
Pantau - Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) bersama Fakultas Pertanian Universitas Lampung berkolaborasi memperkuat pengembangan Multiusaha Kehutanan di Provinsi Lampung guna meningkatkan nilai tambah kawasan hutan serta kontribusi sektor kehutanan terhadap perekonomian nasional.
Ketua Umum APHI Soewarso menyatakan kolaborasi lintas pihak penting agar pengembangan Multiusaha Kehutanan tidak hanya berjalan pada skala proyek.
Ia menilai pengembangan tersebut perlu diarahkan menjadi model usaha kehutanan skala industri yang mampu memberikan dampak ekonomi luas bagi masyarakat dan daerah.
Ia mengatakan, "Pengembangan multiusaha kehutanan harus dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk akademisi, sehingga dapat terwujud model MUK skala industri yang mampu memberikan multiplier effect bagi perekonomian nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah kawasan hutan."
Soewarso sebelumnya menggelar pertemuan dengan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung Kuswanta Futas Hidayat untuk membahas peluang kerja sama pengembangan riset.
Pertemuan tersebut juga membahas penyusunan model pengelolaan berbasis kondisi tapak serta pengembangan demplot atau pilot project Multiusaha Kehutanan di lanskap Lampung.
Lampung dinilai memiliki potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang memadai untuk mendukung pengembangan program tersebut.
Menurut Soewarso, praktik Multiusaha Kehutanan di Lampung secara faktual telah berjalan di sejumlah wilayah kawasan hutan dengan berbagai objek usaha kehutanan.
Pengalaman tersebut dinilai menjadi modal penting untuk mengembangkan model Multiusaha Kehutanan yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.
Lampung juga memiliki sejumlah keunggulan seperti kondisi sumber daya alam yang relatif datar dan subur serta infrastruktur dan aksesibilitas kawasan yang cukup memadai.
Selain itu, sumber daya manusia di Lampung dinilai telah memiliki pengalaman dalam pengelolaan komoditas kehutanan dan pertanian.
Pengembangan Multiusaha Kehutanan juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah setempat.
Program tersebut diarahkan pada penguatan tata kelola usaha menuju prinsip pengelolaan hutan lestari serta penguatan rantai pasok dari hulu hingga hilir dan pasar.
Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan kuantitas, kualitas, serta kontinuitas faktor produksi.
Soewarso menegaskan sinergi antara dunia usaha, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pengembangan Multiusaha Kehutanan.
Ia juga menilai pengembangan demplot atau pilot project penting sebagai basis riset dan pembelajaran bersama dalam menyusun rencana pengembangan usaha kehutanan berbasis komoditas unggulan di Lampung.
Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung Kuswanta Futas Hidayat mengatakan Lampung memiliki sejumlah komoditas unggulan seperti kopi, cokelat, kemiri, dan pala yang potensinya besar untuk dikembangkan.
Ia menyebut pengembangan pilot project Multiusaha Kehutanan dapat dilakukan di beberapa lokasi potensial seperti kawasan Taman Hutan Raya serta wilayah pengembangan Integrated Area Development.
Lampung juga memiliki potensi besar pada sektor hasil hutan bukan kayu dengan komoditas utama berupa kopi yang sebagian besar produksinya berasal dari kawasan hutan.
Ia mengatakan, "Kami mencatat sekitar 60 persen produksi HHBK Lampung berupa kopi berasal dari kawasan hutan, dan potensinya masih sangat besar untuk terus dikembangkan melalui pendekatan pengelolaan yang berkelanjutan."
Kuswanta menambahkan Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Lampung memiliki bidang kajian seperti Social Forestry serta Science and Technology Forestry yang relevan untuk mendukung penguatan tata kelola usaha kehutanan berbasis masyarakat.
Pendekatan tersebut dinilai dapat menjadi instrumen penting dalam mendorong penyelesaian konflik tenurial serta menciptakan model pengelolaan kawasan hutan yang lebih inklusif dan kolaboratif.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Tria Dianti







