
Pantau - Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai bahwa performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia lebih baik dibandingkan sejumlah negara lain meski dihantam gejolak pasar global.
Menurut Nafan, pasar merespons positif terhadap ketahanan atau resiliensi ekonomi Indonesia di tengah kebijakan tarif Amerika Serikat dan respons balasan dari China yang mengguncang pasar global serta mendorong alih investasi ke aset safe haven.
Meskipun IHSG per 8 April 2025 mencatat pelemahan 7,9 persen ke posisi 5.996,14 sejak pengumuman tarif Presiden AS Donald Trump pada 2 April, kinerja tersebut tetap lebih baik dibandingkan pasar saham negara lain.
Menkeu Sri Mulyani menyampaikan bahwa penurunan IHSG itu masih lebih kecil dibanding:
- Italia: -14,2%
- Argentina: -14%
- Vietnam: -13,8%
- Prancis: -11,9%
- Singapura: -11,8%
- Jerman: -11,6%
- AS: -10,7%
- Inggris: -10,5%
- Kanada: -9,7%
- Thailand: -9,1%
- Jepang: -8,2%
Strategi Pemerintah Jadi Sinyal Positif Bagi Investor
Nafan juga menjelaskan bahwa paparan ekspor Indonesia ke AS hanya sekitar 2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), yang merupakan rasio terendah di Asia Tenggara dibandingkan Thailand (11 persen) dan Malaysia (10 persen).
Produk Indonesia dikenai tarif resiprokal sebesar 32 persen oleh AS, masih lebih rendah dibandingkan negara pesaing seperti Bangladesh, Kamboja, China, Sri Lanka, dan Vietnam yang dikenai tarif antara 37 hingga 49 persen.
Kondisi ini justru membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik lebih banyak Foreign Direct Investment (FDI), apalagi jika disertai insentif dari pemerintah yang kini tengah ditunggu pelaku pasar.
Dalam acara Sarasehan Ekonomi yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto selama enam jam bersama tokoh-tokoh ekonomi nasional seperti Airlangga Hartarto, Sri Mulyani, Luhut Binsar Pandjaitan, dan Perry Warjiyo, pemerintah menyampaikan strategi komprehensif menghadapi dinamika global.
Menurut Verdhana Sekuritas, Indonesia melihat tarif resiprokal sebagai peluang strategis dan akan menempuh pendekatan konsiliatif, salah satunya melalui pengalihan impor ke sektor-sektor produk AS seperti pertanian, energi, dan teknologi.
Pemerintah juga akan memberikan insentif fiskal untuk mendukung impor dari AS, serta mempertahankan daya saing ekspor dengan menghapus hambatan seperti kuota, lisensi, dan aturan impor lainnya.
Kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) juga akan diubah dari sistem wajib menjadi kerangka kerja berbasis insentif untuk mendorong efisiensi dan daya saing industri dalam negeri.
Untuk mengurangi surplus perdagangan dengan AS, Indonesia cukup mengalihkan sebagian kecil impornya, berbeda dengan Vietnam yang harus menaikkan impor ke AS hingga 11 kali lipat atau sekitar 30 persen dari PDB mereka.
Hal ini membuka peluang besar bagi perusahaan untuk berinvestasi di Indonesia karena tarif masuk ke pasar AS yang lebih rendah.
Di sisi lain, pemerintah juga akan memberikan perlindungan pada sektor padat karya seperti tekstil, garmen, dan alas kaki dengan membentuk gugus tugas khusus untuk menekan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).
Upaya lain yang akan dilakukan meliputi eksplorasi pasar ekspor baru seperti Uni Eropa dan wilayah lain, serta reformasi menyeluruh pada sistem bea cukai, administrasi perpajakan, dan penegakan hukum untuk memberantas impor ilegal dan praktik dumping.
Verdhana Sekuritas menilai tanggapan pemerintah yang mengedepankan pendekatan damai dan reformis sangat tepat waktu dalam meredam gejolak pasar dan menjaga kepercayaan investor.
- Penulis :
- Pantau Community






