Forgot Password Register

Mengintip Sejarah Karakteristik dan Budaya Suku Tengger Bromo

Ilustrasi Gunung Bromo. (Foto: Pixabay) Ilustrasi Gunung Bromo. (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Siapa yang tidak tahu Gunung Bromo? Gunung yang menjadi primadona di Jawa Timur hingga saat ini masih dijaga adat dan budayanya oleh Suku Tengger.

Suku yang merupakan keturunan dari Kerajaan Majapahit ini umunya beragama Hindu. Seiring dengan berkembangnya zaman saat ini tidak mempengaruhi adat istiadat yang tetap di jaga keutuhannya oleh Suku Tengger.

Baca juga: Hanya Ada Dua di Dunia! Ini Fakta Unik Tentang Gunung Ijen

Suku yang mendiami kawasan Tosari-Kabupaten Pasuruan, Sukapura-Kabupaten Probolinggo, Lumajang, dan Malang mempunyai keunikan dalam adat istiadatnya. Akulturasi budaya yang rentan terjadi namun Suku Tengger masih tetap dengan karakteristiknya. Berikut adalah beberapa tradisi yang masih dipertahankan oleh Suku Tengger seperti dilansir dari berbagai sumber.

Hari Raya Karo

Hari Raya ini diselenggarakan setelah Hari Raya Nyepi. Ritual ini dipimpin oleh seorang 'Ratu'. Ratu dalam masyarakat Suku Tengger berarti orang yang memimpin doa yang biasanya adalah seorang laki-laki dalam tradisi yang dilakukan. 

Prosesi dalam Hari Raya Karo meliputi pawai hasil bumi, kesenian seperti tarian, dan silahturahmi yang bertujuan untuk pemersatu Suku Tengger.

Yadnya Kasana

Lebih dikenal dengan nama Kasodo, upacara ritual ini adalah salah satu yang ditunggu oleh wisatawan dunia. Karena upacara ini hanya dilakukan di kawasan Tengger saja.

Kasodo adalah ritual pengampunan dari Brahma. Dalam ritual ini Suku Tengger memberikan sajian atau pengorbanan ke dalam kawah Gunung Bromo. Pengorbanan ini bisa berupa makanan, uang, hewan peliharaan hingga pakaian. 

Dalam Upacara Kasada, perlengkapan sesaji yang digunakan memiliki dua unsur penting yaitu kepala bungkah dan kepala gantung. Sedangkan bagi beberapa orang yang memiliki permohonan khusus, disyaratkan untuk membawa ayam atau kambing sebagai persembahan.

Upacara Kasodo ini berhubungan dengan nama suku Tengger itu sendiri. Tengger berasal dari nama Roro Anteng dan Joko Seger. Upacara Kasada erat dengan cerita Roro Anteng dan Joko Seger yang ingin memiliki keturunan. Merekapun akhirnya memohon kepada Dewata agar bisa memiliki 25 orang anak. Permohonan mereka dikabulkan, tetapi dengan syarat anak yang ke-25 yang bernama Kusuma harus dipersembahkan untuk Dewa Brahma (Bromo).

Baca juga: Inilah 5 Destinasi Wisata yang Instagramable di Kebumen

Ketika dewasa, Kusuma, anak dari Roro Anteng dan Joko Seger menceburkan diri ke kawah Gunung Bromo dan meminta saudara-saudaranya agar pada bulan ke-10 (tahun Saka), tepat pada bulan purnama memberikan kurban ke kawah Gunung Bromo. Upacara  ini kemudian menjadi awal mula dilaksanakannya upacara Kasada.


Share :
Komentar :

Terkait

Read More