebagai tuan rumah dalam produksi hulu migas," tegas Jonan.

Bahkan mimpi besar diharapkan  Arcandra kepada Pertamina untuk menjadikan perusahaan kelas dunia (world class oil company) yang dapat menjalankan fungsinya sebagai BUMN dan tugas negara sebagai perpanjangan tangan Pemerintah untuk kebijakan-kebijakan yang bernilai startegis serta berdampak langsung ke masyarakat.

"Pemerintah ingin Pertamina menjadi National Oil Company kelas dunia yang dapat berdiri di atas kaki sendiri, itu visi kita," cetus Arcandra.

Baca juga: Menteri Jonan Akui Sudah Kagumi BJ Habibie Sejak Duduk di Bangku Sekolah

Sebelum Mahakam, pada November 2013, Pertamina juga memperoleh persetujuan pengelolaan lanjut Blok Siak Aceh, yang sebelumnya dikelola oleh PT Chevron Siak Inc. melalui Operator PT Chevron Pacific Indonesia. Selanjutnya, Pertamina memperoleh 6 (enam) Blok migas terminasi yaitu Sanga - Sanga, East Kalimantan dan Attaka, Southeast Sumatera, Tuban, Ogan Komering dan NSO (North Sumatera Offshore) di awal 2018.

Selang setahun kemudian, pada Februari 2019, 2 (dua) blok migas yaitu Jambi Merang dan Raja/Pendopo juga diambil alih Pertamina. Terakhir, pada 2026, Pemerintah juga mempercayakan Pertamina sebagai operator Blok Corridor, blok gas terbesar kedua di Indonesia, yang sebelumnya dioperatori oleh ConoccoPhilips (Grissik) Ltd, setelah 3 tahun masa transisi pasca kontrak berakhir di 2023.

"Ini suatu lompatan yang besar karena dalam dua tahun terakhir ini kita dapat WK terminasi yang mampu menggandakan produksi Pertamina dalam dua-tiga tahun ke depan," ujar Nicke Widyawati Direktur Utama PT. Pertamina pada berbagai kesempatan.

Baca juga: 2 Perusahaan Tambang Batubara Gulung Tikar, Bukan di Indonesia

Tanggung jawab besar ada di pundak Pertamina, beberapa catatan pekerjaan rumah pun mesti dilakukan oleh Pertamina agar bisa mempertahankan bahkan sanggup meningkatkan produksi migas dari blok yang dikelolanya.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto optimis, anak bangsa bisa bersaing mengelola blok migas nasional apabila siap dengan hal berikut. Pertama, kemampuan teknis yang ditunjang oleh sumber daya manusia yang kompeten. Kedua, dukungan finansial, mengingat perencanaan hanya akan terdeliver baik apabila bisa direalisasikan. Terakhir, kemampuan teknis dan finansial ini perlu didukung penguasaan teknologi. Dengan penguasaan teknologi kegiatan operasional pun akan semakin efisien.

Tim Pantau
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: