Pantau Flash
Catat! Ada Denda Rp300 Ribu Jika Anda ‘Ngasal’ Kendarai GrabWheels
LAN: 37 Persen ASN Punya Latar Belakang Pendidikan Tak Sesuai Kompetensi
Saddil Ramdani Pamit dari Pahang FA
Chandra Hamzah Akan Pimpin BUMN Sektor Perbankan
Defisit APBN Melebar Mencapai 1,80 Persen di Oktober 2019

Jejak Kontroversi BJ Habibie: Setujui Referendum Timor Timur

Headline
Jejak Kontroversi BJ Habibie: Setujui Referendum Timor Timur BJ Habibie. (Foto: via ABC News)

Pantau.com - Presiden ketiga Republik Indonesia BJ Habibie meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta, Rabu 11 September 2019 kemarin pukul 18.05 WIB.

Suami almarhum Hasri Ainun Besari tersebut wafat pada usia 83 tahun dengan meninggalkan dua anak yaitu Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie.

Bicara soal sosok Habibie, tentu penuh dengan kebanggaan yang selalu akan dikenang oleh bangsa ini. Bagaimana ia menciptakan teknologi untuk mengembangkan dan menciptakan pesawat.

Namun, ada salah satu kebijakan kontroversial pada masa pemerintahannya. Adalah lepasnya provinsi termuda Indonesia, Timor-Timur, dan menjadi negara merdeka Timor Leste.

Baca juga: SBY Cerita Kedekatan dengan Habibie Setelah Ainun dan Ani Wafat

Menyikapi situasi keamanan yang terus bergolak di bumi Timor Lorosae pada 1999, Presiden BJ Habibie menerima salah satu solusi yang ditawarkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ketika itu untuk menggelar referendum.

Warga Timor-Timur diberikan kebebasan untuk memilih menerima integrasi Timor-Timur menjadi bagian dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) atau merdeka.

"Setelah 22 tahun kita mengalami sejarah kebersamaan dengan rakyat TimTim, ternyata tetap tidak cukup untuk menyatu dengan kita, maka kiranya adalah wajar dan bijaksana. Bahkan demokratis dan konstitusional, bila wakil-wakil rakyat yang kelak akan terpilih di MPR, diusulkan untuk mempertimbangkan, agar dapat kiranya Timor-Timur secara terhormat, secara baik-baik berpisah dengan Negara Kesatuan RI," kata Habibie ketika itu.

Kebijakannya ini menuai banyak kecaman dan penolakan dari dalam negeri. Habibie menyetujui pelaksanaan referendum bagi warga Timor Timur. Jajak pendapat digelar pada 29 Agustus 2019 dan dimenangkan oleh opsi merdeka dari Indonesia. 

Dalam buku berjudul Detik-Detik yang Menentukan, Habibie mengatakan jika tidak diselesaikan, persoalan Hak Asasi Manusia (HAM) di Timor-Timur hanya akan menjadi masalah yang pelik yang akan menghantui Indonesia.

"Keputusan saya untuk menyelesaikan persoalan agar rakyat TimTim benar-benar dapat menikmati nilai-nilai HAM bersama seluruh rakyat Indonesia, tanpa menerapkan 'tolok ukur ganda', dalam menentukan nasib dan masa depan demi kepentingan seluruh bangsa Indonesia termasuk rakyat TimTim," tegasnya ketika itu.

Jajak pendapat pada 30 Agustus 1999 yang turut difasilitasi oleh Australia berakhir dengan sebanyak 78,5 persen masyarakat Timor-Timur memilih merdeka dan berpisah dari Indonesia. Habibie mengajak masyarakat Indonesia menghormati keputusan itu.

Baca juga: Kenang Habibie dari Baju Tradisional Melayu Berwarna Kuning

Keberanian Habibie dalam menyelesaikan konflik HAM di Timor Leste ini membuatnya sangat dihormati di negara baru tersebut.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap jasanya, nama B.J.Habibie diabadikan menjadi nama sebuah jembatan baru di Desa Bidau Sant'ana, Dili, yang diresmikan menjelang peringatan ke-20 tahun Hari Pelaksanaan Jajak Pendapat di Dili, 29 Agustus 2019 lalu.

Dalam suatu forum di Jakarta pada 2015, Presiden Timor Leste, Xanana Gusmao, mengapresiasi keberanian B.J. Habibie. "Tanpa keberanian dari Pak Habibie mungkin sekarang saya hanya akan menjadi penjual es batu di Tebet," kata Xanana sambil tertawa.

"Apa yang saya bikin hanya half of process, another half is Indonesian," ujar Xanana.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta
Category
Nasional

Berita Terkait: