Forgot Password Register

Headlines

Kesaksian Perempuan Uighur Usai Bebas dari Kamp Pelatihan Paksa di Xianjiang

Kesaksian Perempuan Uighur Usai Bebas dari Kamp Pelatihan Paksa di Xianjiang China mengatakan kamp 're-pendidikan' menyediakan pelatihan kejuruan. (Foto: Reuters/Thomas Peter)

Pantau.com - Seorang wanita Uighur menggambarkan kondisi yang dialaminya di salah satu kamp pendidikan ulang China di ujung barat Provinsi Xinjiang, China yang Ia samakan dengan penyiksaan.

Berdasarkan data yang dirilis PBB diperkirakan lebih dari satu juta etnis minoritas Muslim Uighur telah ditahan tanpa persetujuan mereka di pusat penahanan tidak resmi di Xinjiang.

Pemerintah China mengatakan kamp-kamp tersebut adalah pusat pelatihan kejuruan yang menyediakan pelatihan bahasa dan pendidikan ulang bagi para ekstremis. Tetapi laporan dari dalam pusat menceritakan kisah yang sangat berbeda.

Melansir ABC News, Rabu (9/1/2019), Gulbahar Jelilova, seorang perempuan Uighur yang mengaku telah menghabiskan waktu selama 15 bulan di dalam salah satu kamp menuturkan catatan langka tentang kondisi tersebut.

"Kami ditahan di kamar gelap dengan tikus-tikus. Kadang-kadang mereka mengikat logam seberat lima kilogram di kaki kami sebagai cara hukuman," katanya kepada PM ABC.

Ia menambahkan jika mereka ingin menghukum lebih berat, mereka akan memborgol orang-orang Uighur dan dipaksa untuk melihat tembok sekitar 17 jam.

Gulbahar Jelilova, yang berasal dari Kazakhstan, telah menghabiskan dua dekade terakhir melakukan bisnis di perbatasan China-Kazakhstani. Ia mengatakan pada Mei 2017, dirinya ditangkap di Kota Urumqi di China dengan tuduhan mentransfer dana secara illegal sebesar 17.000 yuan atau USD3.500 dari China dan Turki.

Baca juga: Pantau Sorot: Muslim Uighur 'Ditinggal', Bagaimana Suara Indonesia?

"Ketika saya berada di kamp, saya memberi tahu mereka bahwa saya adalah orang asing dan saya tidak melakukan kesalahan," katanya.

"Kami diberitahu bahwa kami tidak memiliki hak di sana. Kami tidak memiliki hak untuk melakukan panggilan telepon di luar, kami seperti orang mati," jelasnya.

Kebanyakan orang Uighur yang telah berada di dalam kamp tidak akan berbicara tentang pengalaman mereka karena takut anggota keluarga lainnya akan ditahan sebagai aksi pembalasan.

Terlepas dari kekhawatiran Gulbahar Jelilova bahwa polisi di China mengawasinya di Turki di mana dia menetap saat ini, dia mengaku merasa terdorong untuk berbicara mewakili perempuan muda lainnya yang saat ini masih berada di dalam tahanan.

"Saya tidak bisa makan dengan nyaman ketika memikirkan orang-orang itu. Dalam keadaan seperti itu bagaimana saya bisa diam?," ucapnya.

Baca juga: Terkait Isu Muslim Uighur, Gubernur Xianjiang Buka Akses Internasional

Gulbahar Jelilova juga menguraikan bagaimana para wanita dipaksa untuk minum obat yang tidak diketahui saat berada di pusat.

"Ketika saya berada di kamp, mereka biasa memberi kami suntikan, mengambil sampel darah, memberi obat yang tidak kami ketahui," katanya.

"Jika kami bertanya obat apa itu, mereka akan dihukum karena mengajukan pertanyaan dan tidak ada perempuan yang mengalami menstruasi bulanan karena mereka memberi kita obat khusus yang menghentikan menstruasi," ungkapnya.

Pernyataan Gulbahar Jelilova itu bertentangan dengan klaim Pemerintah China, tetapi sesuai dengan kelompok advokasi masyarakat Uighur dan hak asasi manusia lainnya.

Dia mengaku selama berada di dalam kamp dirinya kerap dipukuli dan ketika pertama kali masuk dia memiliki berat 76 kilogram tetapi dalam sebulan ia kehilangan berat badan lebih dari 20 kilogram.

"Tujuan akhir dari kamp-kamp konsentrasi itu adalah untuk menghilangkan orang-orang Uighur, kaum Muslim," katanya.

Jelilova mengatakan dia dikeluarkan dari kamp setelah upaya lobi yang berkelanjutan oleh keluarganya.

"Saya dibebaskan dari kamp konsentrasi tiga bulan lalu, tetapi setiap hari situasi di kamp konsentrasi masih terbayang-bayang di pelupuk mata saya. Tangisan rakyat Uyghur masih terngiang di telinga saya," katanya.

ABC berulang kali meminta komentar dari pejabat Tiongkok tetapi tidak mendapat tanggapan. China mengatakan Provinsi Xinjiang menghadapi ancaman serius dari militan dan separatis Islamis yang merencanakan serangan dan meningkatkan ketegangan antara minoritas Muslim Uighur yang mayoritas beragama Islam dan etnis China Han yang menjadi kelompok mayoritas.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More