Pantau Flash
Marcus/Kevin Perpanjang Rekor Buruk Jumpa Endo/Watanabe
10 Tempat Kerja Terbaik di Singapura, Google Nomor 1
Iwan Bule Sebut Penggawa Timnas U-22 Bisa Bela Tim Senior
Greys/Apri Gagal Lolos ke Semifinal BWF World Tour Finals 2019
Waskita Bantah Kabar di Medsos yang Sebut Tol Layang Japek Meliuk-liuk

Rasisme Guru Pantik Kerusuhan di Wamena?

Rasisme Guru Pantik Kerusuhan di Wamena? Kerusuhan di Wamena (Foto: Istimewa)

Pantau.com - Unjuk rasa yang berakhir dengan peristiwa pembakaran terjadi di Wamena, Papua, hari Senin (23/9/2019). Aksi ini berawal dari protes para pelajar terhadap rasisme seorang guru sekolah menengah atas (SMA) di sana kepada muridnya di kelas.

Menurut keterangan Pastor Santon Tekege di Wamena yang dilansir dari ABC News, Senin (23/9/2019), sikap rasisme guru yang disebutnya bernama Riri itu dipicu dari sesi tanya jawab di kelas. "Sewaktu mereka anak-anak dalam kelas, ibu guru mengajar dan kasih pertanyaan.

"Tapi anak-anak siswa tidak jawab pertanyaan ibu guru. Dan ibu Riri langsung bilang, monyet kamu kamu semua," ujar sang pastor melalui pesan teks.

Baca juga: Video Pantauan Udara Kerusuhan di Wamena, Asap Tebal Membumbung Tinggi

Ia mengatakan aksi rasisme itu sendiri terjadi pada 21 September 2019 namun para pelajar baru berunjuk rasa pada hari Senin 23 September 2019.

"Para siswa demo damai di kantor Bupati Jayawijaya. Mereka minta pertanggungjawaban ujaran Rasisme ibu Guru itu," sebut Pastor Santon.

Dari kantor Bupati itulah, katanya, aparat keamanan Indonesia mengeluarkan gas air mata dan menembak para pelajar di halaman kantor Bupati. Pastor Santon bahkan menyebut beberapa siswa mengalami luka tembak dari Aparat. "Makanya para pelajar bakar beberapa kantor dan kios dan ruko. Termasuk kantor bupati Jayawijaya," jelasnya.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Kepolisian Republik Indonesia (Karopenmas Polri), Brigjen Dedi Prasetyo membenarkan adanya aksi pembakaran tersebut.

Kepada wartawan ia mengatakan ada beberapa kantor dinas dan ruko yang ikut dibakar. Aparat di Wamena, ujar Dedi, hingga saat ini masih berusaha memgendalikan situasi di sana.

"Saya juga sudah menghubungi Kapolres Wamena, masih kendalikan massa bersama para tokoh-tokoh masyarakat. Semoga seger tuntas dan kembali kondusif."

Baca juga: Kapolda Papua: Kami Akan Cari Penyebar Hoax Kerusuhan Wamena

Namun ia membantah klaim penembakan oleh aparat seperti yang ditudingkan Pastor Santon.

Dedi mengatakan polisi tidak pernah menembaki pelajar dan menyebut massa pelajar sudah disusupi anggota Komite Nasional Papua Barat (KNPB), kelompok yang dibela pengacara hak asasi manusia Veronica Koman.

Polisi pun menyebut bahwa pemberitaan atau informasi mengenai adanya aksi rasisme seorang guru SMA PGRI terhadap muridnya itu berita bohong.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta
Category
Nasional

Berita Terkait: