Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Realisasi Pendanaan JETP Capai Rp57,4 Triliun, Dua Proyek Baru Disepakati Indonesia-Jerman

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Realisasi Pendanaan JETP Capai Rp57,4 Triliun, Dua Proyek Baru Disepakati Indonesia-Jerman
Foto: Seremoni peresmian Green Energy Corridor Sulawesi (GECS) dan Green Bond Development Facility (GBDF) di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis 5/2/2026 (sumber: Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian)

Pantau - Realisasi pendanaan transisi energi Indonesia melalui skema Just Energy Transition Partnership (JETP) telah mencapai 3,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp57,4 triliun hingga Januari 2026.

Jumlah tersebut merupakan bagian dari total komitmen pendanaan JETP sebesar 21,8 miliar dolar AS atau setara Rp368 triliun.

Sebelumnya, komitmen JETP berada di angka 21,4 miliar dolar AS dan kemudian bertambah sebesar 400 juta dolar AS.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa realisasi ini menunjukkan adanya kemajuan konkret dari komitmen yang telah disepakati bersama mitra internasional.

"Ini mencerminkan kemajuan nyata dari kesepakatan bersama dengan para mitra," ungkapnya.

Dua Proyek Baru: GECS dan GBDF

Dalam kerangka JETP, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jerman menyepakati penambahan dua proyek baru, yakni Green Energy Corridor Sulawesi (GECS) dan Green Bond Development Facility (GBDF).

Program GECS difokuskan pada penguatan infrastruktur transmisi listrik untuk mendukung integrasi energi terbarukan dalam skala besar.

Sementara itu, GBDF bertujuan memperkuat ekosistem pembiayaan hijau dengan mengembangkan pasar green bond, social bond, dan instrumen pembiayaan berkelanjutan lainnya di Indonesia.

Airlangga menegaskan bahwa kedua program ini adalah hasil kolaborasi erat antara Indonesia dan Jerman.

"Program ini mencerminkan kemitraan strategis yang kuat dan saling percaya dalam transisi energi berkelanjutan," ia mengungkapkan.

GECS mendapatkan dukungan pembiayaan berupa pinjaman konsesional senilai 300 juta euro melalui kerja sama antara PT PLN (Persero) dan KfW Development Bank.

Airlangga menyoroti pentingnya GECS karena Sulawesi Tengah tengah berkembang sebagai pusat industri strategis.

Wilayah ini menjadi lokasi pengolahan nikel, pembangunan smelter, dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik.

Penguatan Ekosistem Pembiayaan Hijau

GBDF merupakan kemitraan berbasis hibah antara KfW Development Bank dan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero).

Fasilitas ini berperan dalam memperkuat pembiayaan hijau melalui peningkatan kualitas penerbitan, membangun kesadaran pasar, serta memperluas permintaan dan pasokan investasi berkelanjutan.

Airlangga juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Keuangan dan PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia atas penyelesaian berbagai perjanjian pendanaan.

"Kerja sama ini menunjang kredibilitas dan keberlanjutan pembiayaan JETP," katanya.

Pemerintah Indonesia turut mengapresiasi dukungan Pemerintah Jerman dan kontribusi para mitra dalam kelompok International Partners Group (IPG) yang dipimpin bersama oleh Jerman dan Jepang.

Airlangga berharap kolaborasi ini terus menghasilkan proyek-proyek nyata yang memperkuat sistem energi nasional, menarik investasi hijau, serta mendukung masa depan energi yang bersih dan berkelanjutan.

Ia menambahkan bahwa percepatan realisasi pendanaan JETP juga sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar dana tersebut dimanfaatkan secara optimal.

"Pendanaan JETP harus digunakan sebaik mungkin untuk mencapai target net zero emission paling lambat tahun 2060," tegasnya.

Penulis :
Arian Mesa