Pantau Flash
Gibran ke DPD PDIP 12 Desember Mendatang Bawa Pasukan 302 Orang
Bahas Petrokimia, Pimpinan Pertamina Temui Jokowi di Istana Negara
Rusia Dilarang Ikut Olimpiade Buntut Skandal Doping
Kemenhub Klaim Tol Jakarta-Cikampek Jadi Lintasan Favorit Selama Mudik
Catat! Siswa Magang Berhak Dapat Jaminan Sosial Ketenagakerjaan

2 Perusahaan Tambang Batubara Gulung Tikar, Bukan di Indonesia

2 Perusahaan Tambang Batubara Gulung Tikar, Bukan di Indonesia Truck yang disebut 'Autonomous Haulage' di Australia semakin banyak terlihat di sektor pertambangan. (Foto: Christian Sprogoe Photography/Rio Tinto)

Pantau.com - Sejak Revolusi Industri, batubara telah mendorong kemajuan. Meskipun pemanfaatan batubara sedang meningkat di Asia, tetapi di Amerika dan sebagian besar Eropa justru menurun ketika sumber daya yang lebih murah itu dan keprihatinan akan iklim membuat batubara kurang diminati lagi.

Sementara anjloknya permintaan batubara menghantam kota-kota produsen batubara di wilayah Appalachian di bagian timur Amerika, negara bagian Wyoming di bagian barat tetap menjadi produsen batubara terkemuka. Namun kini masalah juga mulai merebak di Wyoming.

Baca juga: Jutaan Pekerja Bisa Terdampak Otomatisasi Pertambangan

Tambang batubara yang sangat besar di Powder River Basin di Wyoming mengirim sebagian batubara berharga murah ke sejumlah pembangkit listrik yang ada di negara bagian Georgia hingga ke Oregon. Tapi tahun ini dua perusahaan batubara di Wyoming bangkrut.

Dilansir VOA, Mellisa Peterson Worden, staf “Blackjewel” mengatakan, “Gerbang-gerbang di tambang ditutup. Perusahaan mem-PHK semua orang. Ini benar-benar saat yang sangat yang mengguncang karena hal ini merupakan sesuatu yang menurut mereka tidak akan pernah terjadi.”

Melissa Peterson Worden bekerja di “Blackjewel,” satu dari dua perusahaan batubara yang bangkrut. Kebangkrutan “Blackjewel” telah membuat hidup Melissa dan 600 orang lainnya porak poranda.

Baca juga: Bahayakah Tailing? Pasir Sisa Tambang Freeport Indonesia

Mantan pekerja tambang di “Blackjewel,” Rory Wallet, mengatakan hingga saat ini, bekerja di tambang merupakan pekerjaan yang baik, dengan upah dan tunjangan yang baik pula.

“Ini merupakan cara yang bagus untuk mencari nafkah. Untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Saya punya empat anak jadi pekerjaan ini merupakan cara yang baik untuk membuat mereka punya asuransi dan menghidupi mereka, membuat tersedianya sandang, pangan dan papan,” ujar Rory.

Louise Carter-King, Walikota Gillette di Wyoming di mana terdapat tambang “Blackjewel” dan beberapa tambang lainnya mengatakan kota itu harus menemukan industri baru, dan ia sangat berharap pada “Pusat Uji Terintegrasi” yang ada di dekat kota itu. Tahun depan para pesaing dari Carbon XPRIZE akan meneliti limbah pembangkit listrik itu dan mengupayakan cara untuk menghasilkan produk yang bermanfaat dari karbon dioksida pabrik.

Banyak ilmuwan menilai upaya mengatasi karbon merupakan hal penting untuk mengatasi perubahan iklim. Tetapi pencapaian itu masih membutuhkan waktu bertahun-tahun. Sementara penduduk kota Gillette yakin batubara tidak akan bertahan untuk selamanya.


Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: