Pantau Flash
Jokowi kepada Seluruh Kementerian: Belanjakan DIPA 2020 Secepat-cepatnya
Timnas U-22 Indonesia Terancam Tanpa Pemain Senior di SEA Games 2019
YLKI Desak Anies Baswedan Atur Keberadaan Otopet Listrik
Puan: Brimob Harus Makin Galak dengan Terorisme!
Penerimaan Bea Keluar Nikel Ekspor Melonjak Akibat Larangan Ekspor

Presiden Ekuador Tuding Assange Gunakan Kedubes untuk Pusat Mata-mata

Headline
Presiden Ekuador Tuding Assange Gunakan Kedubes untuk Pusat Mata-mata Pendiri WikiLeaks Julian Assange. (Foto: Reuters)

Pantau.com - Pendiri WikiLeaks Jualian Assange berulang kali melanggar aturan suaka dan mencoba menggunakan Kedutaan Ekuador di London sebagai pusat memata-matai, kata Presiden Ekuador Lenin Moreno dikutip surat kabat Britain Guardian.

Kepolisian London telah menyeret keluar Assange keluar dari Kedutaan pada pekan lalu, setelah ia tujuh tahun tinggal di Kedutaan Ekuador, untuk menghindari ekstradisi ke Amerika Serikat terkait tuduhannya yang telah membocorkan rahasia pemerintah AS.

Hubungan Assange dengan Ekuador runtuh setelah pemerintah Ekuador menuduhnya membocorkan informasi tentang kehidupan pribadi Presiden Moreno.

Baca juga: Asyik Nih! Jadi Buronan, Assange Malah nge-Skate di Kedubes Ekuador

Namun, Moreno membantah adanya keterkaitan seperti balas dendam soal bocornya informasi keluarganya dengan ditangkapnya pendiri WikiLeaks itu.

Ia mengatakan, dirinya menyesal mengetahui bahwa Assange telah menggunakan Kedutaan untuk ikut campur dalam demokrasi negara lain.

"Ekuador adalah bangsa yang berdaulat dan menghormati pilihan politik masing-masing negara," kata Moreno kepada Guardian, seperti dikutip Reuters, Selasa (16/4/2019).

Baca juga: Julian Assange: Buronan Kelas Kakap yang Akhirnya Ditangkap

"Kita tak bisa membiarkan rumah kita untuk menjadi pusat mata-mata," tambahnya.

Meski demikian, para pendukung Assange mengatakan bahwa Ekuador telah mengkhianati Assange di atas perintah dari Washington, serta menyebutkan bahwa mengakhiri suaka Assange adalah tindakan ilegal yang ditandai dengan momen gelap untuk kebebasan.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi
Category
Internasional

Berita Terkait: