Pantau Flash
Jokowi kepada Seluruh Kementerian: Belanjakan DIPA 2020 Secepat-cepatnya
Timnas U-22 Indonesia Terancam Tanpa Pemain Senior di SEA Games 2019
YLKI Desak Anies Baswedan Atur Keberadaan Otopet Listrik
Puan: Brimob Harus Makin Galak dengan Terorisme!
Penerimaan Bea Keluar Nikel Ekspor Melonjak Akibat Larangan Ekspor

Pegiat Kesehatan: Vape Belum Tentu Lebih Berbahaya dari Rokok

Pegiat Kesehatan: Vape Belum Tentu Lebih Berbahaya dari Rokok ilustrasi (foto: pixabay)

Pantau.com - Rokok elektrik atau vape belum tentu lebih berisiko tinggi menyebabkan kematian daripada rokok biasa.

Pegiat kesehatan masyarakat Dr Ajeng Tias Endarti, SKM, M Commonhealth mengatakan dari 34 penelitian kesehatan ada yang menunjukkan vape memberi dampak risiko kematian lebih tinggi dari rokok biasa tapi ada pula yang sebaliknya.

Dari seluruh penelitian itu masih belum dapat diambil kesimpulan karena adanya konflik kepentingan dari sumber pendanaan penelitian.

"Terkait angka kematian akibat vape itu menurut saya akan sangat tergantung dari penyakit yang menyertai kasus meninggalnya pasien. Vape tidak hanya menjadi salah satu faktor kematian, namun faktor itu berkolaborasi dengan penyakit lain," ujar pegiat kesehatan di Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) ini di Jakarta, Minggu (15/9) malam.

Baca juga: Vape Bahayakan Pembuluh Darah dalam Sekali Isapan

Ajeng menyatakan, masih terlalu dini untuk mengambil kesimpulan vape sebagai salah satu faktor risiko penyebab kematian utama yang lebih besar ketimbang rokok. Karena penelitian terkait Vape baru dilakukan dalam waktu pendek.

Ia menjabarkan, hampir semua studi mulai 1950-an menyepakati rokok menjadi faktor risiko penyakit ibu dan anak, penyakit menular. Namun studi terhadap vape baru dimulai sekitar 2014 sehingga kesimpulan studi vape belum sekuat rokok.

Selain itu, Ajeng menilai vape tidak bisa serta merta membebaskan pengonsumsinya dari bahaya yang sama ditimbulkan dari asap rokok.

"Tidak ada bedanya, rokok dan vape karena menimbulkan adiksi akibat kandungan nikotin yang menjadikannya ketagihan. Pada vape pun ada logam-logam pada saat dilakukan pembakaran, menimbulkan reaksi kimia yang menyebabkan kandungan nikel dan timbal menjadi lebih tinggi," ujar dia.

Baca juga: India Akan Buat Larangan Produksi dan Impor Vape, Indonesia Kapan?

Untuk itu, Ajeng berharap ada usaha pencegahan preventif dari pemerintah untuk membentuk suatu regulasi yang memberi batasan tentang vape yang berlaku sama halnya dengan rokok biasa.

Misalnya, regulasi yang dapat membatasi jumlah kafe khusus pengonsumsi vape, jam operasional atau pengunjungnya agar tidak menimbulkan dampak buruk berkepanjangan.

Tim Pantau
Editor
Adryan Novandia
Penulis
Lilis Varwati
Category
Ragam

Berita Terkait: